alexametrics

Yang Tak Terjebak dalam Hal-Hal Klise

Oleh ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN
5 Desember 2021, 09:11:12 WIB

Akhirnya memang puisi selalu berhadapan dengan realitas, tetapi seperti meninggalkan relief purba. Ia mengentakkan alam bawah sadar, membangkitkan sejumlah citraan yang baru, menggoyahkan ingatan, dan membuka batin diri. Dan, Ahda pun menuliskan:

Aku berasal dari silsilah Panjang kesombongan// Silsilah yang lebih lapang dari perbuatan/ orang kafir yang pandai bersolek itu. Kaum/yang menyangkal Tuhan, yang beriman/pada tubuh dan pikiran. Kesombongan/yang terlalu cepat membuatku bosan// (Puisi Silsilah Kesombongan, hal 2)

Atau, di puisi lainnya, Ahda seperti ingin menggugat perilaku para ”pengantin” teror bom bunuh diri:

Orang suci dan bidadari/Kafan putih orang mati//Harum tubuh bidadari/Hangus daging orang mati// (Puisi Pengantin, hal 9). Di sini Ahda memaparkan diksi-diksi yang ”terang”, tetapi justru memunculkan efek domino yang luas akannya.

Meskipun dia tak bermaksud untuk berkhotbah, ada sejumlah gaung pertanyaan yang melayang, mengirimkan pesan yang secara sadar bahwa tak pernah ada agama yang mengajarkan dendam dan permusuhan.

Puisi-puisi Ahda dalam kumpulan ini terasa tertib menjaga diksi. Ia seperti mengencangkan setiap kata, berharap tak ada celah yang mubazir antara satu kata dan lainnya.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads