alexametrics

Kuliner Semarangan Tak Hanya dari Semarang?

8 Maret 2020, 19:25:22 WIB

Buku ini disusun dengan referensi yang kurang kaya dan riset lapangan yang minim sehingga kurang mendalam dalam mengeksplorasi kuliner Semarangan.

SEBAGAI destinasi wisata kuliner, Semarang boleh jadi masih kalah populer oleh kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya, bahkan Solo. Namun, bila ditelisik, kota yang pernah dijuluki Venesia dari Timur oleh orang-orang Belanda karena keindahan geologinya itu sesungguhnya sangat kaya khazanah kuliner.

Belum banyak buku yang mengupas kuliner Semarang secara khusus dan mendalam. Karena itu, ketika terbit buku tebal yang mengeksplorasi kuliner di ibu kota Jawa Tengah itu, ada ekspektasi tinggi bahwa buku tersebut akan secara mendalam menghadirkan khasanah kuliner Semarang dari banyak sisi. Baik sejarah, filosofi, keanekaragaman, maupun kekhasannya.

Namun, ternyata ekspektasi itu meleset. Buku setebal 464 halaman ini tak terlalu dalam mendedah dan menyigi aneka kuliner Semarang yang sejatinya sangat kaya dan kompleks. Padahal, saat membaca judul utama buku ini, Kuliner Semarangan, asosiasi kita akan membayangkan kupasan puspawarna kuliner khas dari Semarang saja. Ternyata tidak demikian.

Pada pendahuluan, penulis buku ini menyebutkan, daerah kuliner Semarangan meliputi Provinsi Jawa Tengah yang dekat dengan pesisir utara Pulau Jawa di sebelah timur. Misalnya daerah Batang, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Lasem, Blora, Grobogan, dan Purwodadi (halaman 3).

Perluasan makna Semarangan seperti itu sejauh ini tidak dikenal. Istilah Semarangan selama ini ya dipakai untuk menunjuk hal-hal yang terkait dengan Semarang dan wong Semarang. Antara lain, dialek, perilaku, adat istiadat, seni, dan budaya.

Budayawan Semarang Djawahir Muhammad dalam bukunya, Semarang Lintasan Sejarah dan Budaya (2016), saat membahas tradisi lokal Semarangan juga mengaitkannya dengan tradisi dan budaya masyarakat Semarang. Budaya lokal yang dimaksudkan adalah perilaku sehari-hari wong Semarang yang berbasis pada nilai-nilai tradisi lokal (local genius).

Mengaitkan istilah Semarangan ke ranah geografis yang lebih luas, yaitu ke budaya masyarakat di luar Semarang seperti yang dibawa buku ini, tentu adalah sesuatu yang baru dan (boleh jadi) ijtihad dari para penulisnya. Bila landasannya adalah sejarah, mungkin yang lebih tepat adalah dalam lingkup karesidenan. Yakni, pembagian wilayah pada zaman Hindia Belanda yang secara administratif masuk lingkup Karesidenan Semarang. Meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Grobogan.

Meski secara historis daerah-daerah itu terkait, toh pada perkembangannya, budaya Semarangan menunjukkan kekhasannya sendiri yang berbeda dengan budaya masyarakat di daerah luar Semarang. Termasuk dalam hal kuliner, Semarang juga memiliki nuansa, cita rasa, dan kekhasan tersendiri yang melimpah, yang sebenarnya sangat bisa dieksplorasi dan didokumentasikan dalam sebuah buku tebal seperti buku ini.

Ragam kuliner Semarang dan daerah sekitarnya hanya dijelaskan secara sekilas. Lebih menyerupai direktori, di mana sebuah entri kuliner diberi penjelasan atau deskripsi seperlunya, lalu dilengkapi dengan foto (tidak semua) dan resep. Sehingga pembaca tidak mendapatkan kupasan tajam yang mendalam tentang entri kuliner yang sedang dibahas.

Sepertinya buku ini disusun dengan referensi yang kurang kaya dan riset lapangan yang minim sehingga kurang mendalam dalam mengeksplorasi kuliner Semarangan. Terutama dari sisi sejarah dan kisah para pelakunya yang telah berhasil menjaga dan mewariskan usaha kuliner pusaka dari generasi ke generasi.

Andai saja buku ini fokus mengupas kuliner Semarangan dalam arti kuliner Semarang saja, akan banyak kupasan menarik yang dapat dibahas secara mendalam. Soal soto, misalnya. Soto legendaris khas Semarang bukan hanya soto Bangkong, tapi juga ada soto bokoran, soto selan, dan soto Pak Man. (*)

JUDUL BUKU: Kuliner Semarangan
PENULIS: Murdijati Gardjito, Nurullia Nur Utami, dan Chairunisa Chayatinufus
PENERBIT: Andi, Jogjakarta
CETAKAN: I, 2019
TEBAL: xvi + 464 hlm
ISBN: 978-979-29-9910-5


BADIATUL MUCHLISIN ASTI, Peminat kajian kuliner Nusantara, ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan

Editor : Ilham Safutra



Close Ads