alexametrics

Menikmati Gereget dan Keindahan Objek

Oleh BEKY SUBECHI, Wartawan Foto Jawa Pos
19 Januari 2020, 18:13:08 WIB

D. Agung Krisprimandoyo mampu melihat sisi-sisi terbaik dari sebuah tempat yang akan dipotret. Latar belakang sebagai profesional di bidang realestat membuat karya-karya fotonya sangat memperhatikan komposisi.

SEBUAH balon udara melintas di atas Cappadocia, Anatolia Tengah, Turki. Dipotret dengan high angle sehingga terlihat para penumpang balon udara tersebut menikmati landscape di bawahnya berupa gunung dan bukit-bukit batu di kawasan bersejarah dan menjadi situs warisan dunia UNESCO. Itulah karya foto pertama D. Agung Krisprimandoyo dalam bukunya, My Flat World.

Buku tersebut berisi 100 karya foto yang merupakan jejak visual pria yang akrab dipanggil Pimo itu dalam kunjungannya ke 50 negara. Dan, yang menjadi pembeda dengan buku-buku karya fotografer lain adalah hampir dari separo karya foto itu diciptakan saat dia melakukan perjalanan dinas sebagai profesional yang bekerja di industri realestat.

Selebihnya, pemotretan dilakukan di sela-sela traveling bersama keluarga dan trip foto ke tempat-tempat eksotis di planet bumi ini. ’’Suatu kunjungan akan menambah gairah dalam pemahaman saya mengenai membangun kota, membangun kehidupan.” Demikian petikan kalimat Pimo di kata pengantar.

Latar belakang Pimo sebagai profesional di bidang realestat sangat memengaruhi karya-karya fotonya, yaitu komposisi yang menjadi salah satu elemen penting dalam menciptakan karya fotografi. Pengaturan elemen visual dalam sebuah frame dan seni, dengan didukung kejelian memasukkan elemen-elemen seperti warna, kontras, garis, pola, dan bentuk, menjadikan karya-karya foto Pimo tidak hanya indah. Tapi, juga punya gereget meski yang dipotret adalah objek benda mati.

Misalnya, di halaman 32 yang memuat foto sumur terdalam dunia di Chand Baori, Rajasthan, India. Angle foto yang diambil adalah saat seseorang berpakaian khas India dengan warna kontras berjalan di salah satu tangga yang membentuk tegas garis diagonal.

Pertanyaan yang menarik diajukan kepada Pimo adalah bagaimana dia me-manage waktu hunting foto di sela perjalanan dinasnya di suatu daerah atau negara? Bagaimana dia melakukan ’’riset’’ sehingga tahu objek-objek apa saja yang layak dipotret? Di mana posisi terbaik pemotretannya, pencahayaan dari arah mana, dan bagaimana tombol shutter speed dipencet pas saat blue hour?

Confucius berkata, setiap hal memiliki keindahan masing-masing, tetapi tidak semua orang melihatnya. D. Agung Krisprimandoyo mampu melihat sisi-sisi terbaik dari sebuah tempat yang akan dipotret.

Bahkan, beberapa di antaranya dipotret dengan angle foto yang ’’tidak umum”. Misalnya, foto lautan pasir Bromo yang dijadikan photo cover buku. Juga di halaman 10, Taj Mahal, India, yang sering kita lihat dipotret dari sisi depan, di tangan Pimo angle fotonya tidak biasa. Seorang pria mendayung perahunya dengan latar belakang bangunan warisan adikarya dari arsitektur Mughal itu. Dibutuhkan effort lebih untuk memotretnya, dengan menaiki perahu pada waktu yang pas dengan arah cahaya matahari saat menyinari bangunan indah tersebut.

Bukan hanya landscape pictorial yang ditampilkan dalam My Flat World, tapi juga sejumlah foto portrait yang mencirikan busana sejumlah negara, seperti India, Nepal, Papua Nugini, Iran, hingga Rumania. Sebagai penggemar grup musik legendaris Queen, Pimo memaksakan diri untuk memotret patung sang vokalis Freddie Mercury di tepi Danau Jenewa saat kunjungan dinasnya ke Swiss.

Kritikan pada buku ini adalah keterangan setiap foto diletakkan terpisah pada indeks di bagian belakang buku. Dilihat dari konten fotonya, My Flat World tergolong buku foto traveling: setiap foto berbeda-beda objek dan lokasinya. Maka, kecenderungan pembacanya segera ingin tahu ini foto apa dan di mana?

Fungsi kurasi menjadi sesuatu yang penting dari proses kerja pembuatan sebuah buku fotografi. Dipilihnya Oscar Motuloh sebagai kurator My Flat World membantu terbangunnya alur harmoni visual saat kita menikmati halaman per halaman. Padu padan foto-foto di tiap halaman didasarkan pada elemen-elemen foto, baik yang lugas secara visual maupun simbolis. (*)

JUDUL BUKU: My Flat World
FOTOGRAFER DAN PENULIS: D. Agung Krisprimandoyo
KURATOR DAN EDITOR: Oscar Motuloh
TEBAL: 126 halaman
PENERBIT: Earbay Signature Publishing
TAHUN TERBIT: 2020
ISBN: 978-1-78972-511-7 (UK)

Editor : Ilham Safutra


Close Ads