alexametrics

Sindiran Seno tentang Kehidupan

Oleh: Alexander Robert Nainggolan
1 September 2019, 17:01:16 WIB

KEBANYAKAN kisah dalam buku ini mengambil latar kota besar, kehidupan yang serba tergesa, ditambah ketakjuban terhadap berbagai teknologi yang berkembang begitu cepat.

DI tangan Seno Gumira Ajidarma, dunia cerita kita menjadi terasa cair, mengasyikkan, dan tidak cengeng. Sejumlah rentetan kisah yang hadir ditulis Seno begitu menggugah.

Semacam sebuah perayaan bahwa sebuah prosa memang ’’menggoda’’ dan kerap terpahat dalam ingatan. Bertahun-tahun setelah cerita itu selesai ditulis.

Pun dengan terbitnya buku ini, ’’Transit’’, kumpulan cerita yang dihimpun dari pelbagai penerbitan di media massa. Seno seakan membuka sekat-sekat baru dalam gaya berceritanya.

Dengan mengambil tema yang remeh sekalipun, semacam dalam ’’Sepatu Kulit Ular’’ , ’’Gubrak!’’, atau ’’Lingerie’’, Seno ingin menghadirkan betapa munafiknya kehidupan yang kita bangun. Pura-pura tidak mau, padahal mau. Pura-pura peduli, padahal tidak peduli.

Kebanyakan kisah dalam buku ini mengambil latar kota besar, kehidupan yang serba tergesa, ditambah ketakjuban terhadap berbagai teknologi yang berkembang begitu cepat tanpa bisa dicegah. Seno memberikan bumbu pada ceritanya dengan kisah-kisah cinta yang kelabu, tak suci, dan dipenuhi dengan dusta.

Narasi kerusuhan di sebuah kota yang hadir dalam ’’Jakarta City Tour’’ melalui perjalanan wisata bagi turis-turis asing menyisakan suasana teror yang mencekam. Dengan kalimat-kalimat yang penuh makian, Seno menggambarkan perjalanan di sebuah kota yang sama sekali tidak menyenangkan.

Sebuah bus yang tak bisa dibuka terus berjalan dengan suguhan pemandangan yang mengerikan. Sketsa orang-orang diseret, pembantaian, gedung yang terbakar, penjarahan hadir silih berganti (hal 1-9).

Anomali lainnya hadir pula dalam cerpen ’’Gubrak!’’, sebuah kisah tentang kecantikan yang ternyata meninggalkan ’’luka’’-nya sendiri. Hingga akhirnya, sosok yang cantik tersebut justru tidak menikmati kecantikan dirinya sendiri:

Ia tidak lagi mengagumi kecantikan wajahnya. Memegang cermin kecil di tangan kiri, tangan kanannya memegang pisau setajam silet yang sedang bergerak untuk menyayat-nyayat wajahnya sendiri… Gubrak! (hal 46).

Buku ini berisi 16 cerpen, yang kebanyakan sarat dengan sindiran dari Seno tentang kehidupan. Kota besar dengan tabiatnya yang sangar, cinta yang penuh dengan perselingkuhan, kegaduhan peristiwa sosial, bayangan kelam. Semua cerita menyisakan relung panjang untuk merenung dan terperangah, jika mungkin saja imajinasi yang ada dapat menjadi kenyataan sehari-hari.

***

Sejumlah deskripsi yang dihadirkan Seno begitu terperinci. Ia seperti menggugah unsur dalam diri pembacanya saat membaca setiap untaian kalimat yang hadir melingkupi cerpennya. Suatu hal yang mengingatkan saya pada ungkapan John Lennon, musisi legendaris itu, bahwa imajinasi adalah lorong tanpa tepi. Lewat imajinasi segalanya terlampaui, bahkan ilmu pengetahuan yang nyata (eksak) sekalipun. Melalui imajinasi pulalah, manusia bisa ’’terbang’’ seperti burung dengan pesawat ataupun menjejakkan kaki ke bulan.

Setidaknya, Seno tak mengutamakan keromantisan belaka. Ia turut pula hadir dalam kisah lainnya, yang tak kalah mencengangkan ihwal kehidupan kaum papa, minoritas, pula dalam sejumlah kekalutan dalam kekejaman kemanusiaan ataupun politik. Ia menelusup ke segala kalangan.

Cinta yang orang kaya, juga orang miskin. Seno juga bermetamorfosis dalam sejumlah ’’protes’’ semacam dalam cerpen ’’GoKill’’ –sebuah fragmen tentang aplikasi untuk memesan pembunuh. Seno menulis begini: Sekarang ini, kalau butuh ojek dikau akan mengontak GoRide; kalau mau pesan makanan dikau akan menghubungi GoFood; jika tiada asisten rumah tangga di rumahmu sehingga rumahmu penuh dengan sarang laba-laba, dikau akan klak-klik-klak-klik mendatangkan GoClean; kalau perlu mobil sama seperti dikau memerlukan ojek dikau akan memanggil GoCar; dan jika dikau ingin membunuh seseorang, tetapi tidak merasa mampu melakukannya sendiri, sehingga harus meminjam –tepatnya membayar– tangan orang lain, dikau akan menggunakan jasa GoKill (Cerpen ’’GoKill’’, hal 110).

Beberapa cerpen yang ditulisnya begitu dekat dengan keseharian. Namun, betulkah cerpen kita telah sedemikian dekat dengan kejadian sehari-hari? Goenawan Mohamad, dalam kata penutup di buku kumpulan cerpen pilihan Kompas, pernah menyinggung ihwal sulitnya seorang penulis cerita mengungkapkan gagasannya dalam rangkaian kalimat yang menarik.

Padahal, dunia puisi yang kita miliki mulai menunjukkan ke arah sana. Dengan sajak-sajak lirik yang masih bertahan sejak Hamzah Fansuri. Artinya, gaya lirik tak pernah hilang dalam gaya penulisan kita. Sebab, hal itulah yang lebih mudah dipahami, ditelaah oleh publik luas.

Mungkin kita bisa memulainya dari sana. Apa yang dikerjakan Seno merupakan sebuah pergumulan kreativitas yang tak berkesudahan. Ia meninggalkan kisah yang mendalam. Memotret segala fenomena yang terkadang terabaikan oleh banyak orang. Ia berusaha untuk tetap mengingatkan. Agar kita senantiasa terjaga sekaligus meninggalkan sindiran ke banyak orang. (*)

Judul buku: Transit

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun: 2019

Tebal: vii + 141 halaman


Alexander Robert Nainggolan, Cerpenis, esais, penyair

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads