alexametrics

Kebudayaan sebagai Produk Penalaran

Oleh: Yogi Ishabib *)
14 Juli 2019, 12:48:46 WIB

GEGER Riyanto berusaha untuk tidak menakar konsep kebudayaan sebagai sesuatu yang umum dan pasti berlaku di mana saja. Kehati-hatian ini membantu pembaca agar tidak terperangkap oleh batasan-batasan definisi yang galat akibat kurangnya pengetahuan atas yang liyan.

Kebudayaan merupakan konsep yang tak pernah benar-benar jelas. Walaupun demikian, watak diskursus kebudayaan yang abstrak itu justru mampu menggerakkan kerja-kerja pengetahuan dan kehidupan sosial.

Sering kita dengar ramai soal polemik kebudayaan atau deklarasi kebudayaan meski belum disertai penelusuran atas konsep kebudayaan itu sendiri. Atau jikapun pernah dilakukan, penelusurannya baru sebatas retorika yang menautkan kejayaankejayaan masa lampau.

Konsep kebudayaan, pada gilirannya, hanya menjadi stimulant bagi insan budaya yang satu guna mengidentifikasi kedirian mereka. Agar timbul kesan lebih unggul
atau minimal sejajar dengan insan budaya yang lain.

Asal Usul Kebudayaan, buku ketiga Geger Riyanto ini, menawarkan telaah yang berbeda disbanding bukunya yang pertama (Peter L. Berger: Perspektif Metateori Pemikiran, 2009) dan kedua (Paman Gober Jadi Pahlawan Nasional, 2018). Jika buku pertama dan keduanya bertema teori sosial, identitas, dan kekerasan, buku ketiganya ini bertema kebudayaan. Lebih tepatnya penelusuran atas akar dan perkembangan diskursus kebudayaan.

Pelacakan Geger dimulai dari definisi awam kebudayaan sebagai ’’nilai khas satu masyarakat yang membedakannya dengan masyarakat lainnya.” Hingga berujung pada praktik pengetahuan utak-atik gathuk –praktik galib yang membuat para pencetusnya berlindung di balik predikat intelektual kontemporer atau intelektual eklektik.

Sebutan kontemporer atau eklektik merupakan kebiasaan mencampur adukkan pengetahuan, konsep, dan istilah tanpa berdasarkan suatu kaidah keilmuan. Para
intelektual seperti ini, menurut Geger, hanya mengulang kekeliruan antropolog terdahulu ketika mengidentifikasi masyarakat-masyarakat non-Barat.

George Frazer, Geger memberi contoh, keliru menganggap praktik sihir atau tenung sebagai saudara haram ilmu pengetahuan dan seni yang gagal. Kekeliruan identifikasi yang nantinya menjadi dasar klaim sepihak orang-orang Barat terhadap orang-orang non-Barat yang katanya tak memiliki kapasitas berpikir rasional.

Membaca Asal Usul Kebudayaan menyegarkan kembali ingatan kita akan perdebatan filosofis antara kebenaran korespondensi dengan kebenaran koherensi. Jika kebenaran korespondensi menyoal bahwa kebenaran mesti sesuai dengan realitas di luar sana, kebenaran koherensi memandang bahwa kebenaran adalah sesuatu yang utuh pada bangunannya sendiri tanpa harus sesuai dengan realitas di luar sana.

Untuk memperkaya perdebatan itu, Geger juga menyertakan konsep kebenaran nonrepresentasional atau kebenaran infinitif: bahwa segala bentuk pengetahuan memiliki derajat yang sama status kebenarannya. Pusparagam perdebatan filosofis ini membuat kita mafhum mengenai cara pandang intelektual atas konsep kebudayaan yang masih saja terbatas oleh campur aduk entitas.

Yang mestinya dipilah antara mana yang melibatkan penalaran logis dengan penalaran kiasan. Penalaran logis mengudar bukti-bukti kehidupan dan perkakas
pendukung kehidupan yang selaras dengan kenyataan empiris, sedangkan penalaran kiasan menyisir yang metaforis atau yang tak terwakili oleh objek konkret.

Khusus untuk penalaran kiasan, Geger menelisik lebih jauh atas kontribusinya yang hampir tak tergantikan dalam keberlangsungan kehidupan sosial. Seperti klaimnya di buku ini bahwa tanpa penalaran kiasan, tak akan ada kehidupan sosial (halaman 18).

Geger berhasil mendedah beberapa artikulasi konsep kebudayaan sebagai hasil penalaran, baik yang dianggap ilmiah maupun ’’tidak ilmiah”. Sebagai sebuah studi antropologi, Geger berusaha untuk tidak menakar konsep kebudayaan sebagai sesuatu yang umum dan pasti berlaku di mana saja. Kehati-hatian ini membantu pembaca agar tidak terperangkap oleh batasan-batasan definisi yang galat (error) akibat kurangnya pengetahuan atas yang liyan.

Asal Usul Kebudayaan membawa kita pada khazanah pemikiran dan perbincangan ihwal kebudayaan yang ada di kehidupan sosial kita. Jika boleh menyederhanakan pembacaan saya, buku ini sedang melancarkan gugatan atas superioritas nalar ’’pengetahuan modern” saat memandang komunitas di luar dirinya. Dan, sindrom yang mendera insan-insan budaya saat terlalu nyaman bersembunyi di balik konsep kebudayaan yang berpijak pada pengertian metaforisnya semata. (*)

JUDUL BUKU: Asal Usul Kebudayaan: Telaah Antropologi Penalaran terhadap Advokasi Intelektual Diskursus Kebudayaan Indonesia

PENULIS: Geger Riyanto

PENERBIT: Intrans Publishing

CETAKAN: Maret, 2018

TEBAL: xiv+192

ISBN: 978-602-61816-7-1

 

*) Yogi Ishabib bergiat di @sinemaintensif dan @intensifbooks

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads