alexametrics

Manajemen Kepemimpinan dan Dilema yang Tak Perlu

Oleh A.K. UMAM
20 September 2020, 16:54:48 WIB

Pemerhati sosial dan politik, meraih doktor ilmu politik dari University of Queensland, Australia Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya kejelasan ’’garis komando’’ agar para pelaksana kebijakan di level teknis maupun strategis tidak gamang.

SELAIN soal kabar setelah sang istri tercinta berpulang, banyak pula yang bertanya, di tengah ketidakpastian situasi negara akibat tekanan pandemi ini, mengapa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak banyak tampil di depan publik?

Bukankah gagasan dan pemikiran hasil pengalamannya menangani berbagai hantaman krisis masih dibutuhkan bangsa dan negara?

Semua pertanyaan publik itu akhirnya dijawab SBY dengan merilis dua buku terbarunya pada 10 Agustus lalu. Masing-masing berjudul Pandemi Covid-19, Jangan Ada Yang Dikorbankan; Manusia & Ekonomi, Keduanya Dapat Diselamatkan dan Dunia Damai jika Keadilan Tegak: No Justice, No Peace.

Harus Dijaga Bersamaan

Dalam buku berjudul Pandemi Covid-19, Jangan Ada Yang Dikorbankan; Manusia & Ekonomi, Keduanya Dapat Diselamatkan, SBY seolah menyimpan ekspektasi agar pemerintahan Presiden Joko Widodo mampu bergerak lebih cepat. Dan, tidak lagi terjebak dalam dilema mengatasi pandemi Covid-19 ini.

Dalam buku ini, SBY menekankan pentingnya kejelasan ’’garis komando’’ agar para pelaksana kebijakan di level teknis maupun strategis tidak gamang atau bahkan gagap dalam menentukan langkah prioritas. Karena itu, buku ini merasa perlu membahas pentingnya menghindari ’’dilema’’ dalam kebijakan publik, apakah memilih menyelamatkan manusianya dulu ataukah ekonomi negara?

Bagi SBY, sejak awal, perdebatan tentang pilihan kebijakan antara prioritas kesehatan rakyat atau keselamatan ekonomi seharusnya bisa dihindari. Sebab, keduanya adalah hal fundamental yang harus dijaga secara bersamaan.

Menjawab problem dilema tersebut, SBY mencoba menjelaskannya dengan menggunakan data-data pengalaman berbagai negara. SBY menyimpulkan, negara yang berhasil menghentikan laju pandemi, dan pada akhirnya mampu menjaga daya tahan ekonomi negaranya, adalah negara yang memiliki respons cepat. Juga ketat dalam melakukan pembatasan sosial secara tegas dan rasional; serta tidak terlalu cepat melakukan pelonggaran (halaman 37).

Untuk menjalankan itu, diperlukan manajemen kepemimpinan yang efektif dan rasionalitas (halaman 39). Dalam konteks ini, efektivitas dan rasionalitas manajemen kepemimpinan dapat dilihat dari bagaimana kualitas hubungan seorang pemimpin dengan para pakar kesehatan, atau bagaimana caranya mengelola relasi antarlembaga negara maupun antara pusat dan daerah.

Jika sejak awal pilihan-pilihan sikapnya benar, respons kebijakannya dijalankan secara serius, dan tidak terkesan menyepelekan ancaman situasi yang dihadapi, negara akan selamat (halaman 67). Amerika Serikat dijadikan contoh oleh SBY sebagai negara superpower yang memiliki kecanggihan dalam bidang militer hingga kedokteran, namun akhirnya tergagap menangani pandemi karena mengidap masalah leadership dan crisis management dalam pemerintahannya (halaman 107).

Di tengah kondisi pandemi dan ekonomi yang semakin runyam, SBY menekankan pentingnya mengambil langkah-langkah afirmasi untuk segera menekan laju pandemi, dan pada akhirnya bisa menyelamatkan ekonomi. Di tahap awal, ketegasan kebijakan benar-benar harus ditegakkan di ’’zona-zona merah’’ agar bisa menekan sebaran virus guna menurunkan peringkat menjadi ’’zona kuning’’. Ketegasan serupa juga disarankan untuk ditegakkan di ’’zona-zona kuning’’ agar tidak lagi ’’memerah’’ atau bahkan bisa ditekan menjadi ’’zona hijau’’.

Di zona hijau itulah, berbagai intervensi dan program stimulus ekonomi harus dioptimalkan agar mampu menjadi penyangga ekonomi ’’zona-zona kuning dan merah’’. Hal itu penting untuk memoderasi tekanan ekonomi akibat pandemi ini.

Keadilan Kunci Perdamaian

Selanjutnya, melalui Dunia Damai jika Keadilan Tegak: No Justice, No Peace, SBY menyampaikan refleksi pemikirannya terkait dinamika sosial-politik global dan nasional kontemporer. Isu ketidakadilan dan perdamaian ini penting.

Sebab, tren instabilitas politik global terus mengalami peningkatan pada 2019 hingga awal 2020. Tepatnya sebelum pandemi Covid-19 menyebar ke 215 negara.

Saat itu, setidaknya ada sekitar 35 negara besar di kawasan yang menghadapi gejolak instabilitas politik dan keamanan akibat masifnya gerakan sosial melawan pemerintah. Meski latar belakang gerakan sosial di tiap negara berbeda, sumber masalah di semua negara itu umumnya disebabkan faktor serupa, yakni ketidakadilan.

Dalam buku ini, SBY memetakan faktor ketidakadilan ini berdasar pada basis elemen yang beragam. Pertama, ketidakadilan akibat pengelolaan ekonomi negara yang tidak prudent sehingga menekan hajat hidup rakyat.

Kedua, ketidakadilan dalam kebijakan pemerintah. Ketiga, ketidakadilan akibat dilanggarnya prinsip transparansi dan akuntabilitas tata kelola pemerintahan. Keempat, ketidakadilan dalam pelaksanaan pemilu. Kelima, ketidakadilan dalam kebijakan yang akhirnya menghancurkan lingkungan alam di sekitar masyarakat.

Buku ini bisa menjadi bahan refleksi yang relevan bagi para pemimpin negara agar tetap mampu merawat kualitas demokrasi bangsa. Untuk itu, komitmen dan integritas kepemimpinan harus dijaga bersama-sama, harus diingatkan jika salah, dan harus diluruskan jika sudah berbelok arah.

Jadi, relevansi buku ini terletak pada fungsinya sebagai pengingat bagi kita semua bahwa komitmen pemimpin untuk menegakkan keadilan adalah kunci bagi terwujudnya kemaslahatan umat, bangsa, dan negara. (*)

  • Judul: Pandemi Covid-19, Jangan Ada Yang Dikorbankan; Manusia & Ekonomi, Keduanya Dapat Diselamatkan
  • Penulis: Prof Dr Jenderal TNI (pur) H Susilo Bambang Yudhoyono
  • Penerbit: PT Penerbit dan Publikasi Yudhoyono (PPY)
  • Cetakan: I 2020
  • ISBN: 978-602-51671-2-6
  • Jumlah: 108 halaman

 


 

  • Judul: Dunia Damai jika Keadilan Tegak: No Justice, No Peace
  • Penulis: Prof Dr Jenderal TNI (pur) H Susilo Bambang Yudhoyono
  • Penerbit: PT Penerbit dan Publikasi Yudhoyono (PPY)
  • Cetakan: I 2020
  • ISBN: 978-602-516-719
  • Jumlah: 87 halaman

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra




Close Ads