alexametrics

Mengungkap Motif Film Laga Indonesia

Oleh: K.Y. Karnanta
21 Juli 2019, 17:59:06 WIB

PENULIS buku ini melacak jejak-jejak narasi balas dendam sejak era Yunani, dalam narasi pewayangan, hingga di era kekinian yang ia sebut senantiasa merembesi film-film laga dunia, termasuk di Indonesia.

FENOMENA mengorbitnya aktor laga Indonesia di industri film Hollywood seperti Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, dan Joe Taslim boleh jadi dianggap sebagai prestasi membanggakan. Namun, dalam konteks industri film laga, khususnya di Indonesia, ada satu pertanyaan yang selalu muncul: bagaimana bisa genre film laga yang kerap mereproduksi adegan-adegan ”kekerasan” itu terus hidup dan bahkan semakin berkembang di masyarakat yang tidak henti berkampanye anti kekerasan?

Pada aras itulah buku yang ditulis seorang sarjana sastra yang ”berselingkuh” dengan studi film ini penting untuk disimak lebih lanjut.

Motif

Apabila film laga kerap dipandang sebagai tontonan yang sekadar memamerkan kepiawaian bela diri dan ”kekerasan”, pandangan tersebut boleh jadi sama sekali berubah setelah menyimak kajian yang termaktub dalam buku ini. Kelindan antara sejarah, memori kolektif, ideologi, dan bahkan ”moral” ternyata bisa terpilin teramat kompleks dalam film laga –meski tidak selalu segamblang jurus-jurus bela diri dari para aktornya.

Penulis buku ini melacak jejak-jejak narasi balas dendam sejak era Yunani, dalam narasi pewayangan, hingga di era kekinian yang ia sebut senantiasa merembesi film-film laga dunia, termasuk di Indonesia.

Paul berupaya menyajikan kajian yang komprehensif tentang film laga pra kemerdekaan hingga pasca-Orde Baru. Namun, porsi kajian paling signifikan adalah film laga di masa Orde Baru.

”Identitas film laga Indonesia,” ujar Paul, ”tampak begitu unik karena menggabungkan dua elemen dramaturgi yang berbeda…aksi duel senjata api dan ledakan bom terjadi bersama pertarungan silat dan penggunaan ilmu hitam (hal 22).”

Sebagai peneliti yang sedang menerapkan ”ajian” struktur naratif dan hermeneutika kritis, Paul terlihat teramat telaten dan jeli demi mengungkap narasi-narasi tersembunyi dalam film-film yang dikajinya. Jelinya penerapan analisis naratif itu tampak, misalnya, pada saat ia memformulasikan temuan pola naratif berupa motif-motif dalam 189 film yang dia kategorikan sebagai ”film laga corak tradisional”.

Yakni motif kematian ayah, motif penaklukan atau aneksasi, motif perlawanan terhadap penguasa, motif penyelamatan, dan motif pertahanan diri. Seluruh motif dalam film laga tersebut diasumsikan merupakan turunan dari narasi besar balas dendam yang memang bersifat lintas zaman dan lintas budaya.

Terhadap temuan-temuan itu, Paul mengatakan bahwa film laga corak tradisional berupaya menghadirkan tafsir yang ditinggalkan, diabaikan, atau bahkan ditutup-tutupi oleh narasi histori formal yang diputuskan pemerintah Orde Baru (hal 329). Kerja analisis yang sama, tapi dengan temuan motif-motif yang berbeda juga dilakukan terhadap 134 film lain yang diklasifikasikan sebagai jenis ”film laga corak modern”. Meski kategorisasi jenis film laga yang didasarkan semata pada latar cerita tersebut masih menyisakan celah untuk diskusi lebih lanjut, ketelatenan Paul dalam menganalisis total 463 film sangat layak diapresiasi.

Narasi Redemptif

Bergerak makin lincah, bagian lanjut buku ini menunjukkan penerapan ”ajian” hermeneutika-kritis. Ada upaya penafsiran narasi film dengan mengaitkannya pada diskursus modernitas, maskulinitas, kapitalisme, dan hegemoni, yang ditutup dengan perenungan tentang apa yang Paul sebut sebagai ”narasi redemptif”.

Meski bertalian dengan konsep-konsep filsafat yang ”berat” dan kontemplatif, Paul menyajikan hasil kajiannya dengan bahasa yang mengalir, jernih, sehingga mudah dipahami. Maka, jika salah satu pengertian hermeneutika adalah membuat yang ”asing” menjadi ”dikenali”, buku ini cukup berhasil membuat kerja kritik film yang rumit, kompleks, dan mungkin asing bagi sebagian kalangan, menjadi bacaan yang mengasyikkan tanpa harus kehilangan nalar kritisnya.

Meski demikian, harus disebutkan pula, ada bagian yang agak ”mengganggu” dalam buku ini. Yaitu pada subbagian yang dinamai ”narasi-redemptif”. Dengan nada yang preskiptif alias menyarankan, Paul berujar, ”Film-film laga Indonesia harus berani menghadirkan narasi redemptif (hal 523)”.

Kecuali mendeskripsikannya sebagai bentuk katarsis berbentuk teks rekonsiliatif yang menawarkan gagasan pasifis dengan tujuan mengatasi narasi balas dendam, Paul tidak memberikan penjelasan yang lebih mantap dan utuh. Maka, sulit untuk tidak menyebut ”jurus pemungkas” Paul di lembar-lembar terakhir pustakanya ini lebih menyerupai ceramah moral dan etika. 

Judul buku:Atas Nama Dendam: Wajah Narasi Film Laga Indonesia

PENULIS: Paul Heri Wibowo

PENERBIT: Excellent Group

CETAKAN: I, Mei 2019

TEBAL: xviii + 586 halaman

ISBN: 978-623-90795-0-5

(*)

K.Y. Karnanta, Staf pengajar di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Unair Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads