alexametrics

Resolusi Warsa Anyar

Oleh SUJIWO TEJO
3 Januari 2021, 20:49:07 WIB

Dia kebutuhan, Kekasih. Dia gelas setengah penuh yang selalu tersenyum pada kepenuhannya. Sedangkan sebelah dia itu keinginan, Kekasih. Dia gelas setengah penuh yang selalu menangisi kekosongannya.

TINGTING Jahe tahu betul beda kebutuhan dan keinginan. Perempuan dengan pinggang aduhai ini bukan tipe penangis kekosongan di antara gelasnya yang sudah setengah penuh. Gelasnya sudah setengah isi? Wah, dia sudah berkali-kali bersujud untuk itu. Dalam keadaan gelap samar karena kabut dan lain-lain, di entah Tibet entah bukan ini, perempuan yang sangat mengidamkan Pendekar Sastrajendra itu tahu betul bahwa sosok di depannya, walau masih agak jauh dan gelap samar, sudah patut disyukurinya.

Seekor bebek yang dibuntutinya dari jauh hingga tiba di tempat tak terbayangkan ini samar-samar pula menjelma elang. Perubahan magis tersebut terjadi begitu tak terduga tepat di hadapan hidung si pendekar gaek. Suaranya dari kwek kwek kwek berubah jadi kwaaaaaak…kwaaaaaak… Kadang campur menggaok seperti gagak. Mengerikan. Hmmm… Diakah Pendekar Elang Langlang Jagad?

Jadi, yang selama ini menuntun Tingting Jahe dan Tingting bocah bukan bebek biasa yang memisahkan diri dari kawanannya di suatu cabang jalan setapak di Sinjay, yang bisa berjalan santai di atas deretan buaya, para piton, macan-macan, hingga tertatih-tatih kwek kwek kwek… mengapung di atas gunduk-gundukan mendung yang berarak-arak?

Di dalam kabut yang gelap samar dengan sesekali bersiat-siutan suara desau badai salju, kedua tokoh tampak bersitegang. ”Biarkan indukku melampiaskan sewotnya,” bisik Tingting bocah ke Tingting Jahe. Ia seraya menahan lengan Tingting Jahe untuk tidak mendekati Elang Langlang Jagad yang mulai mencakar-cakar Pendekar Sastrajendra.

”Biarkan, Bulek! Biarkan! Itu pasti bukan cakar sungguhan. Kalaupun cakar sungguhan, pasti pendekarmu sanggup mengatasi itu. Lagian ini bukan gegara Pendekar Sastrajendra tak becus menjaga amanah indukku untuk menjagaku selama beliau pergi menembus lorong waktu. Waktu itu beliau hengkang dari sini untuk mengamati pilkada entah di zaman apa. Betulkah pilkada diadakan murni demi bangsa dan negara?”

”Ternyata pil itu murni?”

”Aku mana tahu? Lagian aku ndak punya urusan apakah pil itu murni atau tidak.”

”Hmmmm… Dulu ada laki-laki mampir kedaiku karena salah masuk lorong waktu. Dia dari masa depan. Dia sangka pilkada itu ada di masa lampau.”

”Aku sudah dengar cerita itu, Bulek. Pemuda itu ndak bisa balik lagi ke masa depan karena keburu dihajar Pendekar Sastrajendra.”

”Tepatnya terhajar. Pemuda itu yang menyerang duluan…”

”Betul. Terhajar. Aku salah ngomong tadi, Bulek. Pemuda itu menggunakan jurus Tiktok Tiktok di Dinding.”

”Kok tahu?”

”Pendekar Sastrajendra cerita sendiri padaku… Aku rebah di pangkuannya. Dia bercerita saat purnama dan lolongan serigala kutub di kejauhan.”

”Dia cerita betapa gerakan tiktok pemuda itu sangat cepat di mata awam, namun lambat banget di mata beliau, selambat bekicot jalan? Tangkisan sang pendekar justru secepat bekicot memangsa tomat. Berpuluh kali lipat dari kecepatannya saat berjalan merambat? Dia cerita itu?”

”Tidak.”

”Dia cerita, pedang yang tiba-tiba muncul dari dinding itu ia tangkis dengan jurus Ludah Kulit Udang Busuk. Cipratan ludahnya yang sudah dia mantrai bukan saja membelokkan pedangnya, tapi juga menimbulkan bau busuk walau tak sebusuk bau orang yang sok bermoral padahal bajingan?”

”Tidak. Pendekar cuma cerita tentang pemuda itu. Dia roboh. Darah birunya muncrat hingga mengenai kemben penutup belahan dada seorang perawan tingting bakul kedai.”

***

Pendekar Elang Langlang Jagad telah berlalu ditelan halimun. Samar-samar Pendekar Sastrajendra merentangkan tangannya di kejauhan, menyongsong yang jauh-jauh telah sudi datang menyambanginya. Tingting Jahe menangis bahagia.

Senyum gelas setengah penuh itu berangsur-angsur menjadi senyum gelas setengah kosong tatkala Tingting Jahe sadar bahwa rentangan tangan Pendekar Sastrajendra tertuju ke Tingting bocah. Tingting bocah seperti tanggap sasmita. Ia menarik lengan baju Tingting Jahe. ”Ayo sama Bulek.”

Bulek menggeleng pelan. Air matanya jatuh. ”Pendekar Sastrajendra kangennya sama kamu, Nduk. Sana!”

Tingting bocah berlarian menghambur. Mereka berpelukan lama sekali. Tidur pun berdekapan berdua pada api unggun.

***

Kelihatannya ada di antara kalian yang ngempet bertanya, bagaimana nasib seorang perawan tingting bakul kedai yang kita namai Tingting Jahe selama berpekan-pekan Pendekar Sastrajendra asyik masyuk dengan Tingting bocah, tidur pun mereka berdekapan laksana ayah dan bayinya?

Apakah karena sang pendekar mengendus bahwa Tingting Jahe sudah kehilangan kehormatan saat membebaskan Tingting bocah dari jagabaya Dusun Kake’anmu?

Ah, bisa jadi bukan itu perkaranya. Bisa saja Sang Pendekar sedang ingin menguji Tingting Jahe agar pada warsa anyar ini ia lebih fokus menerjemahkan diri ke dalam bahasa kehidupan bersama. Terlalu fokus menerjemahkan segala yang asing ke dalam bahasa diri, itulah kekeliruan hampir semua orang selama ini.

”Ooooooo….” serigala salju mengaum panjang sekali. (*)

SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra


Close Ads