alexametrics

Perspektif Baru Kelas Menengah Indonesia

Mohammad Afifuddin*
12 Januari 2020, 18:08:14 WIB

Buku ini banyak membahas kelas menengah Indonesia yang cakupannya meluas dari perspektif sejarah sosial. Alih-alih mengandalkan data statistik, penulis mengandalkan data-data historis yang sangat kaya.

PADA dasawarsa 1980-an, muncul sebuah kategori sosial yang diyakini eksis namun susah diidentifikasi: ’’sosok’’ yang dianggap samar-samar, membingungkan, sekaligus multitafsir. Sampai-sampai, digelarlah konferensi internasional di Monash University Australia tahun 1986 untuk memperjelas sosok misterius tersebut.

Mengambil tema ’’Politik Kelas Menengah Indonesia’’, konferensi itu dihadiri ilmuwan dan Indonesianis kondang semacam Daniel Lev, William Liddle, Howard Dick, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ariel Heryanto, dan kawan-kawan. Setelah berdebat sengit dan makalah masing-masing ilmuwan dibukukan oleh Richard Tenter dan Kenneth Young (1993), kesamaran sosok kelas menengah Indonesia juga belum benar-benar tersingkap.

Ariel Heryanto yang menulis pengantar untuk buku itu mengatakan bahwa kelas menengah memang kategori analisis yang merepotkan banyak ilmuwan sosial. Lebih dari dua dekade setelah kemunculan buku itu, Dhaniel Dhakidae masih berkesimpulan sama: kelas menengah selalu membingungkan sebagai konsep (Jurnal Prisma, Kelas Menengah Indonesia, Apa yang Baru, 2012).

Artinya, diskursus tentang kelas menengah Indonesia sebagai kategori konseptual belum sampai pada titik konklusif. Apalagi, wacana tentang ’’kelas sosial’’ menghilang lama dalam analisis ilmu sosial di Indonesia (Hilmar Farid, 2006).

Perdebatan membingungkan tersebut sempat menemukan titik terang ketika Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) mengukur klasifikasi kelas menengah dari tingkat pengeluarannya. Dalam laporan semester II 2010, batasan kelas menengah di Asia dapat diukur berdasar tingkat pengeluaran, yakni USD 2–20 per kapita per hari.

Dari patokan itu, ada tiga lapis kelas menengah. Pertama, kelas menengah-bawah yang berpengeluaran USD 2–4 per hari. Kedua, kelas menengah-tengah yang berpengeluaran USD 4–10 per hari. Ketiga, kelas menengah-atas yang berpengeluaran USD 10–20 per hari.

Saat ini diskursus tentang kelas menengah semakin menemukan titik terang. Salah satu indikatornya adalah hadirnya buku ini. Buku yang diterbitkan berdasar disertasi penulis di program doktoral FISIP Universitas Airlangga ini berhasil membuktikan bahwa kelas menengah di Nusantara sudah ada sejak era Kerajaan Mataram Islam di abad XVI.

Buku yang ditulis oleh dosen Sosiologi Universitas Trunojoyo Madura ini banyak membahas kelas menengah Indonesia yang cakupannya meluas tersebut dari perspektif sejarah sosial. Alih-alih mengandalkan data statistik seperti Bank Dunia atau ADB, buku ini malah mengandalkan data-data historis yang sangat kaya mengenai identifikasi kelas menengah beserta perilaku-perilaku khasnya.

Jika kajian kelas menengah sebelumnya banyak bersandar pada topik ekonomi (pendapatan dan konsumsi kelas menengah), buku ini justru menawarkan ide-ide tentang cara mengidentifikasi kelas menengah dalam sudut pandang yang bersifat historis dan politis. Asumsi dasar yang ditawarkan Arie Wahyu Prananta adalah konsep kelas pada dasarnya bukan merupakan pertanyaan tentang kategori pendapatan maupun pengeluaran. Kelas adalah sebuah konsep sosial-politik yang dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa perbedaan tetap terjadi antara perilaku orang-orang kaya dan miskin terhadap hal-hal yang merupakan kebaikan bersama (common goods) dalam lintasan sejarah periodisasi rezim pemerintahan politik di Indonesia.

Artinya, kerangka paradigmatik yang dikembangkan dalam buku ini adalah perluasan gagasan tentang kelas menengah Indonesia dalam kaitannya terhadap peristiwa-peristiwa politik dibandingkan hanya terpaku pada analisis pola konsumsi. Dengan meyakini bagaimana kelas menengah tersebut berperilaku dalam setiap babakan sejarah Nusantara hingga era Indonesia modern, buku ini berhasil menghadirkan ciri-ciri kelas menengah yang sangat berbeda dari yang Bank Dunia atau ADB lihat dalam statistik.

Hal tersebut tampak dari apa yang dijelaskan oleh penulis mengenai struktur kelas menengah di zaman Kerajaan Mataram Islam (halaman 26). Kemudian analisis penulis tentang kemunculan kelas menengah di masa-masa kolonialisme Belanda dan Jepang yang menghasilkan perspektif menarik mengenai relasi budaya Indis yang dibawa para bule Eropa dengan tumbuh kembangnya kelas menengah pribumi (halaman 41). Termasuk juga menguatnya peran kelas menengah di era Orde Lama (halaman 66) dan pengaruh sindrom kapitalisme semu (pseudo capitalism) sebagaimana ditulis oleh Yoshihara Kunio dengan kehadiran kelas menengah di era otoritarianisme Orde Baru (halaman 70). (*)

*) Dosen Sosiologi FISIB Universitas Trunojoyo Madura


Judul buku: Sejarah Kelas Menengah: Dari Zaman Kerajaan hingga Indonesia Modern

Penulis: Arie Wahyu Prananta

Tebal: xii + 98 halaman

Penerbit: Intrans Publishing

Tahun terbit: 2019

ISBN: 978-602-6293-79-4

Editor : Ilham Safutra


Close Ads