alexametrics

Upaya Mengobati Luka Masa Kecil

Oleh TUFAIL MUHAMMAD*
5 Juni 2022, 05:55:28 WIB

Ditulis sendiri oleh seorang penderita gangguan mental, buku ini mengungkapkan pola pengasuhan orang tua dan emosi yang dia rasakan.

DI Indonesia, tidak banyak literatur yang membahas persoalan gangguan mental (mental disorder) yang ditulis langsung oleh penderitanya. Selama ini, literatur tentang gangguan mental didominasi dengan buku-buku ilmiah hasil penelitian para psikolog maupun psikiater.

Hal ini setidaknya disebabkan penderitanya belum mampu memahami kondisi emosinya sendiri alih-alih dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya dalam bentuk tulisan. Selain itu, faktor stigma negatif dari masyarakat terhadap penderita gangguan mental turut andil memberikan rasa takut kepada mereka untuk bisa jujur. Bahkan pergi meminta bantuan terhadap pihak profesional pun enggan.

Ditulis oleh Patresia Kirnandita, seseorang yang didiagnosis memiliki kecenderungan borderline personality disorder (BPD), suatu gangguan kejiwaan yang ditandai dengan suasana hati dan perilaku tidak stabil, buku berjudul Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa ini patut diapresiasi. Khususnya karena keberaniannya dalam mengungkapkan pola pengasuhan orang tua dan emosi yang selama ini dia rasakan.

Inner child yang terluka, begitulah kira-kira tema utama dalam buku ini. Suatu konsep yang diperkenalkan Carl Gustav Jung (1875–1961). Yang secara sederhana dapat dipahami sebagai bagian kepribadian seseorang yang masih bereaksi dan merasa seperti anak kecil.

Mengawali kisah dari bagaimana pola pengasuhan orang tua, Patrisia merekam beberapa kejadian di masa kecil yang membuatnya menjadi sosok dewasa dengan membawa luka batin dari masa kecil atau luka inner child. Mulai perintah orang tua agar dia makan, pengabaian orang tua terhadap perasaan serta emosinya, hingga perasaan tidak percaya (trust issue) terhadap sang orang tua.

Patresia menulis, ”Suatu hari sepulang sekolah saat SMA saya mendapati posisi buku diari yang tak terletak sebagaimana saya taruh sebelumnya. Tidak ada orang lain selain Mama di rumah ketika itu. Dari situ kekesalan saya membengkak, dan saya mulai mengunci kamar bila hendak pergi, entah ke sekolah atau ke gereja. Selama bertahun-tahun saya hanya keluar kamar untuk mengambil makan dan mandi atau buang air” (halaman 10).

Kejadian tersebut begitu membekas dan membuatnya menjadi pribadi yang sulit untuk memercayai orang lain. Dan, sosok pertama yang Patrisia kehilangan kepercayaan kepadanya adalah orang tuanya sendiri. Ironis, sosok yang sangat dekat dengannya, baik karena hubungan darah maupun jarak fisik, justru adalah sosok yang tidak dia percayai.

Tentu saja buku ini tidak ditujukan untuk menghakimi atau mengungkit perlakuan orang tua. Namun, untuk bersikap jujur dengan mengakui bahwa terdapat perlakuan dari orang tua yang itu melukainya.

Dengan kalimat lain, keterusterangan seorang anak dalam mengungkapkan pola asuh orang tua yang menyakiti dan melukainya (toxic parenting) tidak dapat dipahami sebagai kekurangajarannya. Tetapi, hal tersebut merupakan bagian yang dengannya proses pemulihan luka batin atau inner child yang terluka. Luka yang ditutupi akan sulit diobati.

Kita tahu bahwa kekerasan, baik fisik maupun psikis, sering kali menular. Seseorang yang menjadi dewasa dengan membawa luka batin dari masa kecilnya akibat pola asuh orang tua yang memaklumi kekerasan memiliki kecenderungan melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak di kemudian hari.

Tidak tertutup kemungkinan orang tua Patresia mendapat perlakuan yang sama dari orang tua mereka dahulu di saat masa kecilnya. Dengan sangat syahdu Patresia menulis, ”… Kalau kami bisa bertemu lagi di semesta lain, saya di posisi sekarang sebagai anaknya, yang sama sepertinya sebagai orang dewasa, saya akan memilih menemaninya, secanggung apa pun awalnya karena kami tak pernah benar-benar dekat. Saya berharap dia membagikan sedikit rasa sakit atau kecewanya karena mungkin dulu diperlakukan Mbah sebagaimana ia memperlakukan saya, sama-sama berjalan memulihkan diri sebagai anak-anak yang pernah terluka” (halaman 211).

Dengan demikian, mengungkapkan luka masa kecil tidak saja untuk proses pemulihan. Namun juga untuk pemutusan mata rantai kekerasan dengan harapan tidak ada korban selanjutnya. (*)


*) TUFAIL MUHAMMAD, Alumnus Psikologi Universitas Airlangga, tinggal dan bekerja di Jakarta


  • Judul: Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa
  • Penulis: Patresia Kirnandita
  • Penerbit: EA Books
  • Cetakan: Pertama, 2021
  • Tebal: xviii + 230 halaman

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads