alexametrics

Membongkar Industri Prostitusi

Oleh: Rachma Ida
8 September 2019, 18:15:11 WIB

YUYUNG Abdi berhasil menerobos sekat-sekat sulit yang menantang dan berbau privat untuk mengungkap fenomena pekerja seks dan industri seks di Indonesia.

Industri seks dan prostitusi di Indonesia membuat semua mata terbelalak jika benar-benar dibongkar, diteliti, dan dipresentasikan. Dunia akademik selama ini seolah tidak berani menyentuh fenomena industri yang satu itu.

Itu tak terlepas dari keterbatasan akses dan ketidakberanian mengungkap fakta-fakta. Lalu menariknya, menjadi abstraksi teoretis atau proposisi-proposisi kritis ilmiah yang layak dipertanggungjawabkan dalam forum akademik ilmiah dan juga forum-forum kebebasan mimbar publik.

Yuyung Abdi telah menerobos sekat-sekat sulit yang menantang dan berbau privat untuk mengungkap fenomena pekerja seks dan industri seks di Indonesia. Melalui riset 10 tahun (2 tahun dalam penyelesaian riset untuk master/S-2 serta 8 tahun untuk riset doktoral/S-3 dan hunting), mantan wartawan Jawa Pos itu berhasil melakukan studi terkait dengan industri seks dalam pendekatan kajian media (media cultural studies).

Melalui kajian lens phenomenology, studi yang dilakukan Yuyung Abdi itu adalah terobosan bagi studi-studi media dan budaya di Indonesia dan internasional. Buku ini membuktikan bahwa lensa kamera sebagai ”regime” penglihatan menjadi alat metodologi untuk mengungkap fenomena sosial masyarakat.

Di kota besar, afiliasi tempat hiburan dan prostitusi menggeser peran lokalisasi. Integrasi tempat hiburan dengan pelacuran menjadi metamorfosis konsep prostitusi.

Beragam jenis prostitusi bermunculan. Street prostitution, online prostitution, hotel, pijat, hiburan (kafe, pub & karaoke), sex house, maupun lokalisasi. Terjadi layanan prostitusi dengan sistem terkonsentrasi di tempat hiburan atau pelacuran sekaligus terdistribusi secara personal.

Muncul perempuan yang bekerja dalam dunia prostitusi secara independen seperti prostitusi artis/model maupun online. Prostitusi personal itu melahirkan nilai.

Nilai tertinggi penjual jasa seks tidak selalu berdasar fisik tubuh, tapi status, usia, dan popularitas yang melekat pada fisik. Body (tubuh), performance (penampilan), place (tempat), space (ruang), dan identity (identitas) itu menentukan harga perempuan. Perempuan akhirnya menjual simbol/status yang melekat pada tubuhnya.

Prostitusi tidak selalu berbanding lurus dengan kemiskinan. Uang (materi), tubuh, hasrat seksual, dan cinta adalah aspek yang menyertai perempuan penjual jasa seks.

Dalam pelacuran, perempuan juga tidak selalu berada dalam ketertindasan (subordinat). Kadang memainkan peran dalam posisi superordinat.

Dengan tubuhnya, perempuan memainkan power untuk menundukkan laki-laki. Laki-lakilah yang dipelihara perempuan.

Itulah sebab mereka mencari pacar untuk memuaskan hasratnya. Padahal, mereka melayani hasrat banyak laki-laki. Laki-laki itulah yang akan memberikan perhatian maupun kasih sayang, meskipun kadang juga artifisial.

Di Indonesia, rotasi, migrasi, transfer, mutasi, dan promosi pelacur dibagi menjadi tiga jalur utama. Yang pertama adalah migrasi pekerja seks jalur barat. Transfer itu umumnya berawal dari Jawa Barat, daerah sekitar Bandung hingga Indramayu. Para mojang geulis di daerah tersebut kerap dibawa para calo ke Jakarta, Batam, Lampung, Palembang, Bengkulu, Riau, Jambi, dan Medan.

Migrasi pekerja seks jalur tengah adalah para perempuan dari wilayah Jawa Tengah. Pekerja seks itu mengais rezeki di Semarang terlebih dahulu atau hanya menjadikannya tempat singgah.

Mereka berasal dari sekitar Semarang, yakni Pati, Blora, Kendal, Pekalongan, dan Purwokerto. Pekerja seks selanjutnya mengadu nasib ke Kalimantan Tengah lewat Pangkalan Bun, lantas menuju Sampit dan Palangkara. Ada juga yang menuju Samarinda maupun Balikpapan.

Dalam transfer pekerja seks di bagian timur Indonesia, Surabaya menjadi transit perempuan sebelum dikirim ke Banjarmasin, Batu Licin, Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Muara Teweh, Makassar, Ambon, Tual (Kepulauan Aru), hingga Papua.

Bali dan Batam menjadi destinasi wisatawan dari pelosok mana pun, termasuk menjadi mimpi bagi para pekerja seks komersial. Sebagai tempat kunjungan kerja dan wisata, Bali dan Batam memiliki karakteristik prostitusi yang hampir sama. Tipologi prostitusi dua daerah itu mirip pada sisi masivitas migrasi, rotasi perempuan penjual jasa seks yang mencari keberuntungan. Salah satu problem daerah wisata adalah munculnya pelacuran.

Buku ini diharapkan memberikan sumbangan secara akademik sekaligus superpenting bagi pembuat kebijakan di Indonesia untuk memikirkan industri kenikmatan, komodifikasi tubuh dan kulit, serta cengkeraman yang mengikat perempuan yang selalu menjadi korban: kapitalisasi (ekonomi) dan keterpurukan moral manusia.

JUDUL BUKU: Prostitusi; Kisah 60 Daerah di Indonesia

PENGARANG: Dr Yuyung Abdi

PENERBIT: Airlangga University Press

EDISI: Pertama, 2019

HALAMAN: 310 halaman

ISBN: 978-602-473-055-0


RACHMA IDA, Guru besar Universitas Airlangga

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads