alexametrics

Kecerdasan Melihat Sanento Yuliman

Oleh WAHYUDIN
13 September 2020, 17:07:40 WIB

Buku ini bentuk penghormatan atas kejauharian Sanento Yuliman sebagai kritikus seni rupa.

GAJAH mati meninggalkan gading, Sanento Yuliman berputih tulang mewariskan ratusan tulisan yang terserak di banyak media massa, utamanya majalah Tempo.

Lebih kurang 27 tahun setelah kematian mendadak kritikus seni rupa kelahiran 14 Juli 1941 itu, buku berisi 177 tulisannya ini terbit. Selepas diluncurkan pada malam pembukaan pameran Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941–1992) Pameran Karya dan Arsip di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.

Itu penghormatan intelektual untuk seorang almarhum kritikus seni rupa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan, mungkin kelak tak akan terulang.

Itu sebabnya, buku yang disunting oleh Danuh Tyas Pradipta, Hendro Wiyanto, dan Puja Anindita ini mengesankan bahwa seorang kritikus seni rupa dikenang dan dihormati lantaran kejauhariannya melalui tulisan yang mencerminkan ’’kecerdasan melihat’’ karya dan peristiwa seni rupa.

Istilah ’’kecerdasan melihat’’ saya petik dari tulisan Sanento Yuliman ’’Escher, atau Kecerdasan Melihat’’ (halaman 627). Di situ ia menerakan pernyataan yang merefleksikan dengan baik amalan kritik seni rupanya sebagai berikut:

’’Melihat itu adalah menjelajah dan menyigi. Melihat itu menerapkan anggapan dan mengujinya melalui pengamatan rinci: analisa, dan untuk sampai kepada kesimpulan sintesis. Melihat itu adalah mengurai dan memadukan, membandingkan, menempatkan dalam konteks, juga memilih, menyaring, menemukan hal pokok.’’

Maka, simaklah ’’Biennale Mini” (halaman 581–585), ’’Mistik atau Futuristik’’ (halaman 631–634), ’’Yang Fantastik dan Yang Emosional’’ (halaman 815–822), ’’Kemenangan Pelukis Muda’’ (halaman 823–825), dan ’’Surealisme Jogja’’ (halaman 867–870).

Baca juga: Membaca Kembali Sanento Yuliman

Semua ulasan yang terbit di majalah Tempo itu mempelihatkan bagaimana Sanento Yuliman mengamati dan menelaah dengan saksama, di antara Juli 1987–Desember 1989, lukisan-lukisan berpokok perupaan garib pelukis-pelukis muda Jogjakarta kala itu. Antara lain Agus Kamal, Dede Eri Supria, Effendi, Ivan Sagito, Lucia Hartini, Nengah Nurata, dan Sutjipto Adi, sebagai mulanya ’’tren baru’’, kemudian ’’arus baru’’, dan akhirnya ’’surealisme Jogja’’.

Tak pelak lagi, ’’surealisme Jogja’’ adalah penemuan jempolan Sanento Yuliman. Sementara itu, ia pun terpanggil memberikan pengakuan dan penghormatan kepada sosok dan pokok seni rupa yang terpinggirkan oleh kuasa laba dan wacana, ’’yang para pengkritik seni rupa kita tidak pernah berniat membicarakannya’’. Sebagaimana terlihat dalam ulasan-ulasannya bernada simpatik, antara lain ’’Empat Pendekar Serat’’ (halaman 493–498), ’’Pensil yang Mengelupas Manusia’’ (halaman 801–803), dan ’’Perkerabatan Kreatif’’ (halaman 893–895).

Baca juga: Tiga Buku Wacana Seni Rupa dari DKJ

Dari situ, Sanento mengarahkan ’’kecerdasan melihat’’ untuk memperjuangkan ’’perspektif baru’’ yang memungkinkannya ’’menentang elitisme’’ penganut ’’estetika yang sedang dominan’’, yaitu ’’estetika yang merabunkan’’ pemahaman dan pengamalan seni rupa yang lain, baru, atau alternatif di republik ini. Seperti tersua dalam ’’Seni Rupa Pembebasan dan Pembebasan Seni Rupa’’ (halaman 261–273), ’’Seni Rupa dalam Pancaroba: Ke Mana Semangat Muda?’’ (halaman 275–287), dan ’’Estetika yang Merabunkan’’ (halaman 289–292).

Sayangnya, Danuh, Hendro, dan Puja tak mampu mengimbangi ’’kecerdasan melihat’’ Sanento Yuliman dengan ’’ketajaman menyunting’’. Buntutnya, salah ketik dan kacau data pun berhamburan di buku ini. Lebih-lebih Puja yang menulis ’’Biografi Sanento Yuliman’’ (bab 8, halaman 973–997).

Di situ (halaman 980), ia melakukan pemalsuan sejarah dengan memasukkan Nanik Mirna sebagai salah satu mahasiswa yang terkena skors dari ASRI Jogjakarta lantaran keterlibatannya dalam ’’Desember Hitam 1974’’. Saya kira Hendro memiliki pengetahuan sejarah seni rupa yang memadai untuk mencegah tindakan sembrono Puja itu. Entah kenapa ia meluputkannya. (*)


 

  • JUDUL BUKU: Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa 1969–1992
  • PENULIS: Sanento Yuliman
  • PENERBIT: Dewan Kesenian Jakarta dan Gang Kabel
  • CETAKAN: I, Januari 2020
  • TEBAL: xxxv + 1.024 halaman
  • ISBN: 978-979-1219-12-9

*) Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra




Close Ads