alexametrics

Menengok Sumur, Mengintip Desa

1 Agustus 2021, 07:51:26 WIB

Buku terbaru Eka Kurniawan sukses menautkan sumur pada perihal paling esensial dalam hidup manusia, yakni cinta dan prahara ekologi.

Oleh MUHAMMAD NANDA FAUZAN, Esais dan prosais, bermukim di Serang, Banten

DALAM lanskap masyarakat tradisional, selain pasar, sumur adalah pusat aktivitas sosial. Lubang galian ini juga menjadi gudang yang disesaki oleh aneka mitos dan sejumlah aturan; dilarang menggali terlalu dalam, pamali menutup yang sudah tak berfungsi, hingga letak yang diatur sedemikian ketat.

Di beberapa tempat, kita jumpai pula sumur bertransformasi menjadi ruang sakral dan lokus keramat. Dengan makna yang demikian menjejal, sumur memang menjadi lahan potensial untuk digarap dalam bentuk cerita.

Sekadar menyebut beberapa contoh, saya teringat pada cerita pendek berjudul Sumur (2011) yang ditulis oleh Muna Masyari atau Sumur Gumuling (2017) karya Indra Tranggono. Keduanya berhasil menyiratkan sumur sebagai subjek yang dilingkupi aura magis-mistis sekaligus meletakkannya secara utuh dalam pranata sosial.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads