Munir di Ruang-Ruang Personal

Oleh RIYADHELIS PUTUHENA*
13 November 2022, 08:34:56 WIB

Suciwati berhasil menghindar dari jebakan glorifikasi terhadap sang suami. Di bukunya ini, dia menggambarkan Munir yang punya rasa takut, mendengarkan musik, berkencan, menikah, dan yang tidak kalah penting, sebagai manusia, Munir butuh keadilan.

 

”Aku berangkat, cintamu mengiringi perjalananku.

Peluk cium untukmu dan dua belahan jiwa kita.

I Love You.”

 

SEBUAH pesan singkat dari Munir kepada Suciwati pada 6 September 2004 pukul 21.05 WIB itu menjadi komunikasi terakhir suami istri tersebut. Pesan tersebut diterima Suciwati dalam perjalanan pulang menuju Bekasi setelah mengantarkan sang suami ke Bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Belanda melanjutkan pendidikan.

Akhirnya kita semua tahu bahwa penerbangan itu adalah penerbangan terakhir Munir sekaligus jalan menghadap Tuhan. Ya, Munir mati di udara.

Munir adalah sosok pembela hak asasi manusia yang lugas dan keras. Gaya rambut dan kumis tebal menambah kesan kegarangannya sebagai seorang pejuang.

Term pejuang memang kerap menanggung beban makna, mulai garang, keras, cadas, tidak kenal kompromi, atau bahkan kaku. Hal ini diperkuat dengan citra Munir yang selalu tampil dalam banyak berita populer sebagai sosok yang tidak mengenal lelah melawan rezim Soeharto, militerisme, dan segala elemen pendukungnya.

Cinta dan Penghargaan bagi Kemanusiaan

”Kalau Plato bilang cinta itu adalah sebuah ruang dan mencintai adalah sesuatu yang ada, maka cinta sebenarnya adalah Tuhan. Tuhan adalah kehidupan, maka cinta adalah sebuah kehidupan.” Kalimat manis ini bukan keluar dari mulut seorang filsuf atau pujangga beken. Tapi dari ketikan SMS seorang aktivis hak asasi manusia.

Dalam Mencintai Munir, Suciwati menggambarkan beberapa kali dengan terang betapa Munir punya sisi romantis layaknya saya dan Anda ketika sedang jatuh cinta. Kegemaran Munir melahap bacaan-bacaan filsafat tentu sedikit banyak memengaruhi gayanya dalam mengekspresikan cinta.

Kegigihan Munir dalam membela mereka yang termarginalkan memang tidak perlu diragukan. Tapi, alih-alih terjebak dalam glorifikasi berlebihan pada sosok sang suami, di buku ini, Suciwati menghadirkan Munir sebagai sosok yang jujur dan polos seperti ketika meminta restu untuk mendampingi seorang buruh perempuan yang hendak dipaksa menikah oleh orang tuanya.

”Cik, ada buruh Tjiwi Kimia. Dia mau dijodohkan orang tuanya, sementara dia belum mau menikah. Jadi, aku diminta mengaku jadi pacarnya. Nggak pa-pa, ya? Kan cuma pura-pura.” Adegan berpura-pura pacaran ini sangat jauh dari imajinasi kita tentang Munir.

Cerita tentang komitmennya untuk berdiri dan bersolidaritas bersama korban tersebar di mana-mana. Namun, bukan berarti Munir tidak memiliki rasa takut.

Sekali lagi, layaknya saya dan Anda, Munir juga punya rasa takut. Yang membuat Munir berbeda adalah bagaimana ia mampu mengelola rasa takutnya sehingga tidak merugikan perjuangannya membela korban.

Munir paham betul bahwa teror kekuasaan pada hakikatnya adalah menyebarkan rasa takut. Karena itu, tidak menunjukkan ketakutan adalah satu langkah melawan teror itu sendiri.

Munir juga menjadi contoh yang sangat baik betapa dirinya yang ”Arab” dan Suciwati yang ”Jawa” dapat bersatu. Mereka berdua bertemu pada satu titik yang sama, yakni penghargaan bagi kemanusiaan.

Membela Korban, Menjadi Korban

Buku ini sedikit banyak menjelaskan situasi di ruang-ruang personal seorang Munir ketika bergelut dalam aktivisme hak asasi manusia. Gelisah, resah, dan galau menjadi teman akrab Munir hampir di setiap saat aktivitasnya membela korban.

Namun, kecintaannya pada kemanusiaan melampaui emosi personalnya. Munir menghadapi eskalasi kekerasan dari level personal hingga level nasional. Dari lingkaran terdekat korban yang bisa saja tidak terima dengan pembelaan Munir hingga negara via aparatus kekerasannya.

Di sinilah kehebatan Munir. Ia mampu meletakkan kemanusiaan yang dipercayainya melampaui batas-batas profesionalismenya. ”Kejahatan yang dilakukan oleh suatu negara-bangsa, atau atas nama kemajuan dan pembangunan, akan berkurang hanya jika kita mampu mengenali diri kita sendiri sebagai bagian dari takdir manusia lain,” katanya seperti ditulis Suciwati di buku ini.

Munir paham betul konsep manusia sebagai makhluk sosial. Dia begitu memaknai betapa manusia memang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Munir paham betul bahwa perjuangan membela hak asasi manusia harus melampaui batas-batas personal cum profesional semata. Dengan kata lain, tidak ada tawar-menawar dan menjadi keharusan untuk bersolidaritas sesama umat manusia. Munir mungkin saja memaknai betul ajaran nabi khairunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.

Munir memang dikenal pernah menjadi bagian dari HMI. Ia masih sering memberi sumbangsih bagi HMI bahkan ketika tidak lagi tinggal di Malang.

”Ketika saya berani salat, konsekuensinya saya harus berani memihak yang miskin dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk memeriahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban. Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak berpihak kepada yang tertindas.”

Rekam jejak Munir membela korban pada akhirnya berujung kematian. Namun, apakah kita semua dapat memaknai kematian Munir merupakan bagian dari takdir hidup kita? Apakah kematian Munir adalah takdir yang mengharuskan kita, manusia Indonesia, semakin teguh memperjuangkan kemanusiaan?

Bukankah Munir adalah korban? Lantas, jika Munir meninggal, bukankah ”hanya orang yang hidup yang bisa membela orang mati”?

Penutup

Munir tewas ketika dirinya hendak melanjutkan pendidikan di Universitas Utrecht. Tan Malaka menyampaikan bahwa tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Munir telah purna sebagai aktivis cum intelektual.

Tidak mudah menjadi seperti Munir. Namun, buku ini menyediakan cerita yang begitu mengalir dan menyadarkan kita semua bahwa Munir juga manusia biasa. Sebagai manusia biasa, Munir juga butuh makan, punya rasa takut, mendengarkan musik, berkencan, menikah, dan yang tidak kalah penting, sebagai manusia, Munir butuh keadilan. (*)

  • Judul: Mencintai Munir
  • Penulis: Suciwati
  • Penerbit: Yayasan Museum HAM Munir
  • Tahun terbit: 2022
  • Jumlah: 372 halaman

*) RIYADHELIS PUTUHENA, Ketua Bidang HMI Badko Jawa Timur

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads