alexametrics

Yang Tak Terjebak dalam Hal-Hal Klise

Oleh ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN
5 Desember 2021, 09:11:12 WIB

Beberapa puisi, bagi saya, memang bersifat kamuflase, terasa remang. Karena itulah, puisi memerlukan pembacaan yang lebih jauh. Namun, dengan kamuflase kata yang dibentuk Ahda, puisinya seperti melompat dan berbicara pada bentangan lain. Secara tersamar, beberapa puisi Ahda menguliti bagaimana kita terjebak dalam sejumlah hal yang suci, tetapi ternyata menyisakan kebobrokan.

Pun dalam setiap perkataan, bagaimana lidah tak bertulang, tetapi ternyata meninggalkan aroma kebencian yang beranak pinak. Dan, bukankah kita diingatkan dengan perumpamaan lama: mulutmu harimaumu. Bagaimana Ahda berupaya memberikan peringatan tentang ”lidah”: Aku ingin keluar/Membersihkan waktu/Lalu tidur di atas batu/ Di dalam hutan di bawah akar (Puisi Buku Harian Lidah, hal 67)

Dia memang berusaha untuk berproses dan bersikap dalam puisinya. Namun, dia tak serta-merta memberikan stigma yang kental akannya.

Bahkan, saat menggambarkan ritual ibadah puasa, Ahda membentangkan sejumlah idiom yang tak lazim. Suatu hal yang menggambarkan ketaklukan, ketaatan, dan kepasrahan kepada Sang Pencipta: Dari sahur ke magrib/Berenang tubuh ke tepian/Lapar hausku telah raib/Sebab akulah hidangan// (Puisi Hidangan, hal 25).

Akhirnya, Ahda sebagai pengamat ingin menyisihkan ruang bagi orang lain, terutama untuk dirinya sendiri. Puisi-puisinya merupakan kesaksian zaman, yang meskipun tak mengentak sebagaimana layaknya puisi-puisi W.S. Rendra, mampu membingkai realitas sosial secara utuh. Setidaknya, dalam gumam melalui puisi-puisinya, Ahda berupaya mengoyak rangka kesadaran kita agar tetap senantiasa terjaga. (*)


*) ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN, Staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan PTSP Kota Administrasi Jakarta Barat

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads