alexametrics

Penjualan Buku Dipersulit Tak Adanya Lomba untuk Anak

4 April 2021, 13:58:33 WIB

JawaPos.com – Di website mereka masih ada puluhan seri ensiklopedia mini. Ada pula kumpulan dongeng binatang hingga kumpulan cerita anak Nusantara.

Tapi, itu stok lama. Sudah sejak tiga tahun lalu penerbit Indoliterasi tak lagi memproduksi buku anak. ”Biaya buku anak tinggi. Harus full color dan oplah (cetak) banyak biar harga masuk,” kata Ribut Wahyudi, direktur penerbitan yang bermarkas di Bantul, Jogjakarta, itu, saat dihubungi Jawa Pos melalui telepon.

Pada 2014, berdasar survei Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia), di toko buku jaringan Gramedia, penjualan terbesar dari kategori buku-buku anak. Itu memperlihatkan di satu sisi ceruk ini punya potensi besar.

Tapi, di sisi lain, kendalanya juga tak sedikit. Dengan harga jual yang terbilang rendah dibandingkan buku untuk konsumen dewasa, biaya produksinya, seperti disebut Ribut, justru tinggi.

Itu diperparah dengan situasi pandemi sekarang ini. Riset terbaru Ikapi menunjukkan, 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan antara 31 hingga 50 persen. Sedangkan 8,2 persen penerbit lainnya penjualannya merosot 10–30 persen. Adapun yang kondisinya relatif sama dengan sebelum pandemi hanya 4,1 persen penerbit.

Dulu, sebelum pandemi, toko-toko buku masih bisa meraup kentungan lewat acara lomba-lomba untuk anak. Misalnya lomba mewarnai gambar. Selain itu, ada field trip ke toko buku anak-anak PG dan TK.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : rin/c9/ttg




Close Ads