alexametrics

Katup Pelepasan bagi Bergunung-gunung Penderitaan

Oleh NEVATUHELLA
22 Mei 2022, 08:20:44 WIB

Penjual Sayap dan Istri Stalin bisa jadi bahan untuk lebih memperkenalkan sastra Amerika Latin ke Indonesia. Menancapkan pengaruh dengan bentuk tak linear, penjungkirbalikan latar waktu, serta perubahan penutur silih berganti.

PADA pertengahan abad ke-20, dimulai debut Seratus Tahun Kesunyian (1967), karya Gabriel Garcia Marquez alias Gabo. Dan sebelumnya, oleh Alejo Carpentier (1904–1980), novelis Kuba kelahiran Swiss yang wafat di Paris, lahirlah istilah lo real maravilloso yang menjadi cikal bakal sebutan realisme magis.

Berlanjut pada dekade sama, sekitar 1960–1970, imajinasi liar para sastrawan menjadi katup pelepasan bergunung-gunung penderitaan bagi penghuni bagian bumi yang bernama Amerika Latin. Penderitaan dari telapak kaki hingga ujung rambut oleh para penjajah yang silih berganti dan rezim militer yang haus darah.

Hal inilah yang diangkat dalam cerpen-cerpen begawan sastra di sana, terkumpul dalam satu buku Penjual Sayap dan Istri Stalin. Hingga kini enam sastrawan asal Amerika Latin telah memperoleh Nobel Sastra.

Sastrawan sebagai koloni yang menjadi avant-garde meneriakkan pembelaan terhadap yang lemah dan terzalimi hingga terdengar ke seluruh penjuru dunia. Lahirlah karya-karya intens yang merindingkan bulu roma dan membekukan hati nurani hingga ke titik nadir. Amerika Latin sebagai ladang pembantaian manusia dan kemanusiaan.

Tiga puluh lima cerpen dari 35 penulis Amerika Latin dalam buku ini selangkah lebih maju sebagai cetak biru perjalanan sebuah kawasan dibandingkan dengan sejarah yang banyak diokupansi oleh kepentingan politik. Masing-masing penulis yang sebagian besar lulusan universitas, bahkan ada beberapa guru besar, diwakili satu cerpen.

Jadilah Penjual Sayap dan Istri Stalin sebagai bahan untuk lebih memperkenalkan sastra Amerika Latin ke Indonesia. Tentu saja karya-karya ini sudah harum di seantero dunia lewat alih bahasa aslinya. Karya-karya dari Amerika Latin berhasil mendunia lewat upaya penerjemah berkualitas dan penerbit yang berdedikasi tinggi terhadap sastra.

”El Boom”, sebuah terma yang tertuju kepada gerakan literasi sekitar 1960 hingga 1970 oleh beberapa kelompok penulis Amerika Latin yang relatif muda, sedikit banyak dipicu ketegangan politik sebagai imbas perang dingin antara Blok Barat yang kapitalistis dan Blok Timur yang komunis. Dua ideologi ini bercokol dalam setiap kepala orang Amerika Latin yang menjadi ajang perebutan dua ideologi tersebut.

Telah kental dalam ingatan kita kemenangan Revolusi Kuba pimpinan Fidel Castro pada 1959. Gerakan revolusioner yang didukung oleh rakyat itu berhasil menggulingkan diktator Batista yang didukung Amerika Serikat.

Cerpen ”Bentuk Pedang” Borges (halaman 96) mengisahkan bagaimana seorang John Vincent Moon yang komunis mengkhianati seorang prajurit Irlandia yang sebelumnya telah menyelamatkan nyawanya. Vincent mengisahkan ceritanya kepada Borges dalam pelariannya ke Brasil. Di tangan dingin Borges, ceritanya jadi sangat menarik. Dekat dengan cerita-cerita yang ditulis Martin Aleida.

”Sepuluh hari telah berlalu. Pada hari kesepuluh kota dikuasai oleh pasukan Inggris. Patroli berkuda memenuhi jalanan. Debu-debu beterbangan diembus angin. Di sudut sebuah jalan aku melihat sesosok mayat terbujur. Sepintas mirip sebuah maneken serdadu yang digunakan untuk sasaran latihan menembak di tengah alun-alun. Hari itu aku pulang sebelum tengah hari. Moon sepertinya sedang berbicara di perpustakaan. Dari nada suaranya aku tahu bahwa ia sedang menelepon. Aku mendengar namaku disebut-sebut, juga bahwa aku akan kembali pada pukul tujuh dan perintah untuk menangkapku saat aku melintasi taman. Rupanya kawanku telah menjualku! Aku sempat mendengar dia meminta jaminan atas keselamatannya (halaman 101).”

Corak ”El Boom” yang menjadi ikon kemajuan sastra Amerika Latin berciri modern dan magic-realism, dengan bentuk tak linear, penjungkirbalikan latar waktu, dan perubahan penutur silih berganti –yang memberontak dari pakem konvensional. ”El Boom” mengubah wajah sastra Amerika Latin untuk selamanya dan menancapkan pengaruh pada karya generasi selanjutnya.

Lucu, unik, penuh magis dan kegaiban ini yang mengisi alam cerpen yang bisa dibilang kolosal. Berbelok ke kiri dan kanan, melintang atau membujur, adalah keunikannya yang selalu ditunggu pembaca.

Cerpen ”Keringat” Jorge Amando (halaman 26) bercerita tentang nasib pengontrak rumah yang ujungnya marah dan melakukan kekerasan terhadap pemilik rumah. ”Joao menatap perempuan itu sejenak dengan sepasang bola mata membelalak. Lalu saat efek kata-kata keji perempuan itu melandanya, ruangan itu berubah gelap di matanya, dan dengan penuh amarah dia melayangkan tinjunya (halaman 32).”

Cerpen ”Kunci Surga” Myriam Warner-Vieyra (halaman 245) imagis sekaligus realis. Myriam memutuskan lajur berbeda dengan apa yang dipilih A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami.

Bagi Myriam, orang mati tak pernah hidup kembali. Hal ini yang membebaskan seorang penjual kunci surga asal Asia dari tuntutan pengadilan. Berbeda dengan apa yang ditulis Navis tentang Haji Saleh yang dalam mimpinya menyaksikan neraka.

Melihat keberhasilan mendunianya cerpen-cerpen Amerika Latin bisa menjadi pemicu penerjemahan cerpen-cerpen Indonesia seperti yang disebutkan dalam pengantar buku ini. Di Indonesia, dalam beberapa aspek dan skala yang lebih kecil, fenomena ”El Boom” agak serupa dengan munculnya gairah penulisan sastra yang lebih ”terbuka”, terutama oleh para penulis perempuan, pasca tumbangnya rezim Soeharto. Namun sayang, gaungnya di kancah antarbangsa tak cukup kencang. (*)

*) NEVATUHELLA, Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya Perjuangan Menuju Langit (2016) dan buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019).

  • Judul: Penjual Sayap dan Istri Stalin
  • Penulis: 35 Penulis Amerika Latin
  • Penerjemah: Anton Kurnia
  • Penerbit: Diva Press
  • Cetakan: Pertama, 2021
  • Tebal: 276 halaman
  • ISBN: 978-623-293-538-9

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads