alexametrics

Belajar Strategi Politik Ala Gus Muhaimin

Oleh: Rio F. Rachman
21 Oktober 2021, 16:55:43 WIB

Sebelum sejumlah baliho belakangan ini menyebut Abdul Muhaimin Iskandar dengan Gus Muhaimin, keponakan Almaghfurlah KH Abdurrachman Wahid itu kental dengan sapaan Cak Imin. Jejak langkah pria kelahiran Jombang 1966 itu dikancah politik tanah air relatif menarik. Termasuk, tatkala kubu politik Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia periode 1994-1997 itu berkonflik dengan kubu sepupunya, Yenny Wahid (halaman 83).

Buku ini mencatat sepercik sepak terjang Cak Imin bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang membesarkan namanya. Khususnya, di momentum pemilu 2019, di mana suara PKB diklaim mengalami peningkatan.

Penulisnya, Khafidlul Ulum, memiliki otoritas keilmuan bukan saja karena dia adalah master di bidang komunikasi politik. Lebih dari itu, dia adalah wartawan yang bergelut di topik politik pemerintahan daerah (Surabaya) dan pusat (Gedung DPR/MPR Jakarta) sejak 2009 hingga saat ini.

Kecakapan Ulum menelisik tampak saat ia membedah strategi politik Cak Imin dengan konsep sederhana, namun tepat sasaran yang dipopulerkan Adman Nursal melalui Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu yang terbit pada 2014 silam. Yakni, pull marketing atau penggunaan media, push marketing atau terjun ke masyarakat, dan pass marketing atau berkolaborasi dengan tokoh atau komunitas publik (halaman 110).

Cak Imin disebutkan menghindari untuk memasang iklan di media TV hiburan atau non-berita. Pasalnya, pemasangan iklan sebagai promosi partai dan sosok personal di sana relatif mahal (halaman 112). Dia cenderung mengeksplorasi ruang di TV berita dan media sosial. Bahkan, Cak Imin memiliki akun pribadi yang juga digunakan untuk sarana branding (halaman 114).

Kebiasaan Cak Imin turun kelapangan menjadi salah satu poin penting keberhasilan PKB. Sebagai Nahdliyin tulen, dia gemar menghadiri undangan-undangan keagamaan semacam haul atau peringatan hari besar (halaman129-130). Belakangan, dia juga sering hadir di acara-acara komunitas nelayan, anak muda, dan eksponen masyarakat lainnya. Secara langsung maupun tidak, kehadiran dalam momentum-momentum tersebut pasti punya nuansa kampanye.

Kedekatan Cak Imin dengan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menjadi poin positif dalam spektrum pass marketing. Faktanya, ada banyak tokoh NU yang mendukung dan mempromosikan Cak Imin maupun PKB (halaman 145).

Buku ini tidak hanya menjadi cuplikan tentang strategi yang sudah dilakukan Cak Imin di pemilu 2019. Di samping itu, dijelaskan pula kendala dan rekomendasi teoritik tentang bagaimana pemasaran politik selayaknya dijalankan.

Namun, terdapat beberapa catatan teknis kecil yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan saat cetakan berikutnya dari buku ini akan dirilis. Antara lain, bagian metode penelitian dan sistematika penulisan bisa dibaurkan pada bagian latar belakang. Sehingga, kemasannya menjadi sebentuk buku utuh dan tidak identik dengan tugas akhir kuliah.

Beberapa penulisan referensi tidak sepenuhnya rampung. Sebagai contoh, ada kutipan Henry Subiakto dan Rachmah Ida (halaman 14). Sayangnya di bagian daftar pustaka, keterangan buku yang sejatinya berjudul Komunikasi Politik, Media, dan Demokrasi itu tidak tercantum.

Editor : Kuswandi




Close Ads