alexametrics

Yang Tak Terjebak dalam Hal-Hal Klise

Oleh ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN
5 Desember 2021, 09:11:12 WIB

Suatu hal yang mengingatkan saya pada kerja penyair Chairil Anwar, Ahda seperti tenang mengurai kata demi kata sehingga terasa sulingan puisinya, menyentak hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dengan daya jelajah imajinasinya, puisi dapat dengan seketika menyeberang dari satu realitas ke yang lain. Namun, ia tak hanya menghadirkan realitas itu sendiri, tetapi turut membingkainya dengan kenyataan lain.

Terkadang terasa pahit, tetapi ternyata hadir dalam keseharian kita. Dan, puisi memolesnya lewat rangkaian diksi yang tersusun sehingga memberikan semacam kesadaran atau sekadar penghiburan.

Dan, Ahda turut berkisah tentang puisi yang begitu khidmat. Berusaha dirinya untuk keluar dari teks tafsir, tak menjadikan dirinya sebagai mitos, tetapi hanya menyuguhkan puisinya, sebatas puisi. Mungkin pula, ini hanya sebatas kegelisahan Ahda saat berusaha mendefinisikan puisi semacam yang pernah ditulisnya dalam Pelajaran Menulis Puisi:

Kusimpan diriku dalam sajak/Kata-kata mengelak, mengusir/ke jantung debu//Aku bukan pesuruh//Kucari remah diriku dalam sajak/Kata-kata tegak membuka pintu/mematikan lampu//Aku pengicuh//Kulupakan diriku dalam sajak/Kata-kata memanggul tubuhku/Sepanjang jalan ia memanggilmu//Lama sabakhtani…(Puisi Dalam Sajak, hal 20)

Kamuflase Kata

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads