alexametrics

Pulang ke Cerita Kampung Halaman

EKO TRIONO, Penikmat dan penulis cerpen
1 Mei 2022, 05:11:18 WIB

Di momen mudik kali ini, penggambaran konflik sosial, politik, di kampung dan di kota dalam buku ini dapat menjadi teman perjalanan. Perjalanan dalam arti dari satu tol ke tol lain, atau dari kecemasan ke kecemasan lain, dari stasiun, terminal, atau bandara yang lain.

LEBARAN tahun ini, pulang ke kampung halaman diperbolehkan. Walaupun istilah ’’pulang kampung’’ memiliki negasi ’’pergi ke kota’’, mengandung anggapan bahwa kota adalah tujuan hidup, tetapi kampung adalah ibu kandung kehidupan bagi sebagian besar orang.

Di luar persoalan istilah geografis dan administratif, kampung dan kota juga memiliki persoalan sosiologis. Pergerakan-pergerakan individu di sana tak hanya menandai arus ekonomi, tetapi juga arus konflik sosial. Ada ’’tukar-tangkap’’ dan ’’rindu-dendam’’ di setiap jalan penghubung keduanya. Jalan dalam makna kiasan, maupun bukan.

Salah satu cerita pendek dalam buku Uang yang Terselip di Peci karya Satmoko Budi Santoso menggambarkannya. ’’Di jalan itu bukan kebahagiaan yang didapat hari-hari belakangan ini. Tapi, kengerian.” (’’Alamat Kebahagiaan’’, hal 11).

Dalam cerpen tersebut, digambarkan bagaimana sosok tokoh yang mencari kebahagiaan hingga ke jalan-jalan. Jalan merupakan pembeda paling signifikan antara kampung dan kota.

Secara kontur, jalan kampung identik dengan tanah, sementara kota aspal. Secara sebaran, kota dikelilingi oleh jalan-jalan berlampu, meski orang kampung pun membayar pajak penerangan jalan, serta dipadati oleh rayapan kendaraan, yang pada momen Lebaran akan ’’bertukar tempat sesaat’’, saat kota lengang dan kampung gemerlap oleh pemudik yang tebar pesona.

Gambaran-gambaran tentang perasaan karakter tokoh dari kota yang merasa lebih hebat mudah pula dijumpai pada cerita-cerita berikutnya. Namun, gambaran yang paling sering muncul adalah tentang jalan dan kampung halaman.

Cerpen ’’Ke Kota’’, misalnya, semakin gamblang menempatkan tokoh ’’kampung’’, yang harus berhadapan dengan kehidupan kota. Dibuka dengan kutipan puisi dari Sapardi Djoko Damono, ’’sebermula dari kata/ baru perjalanan dari kota ke kota…//’’ (hal 39), cerpen ini mengangkat nasib mereka yang belum panen, belum berhasil, di ladang kota yang menggiurkan. Tokohnya bekerja di gedung-gedung megah, tetapi tetap makan di emper trotoar. Jalan kembali menjadi simbol ’’rindu-dendam’’.

Kita pun akan menemui eksplorasi jalan ini pada cerita-cerita yang lainnya. Misalnya pada penggambaran saat jalan adalah tempat orang-orang meminta sumbangan, di sisinya tempat orang menjual angkringan selama krisis pandemi, menjual terompet berbentuk domba di tahun baru, gambaran sosial politik tentang Punakawan, tokoh pewayangan, yang turun ke jalan, baliho-baliho caleg yang hidungnya diberi gambar badut, hingga yang mengangkat persoalan adat seperti ’’sasi’’.

Yakni, mengangkat tema hukum adat di Maluku, yang saat orang melakukan kejahatan misalnya melanggar pemanfaatan sumber daya alam, terutama hasil laut, harus memikul kotorannya sendiri keliling kampung, sembari bilang, ’’Aku tak berguna untuk kampung ini, seperti kotoran yang kubawa!’’ (’’Sasi’’, hal 68).

Jalan lain yang sifatnya nonkonvensional adalah jalan media sosial. Cerita-cerita dalam buku ini, yang berisi 21 cerita pendek, yang menurut pengantar penulis dipilih dari rentang selama 15 tahun berkarya, sering memanfaatkan kemunculan dialog mendadak melalui komentar media sosial, atau pesan SMS, dalam konteks peristiwa cerita pada masanya. Pada masanya pula, cerpen-cerpen ini adalah bagian dari pergulatan generasi penulisnya saat berebut legitimasi melalui uji karya di media. Jadi, tema-tema yang digarap adalah tema-tema yang mudah dikonsumsi publik seperti kearifan lokal dan keluarga.

Dalam kearifan lokal, muncul beberapa latar seperti di Riau dan sebagian besar Jawa. Kita bisa membaca persoalan tentang peci, yang diangkat menjadi judul buku ini. Tentang kebiasaan orang zaman dahulu menyimpan uang di peci dan bagaimana konflik sosial yang menyertainya. Juga tentang keris, sarung, jajan pasar, tungku, dan hal-hal lain yang identik dengan kampung halaman.

Kadang digambarkan kampung halaman yang polos, sentimental, penuh kenangan indah. Kadang kampung halaman yang terasa sia-sisa, tempat orang-orang kalah dari pertarungan di kota, tempat orang-orang yang akan mengulangi hari-hari yang sama.

Bisa jadi karena ditulis dalam rentang yang lama, kita merasakan ada nada cerita yang berbeda. Ada kalanya, kita menemukan tokoh-tokohnya sering kali tidak bernama, selain ’’aku’’, ’’saya’’, atau ’’kamu’’, dan wilayahnya ditandai dengan ’’tertentu’’ saja, sehingga apabila dibaca berurutan, kita harus hati-hati dalam mengidentifikasi karakternya. Pengulangan peristiwa seringnya tokoh-tokoh bertemu teman masa kecil juga menarik untuk dipertanyakan.

Di momen yang tepat seperti musim mudik kali ini, penggambaran konflik sosial, politik, di kampung dan di kota dalam buku ini dapat menjadi teman perjalanan. Perjalanan dalam arti dari satu tol ke tol lain, atau, seperti dalam salah satu cerpen pula, dari kecemasan ke kecemasan lain, dari stasiun, terminal, atau bandara yang lain.

Pada akhirnya, tertulis dalam salah satu cerpen, ’’Setiap orang selalu saja tidak bisa menghindar dari perjalanan. Jika tak pandai-pandai menikmati, setiap harinya orang seperti diperbudak oleh perjalanan.’’ (’’Tiga Penggal Kecemasan’’ hal 92). (*)


  • Judul: Uang yang Terselip di Peci
  • Kategori: Kumpulan cerita pendek
  • Penulis: Satmoko Budi Santoso
  • Penerbit: Basabasi, Yogyakarta
  • Cetakan 1: April, 2022
  • Halaman: 144 hlm, 14 x 20 cm
  • ISBN: 978-623-305-275-7
  • Harga P. Jawa: Rp 50.000,00

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads