alexametrics

Meluruskan Pandangan Sesat terhadap Pancasila

Oleh ABD. SIDIQ NOTONEGORO*
12 Juni 2022, 09:35:56 WIB

Islam, Pancasila, dan Geliat Demokrasi di Indonesia karya M. Alfan Alfian ini memberikan secercah pencerahan agar Pancasila dan Islam tidak terus-menerus diposisikan secara diametral. Pendekatan penulisan yang sociological-oriented (bukan normative-oriented) sangat relevan untuk generasi saat ini.

KESUKSESAN gerakan reformasi tahun 1998 tidak sekadar sukses menumbangkan rezim otoriter Orde Baru dan membuka keran demokrasi yang telah 30 tahun membeku, tetapi juga memberikan ruang bagi kelompok ekstrem kanan dalam mengusung ”ideologi tanding”. Ideologi yang diklaim sebagai ideologi yang datang dari langit.

Akibat adanya paradigma yang menyebut Pancasila itu tagut, muncullah reaksi negatif yang tidak kalah pongahnya dengan mengatakan bahwa ”musuh utama Pancasila adalah agama”. Tampaknya pandangan tersebut lebih merupakan sikap reaktif-emosional akibat paradigma yang pertama, tetapi tak dimungkiri justru semakin menimbulkan suasana yang lebih gaduh.

Dalam memosisikan Pancasila sebagai panduan untuk hidup dan berkehidupan berbangsa dan bernegara, umat Islam Indonesia pada umumnya masih perlu belajar banyak. Membuka perspektif dan menggali hikmah.

Banyak jalan untuk menemukan keserasian dan keselarasan antara Pancasila dan agama (Islam) selama proses belajar itu dilalui dengan sungguh-sungguh. Kalaupun ternyata belum juga menemukan titik keselarasan dan keserasiannya, pasti ada sesuatu yang salah dalam memahaminya.

Disadari atau tidak, meletakkan Islam secara diametral dengan Pancasila maupun demokrasi memberi efek yang tidak baik dan tidak menguntungkan bagi umat Islam sendiri. Umat Islam dihadapkan pada ancaman keterpecahan akibat visi dan orientasi politik. Terorisme dan radikalisme merupakan di antara efek dari paradigma ”sesat” tersebut.

Buku Islam, Pancasila, dan Geliat Demokrasi di Indonesia karya M. Alfan Alfian ini memberikan secercah pencerahan agar Pancasila dan Islam tidak terus-menerus diposisikan secara diametral. Harapan tersebut merupakan hal yang sangat wajar. Sebab, secara logis sulit ditemukan sisi perbedaannya. Sebaliknya, bisa dikatakan bahwa Pancasila pada hakikatnya merupakan penerjemahan praktis filosofis atas Islam itu sendiri dalam ranah kebangsaan dan keindonesiaan.

Masa depan Indonesia sebagai negara demokrasi meniscayakan dinamika kontestasi. Kaum santri politik wajar berpikir subjektif. Tetapi, realisme politik membutuhkan prasyarat objektifikasi.

Menurut Kuntowijoyo, objektifikasi memerlukan umat yang dapat berpikir logis berdasar fakta yang konkret dan empiris (halaman 70). Bahwa ada sejumlah persoalan serius dari praktik demokrasi, sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari praktik perilaku yang justru menjauh dari substansi demokrasi itu sendiri.

Demokrasi dicurangi oleh sikap dan perilaku pragmatisme-transaksional pada pemilu. Kebebasan pendapat dikebiri oleh kepentingan jangka pendek politik maupun masih bersemayamnya praktik neo-otoritarian yang berselimut di balik prosedur demokrasi.

Terbitnya buku ini tidak sekadar menarik untuk dibaca bagi siapa pun, terutama yang masih mengalami kegamangan pengetahuan terkait dengan hubungan Pancasila dan Islam, tetapi juga merupakan buku yang cukup penting untuk dibaca. Pendekatan penulisan yang sociological-oriented (bukan normative-oriented) sangat relevan untuk generasi saat ini. Bahkan pada bagian terakhir buku ini, penulis memberikan pesan reflektif terkait dengan Islam dalam dinamika global.

Buku ini hadir pada momen yang tepat sehingga dapat dinilai sebagai ”kado” peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni lalu. Semoga hadirnya buku ini menjadi referensi bagi generasi bangsa yang sedang mengalami kegamangan dan keguncangan ideologi akibat dari terpengaruhnya paham-paham ekstrem –baik ekstrem kiri maupun kanan– yang jauh dari nilai-nilai religiusitas bangsa Indonesia sendiri. (*)


  • Judul Buku: Islam, Pancasila, dan Geliat Demokrasi di Indonesia
  • Penulis: M. Alfan Alfian
  • Penerbit: Penjuru Ilmu, Bekasi
  • Cetakan: I, 2022
  • Tebal: 292 halaman
  • ISBN: 978-602-0967-52-3

*) ABD. SIDIQ NOTONEGORO, Pengkaji masalah-masalah sosial, komisioner KPU Gresik

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads