alexametrics

Cerita ”Anjing” yang Tidak Bercerita tentang Anjing

Oleh NANDA WINAR SAGITA, Penikmat Buku
17 April 2022, 10:27:40 WIB

Meskipun buku ini layak dijadikan sebagai hiburan yang menyenangkan bagi siapa saja, ceritanya belum sekuat cerpen-cerpen Dea Anugrah dalam Bakat Menggonggong.

SEJARAH manusia yang gemilang,” tulis Mo Yan dalam novel Red Sorghum, ”selalu dipenuhi dengan legenda dan kenangan anjing: anjing hina, anjing terhormat, anjing menyeramkan, dan anjing menyedihkan.”

Di beberapa belahan bumi, eksistensi anjing sangat agung. Beberapa kepercayaan –pernah ada maupun masih ada– menempatkan anjing dalam posisi suci, yakni sebagai pengejawantahan dari sosok sesembahan. Namun, di belahan bumi lainnya lagi, anjing justru dianggap sebagai simbol kehinaan dan secara tidak adil dijadikan sebagai kata makian.

Tentu saja, fungsi anjing yang saya maksud dalam tulisan ini adalah penjelasan yang terakhir. Dalam novel teranyar Dea Anugrah yang berjudul Hari-Hari yang Mencurigakan, setidaknya ada banyak kata ”anjing” sebagai makian yang bertebaran nyaris di setiap bab.

Saya menulis nyaris karena kata itu luput hanya di bab 8 dan 11. Hal itu dapat kita maklumi karena selaras dengan pengakuan Soda Api, pseudonim dari Dea Anugerah, selaku narator. Dia bilang: ”Aku bahkan kesulitan memahami diriku sendiri, yang sedikit-sedikit bilang anjing meski punya perbendaharaan kata yang lumayan luas.” (halaman 33).

Secara teknis, keseluruhan isi dalam novel ini sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Baik dari segi gaya cerita maupun penamaan karakter.

Jelas, Dea menggunakan kiasan metafiksi yang disengaja. Pada bagian awal, dia mengelabui pembaca dengan nama-nama tokoh nyata hanya untuk di bagian akhir nanti mengingatkan pembaca bahwa yang ditulisnya sebatas karya fiksi.

Metafiksi bukanlah suatu teknik bercerita yang asing dalam kancah kesusastraan pas_camodernisme. Teknik itu diperkuat oleh Dea dengan memakai beberapa sajak yang tidak pernah ada; teks lain sebagai lampiran dari buku-buku dan penerbit yang tidak pernah ada; serta berita-berita yang juga tidak pernah ada dari situs Kumparan. Agak Borgesian, memang, tapi dalam pengertian semenjana.

Sejak menyadari alur cerita di bab pertama, saya langsung teringat pada dua novel adiluhung Roberto Bolano: The Savage Detectives dan 2666. The Savage Detectives adalah kisah pencarian Cesarea Tinajero, penyair Meksiko era 1920-an, oleh Arturo Belano, penyair Meksiko era 1970-an, dan Ulises Lima, penyair Meksiko era 1970-an.

Di samping itu, salah satu bagian 2666 bertutur tentang empat kritikus sastra asal Eropa: Jean-Claude Pelletier, Piero Morini, Manuel Espinoza, dan Liz Norton. Mereka mencari novelis Jerman yang hilang bernama Benno von Archimboldi.

Dalam novel ini, Dea meminjam, atau lebih tepatnya meniru, ide dari dua novel tersebut untuk diterapkan dalam konteks Indonesia. Proses peniruan yang cemerlang itu sudah tampak sejak narasi awal yang disampaikan Soda Api, yang begitu terobsesi dengan seorang penyair obskur bernama Rudi Rodhom, atau terkadang nama belakangnya ditulis Roadhome.

Dia memulai perjalanan demi mencari si penyair itu dari Jogjakarta menuju Jakarta hingga terdampar di Belinyu. Ada banyak adegan lucu yang menaburi kisah perjalanan Soda Api, dan tentu saja tipikal Dea yang menggambarkannya secara gamblang dan terkadang vulgar.

Beberapa kali Dea menyebut nama dan mengutip kalimat dari para penyair nyata. Cara itu berhasil memperkuat karakter Soda Api sebagai manusia pencinta puisi.

Namun, yang tidak kalah menarik adalah sindiran Dea kepada situasi kesusastraan Indonesia. Ada beberapa narasi yang menyiratkan hal itu, dan karena disampaikan dengan cara parodis, pembaca terkadang tidak begitu menyadarinya.

Sisi menarik lain dari novel ini adalah ihwal kalimat pembuka yang menggunakan teknik foreshadowing (sekali lagi: bukan hal baru). Dea mengobrak-abrik liniearitas alur cerita dengan menulis: ”Cerita ini berakhir di Belinyu, kota paling utara di Pulau Bangka, pada suatu siang di bulan Juni 20xx.” (halaman 1).

Tentu kalimat yang, ditulis dengan bagus tentu saja, dimulai dari bagian akhir bakalan memancing pembaca untuk mengikuti cerita sampai halaman terakhir. Namun, setiba pada momen pengungkapan dari kalimat awal tersebut, ada sesuatu yang mengganjal dan terasa kurang memuaskan; dan saya tidak akan menulisnya secara terperinci di sini.

Meskipun buku ini layak dijadikan sebagai hiburan yang menyenangkan bagi siapa saja, ceritanya belum sekuat cerpen-cerpen Dea dalam Bakat Menggonggong. Dalam novel ini, ocehan si narator terkadang terjebak dalam pemikiran penulisnya, meski, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, barangkali begitulah maksud buku ini ditulis.

Selebihnya, kembali ke awal: jalinan petualangan Soda Api yang komikal berkali-kali membuat pembaca mengumpat, dalam definisi positif, hingga meniru lisan kotor Soda Api untuk mengucapkan kata ”anjing” tiap kali tuntas membaca cara Dea dalam bertutur. Ya, secara keseluruhan cerita ini memang ”anjing”, tapi tidak ada karakter anjing yang penting, kecuali muncul sekilas sebagai kameo atau umpatan belaka.

Memang pernyataan ihwal Dea tidak bisa menulis jelek sepertinya harus dipertimbangkan lagi. Dalam artian begini: bagaimanapun melihat namanya di sampul buku atau awal sebuah tulisan pasti sudah menjamin suatu tulisan itu akan bagus –baik esai, puisi, maupun cerpen– meskipun belum tentu bisa memuaskan hasrat menggebu semua pembaca yang telah lama menunggu novelnya. (*)


 

  • Judul: Hari-Hari yang Mencurigakan
  • Penulis: Dea Anugrah
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Tahun Terbit: 2022
  • Tebal: 102 halaman
  • ISBN: 978-602-0788-25-8

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: