alexametrics

Urbanisasi, Pertumbuhan Kota, dan Banjir

1 Maret 2020, 19:57:53 WIB

Buku ini tidak menimpakan penyebab banjir kepada alam, namun lebih karena ulah manusia.

BANJIR itu hasil ulah manusia dan manusia pula yang mampu mengendalikannya. Itulah inti buku karya Sarkawi B. Husain Banjir di Kota Surabaya Paruh Kedua Abad Ke-20.

Buku ini mengungkap mengapa dalam paro kedua abad ke-20 banjir di Surabaya makin meningkat dan siklusnya memendek. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Husain menelusuri perubahan dan degradasi lingkungan di Surabaya.

Perubahan lingkungan dimaksudkan sebagai alih fungsi lahan, sedangkan degradasi lingkungan, yaitu menurunnya kualitas lingkungan perkotaan, sebagai hasil tindakan manusia. Dalam konteks Surabaya, perubahan dan degradasi lingkungan tersebut terjadi seiring dengan proses urbanisasi dan pertumbuhan kota.

Kingsley Davis memilah urbanisasi dan pertumbuhan kota (Deborah Stevenson, 2003). Urbanisasi merujuk pada proporsi demografis yang menghuni kawasan perkotaan, sedangkan pertumbuhan kota lebih mengarah pada pembangunan kawasan perkotaan.

Berdasar pengalaman beberapa kota di Eropa, Davis menekankan bahwa kota dapat tumbuh sekalipun tanpa ada tekanan demografis. Namun, buku ini justru menunjukkan bahwa urbanisasi dan pertumbuhan kota berjalan seiring.

Surabaya yang sebetulnya memiliki lahan subur (bab 2) terpaksa menyesuaikan diri dengan ’’banjir penduduk’’ (bab 5) yang terjadi pasca-Perang Kemerdekaan (1945–1949). Suasana damai pada 1950-an mendorong para pengungsi untuk kembali ke Kota Surabaya.

Selain itu, sebagai ibu kota sekaligus kota terbesar di Jawa Timur, Surabaya memikat kehadiran penduduk luar kota untuk masuk menjadi warga kota. Pada 1950-an hingga awal 1960-an, Surabaya tidak mampu mengakomodasi banjir penduduk. Kemiskinan telah mempersempit saluran air karena terbentuknya hunian di sepanjang bantaran sungai, kolong jembatan, dan hunian liar lainnya (bab 6).

Urbanisasi dan pertumbuhan kota yang tidak dapat dikontrol mengakibatkan perubahan dan degradasi lingkungan di Surabaya. Kondisi ini memperburuk banjir yang terjadi di Surabaya, yang semula dianggap peristiwa alam (bab 3) berubah menjadi persoalan sosial (bab 4). Peningkatan jumlah titik banjir, lama surutnya genangan, peningkatan volume air, dan frekuensi banjir mengakibatkan banjir sangat mengganggu penduduk di Surabaya.

Buku ini tidak menimpakan penyebab banjir kepada alam, namun lebih karena ulah manusia. Husain, misalnya, menampik hujan sebagai penyebab banjir di Surabaya. Data resmi BMKG dan BPS menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1930–2000, curah hujan di Surabaya stabil, bahkan cenderung menurun.

Buku ini melengkapi beberapa buku yang mengkaji banjir di kawasan perkotaan, di antaranya Jakarta (Restu Gunawan, 2010; Muh. Aris Marfai, 2013) dan Semarang (Muh. Aris Marfai, 2014). Buku yang merupakan penyempurnaan dari disertasi doktoral ini dilengkapi foto dan gambar karikatural dari reportase koran sezaman sehingga membuat argumentasinya menjadi hidup.

Selain itu, karya ini memberikan kontribusi penting dalam kajian sejarah lingkungan atau sejarah ekologi, salah satu tema yang luput dari pembahasan sejarawan Kuntowijoyo (2005). Bidang sejarah ini menumpahkan perhatiannya pada pembahasan tentang interaksi manusia dengan lingkungan alamnya.

Historiografi buku ini terfokus pada lingkungan daratan kota, padahal terdapat sekitar 25 sungai yang melintasi Surabaya. Mengikuti penjelasan buku yang menempatkan perubahan dan degradasi lingkungan sebagai penyebab banjir, satu hal yang luput dari perhatian Husain ialah perubahan dan degradasi hidrografis yang merupakan bagian dari perubahan dan degradasi lingkungan.

Surabaya memiliki jalur-jalur hidrografis yang potensial meredam banjir di daratan. Informasi tentang sungai-sungai yang melintasi kota berikut panjang dan lebarnya tercantum dalam buku ini (halaman 39-40). Namun, tidak terdapat informasi tentang perubahan panjang dan lebar sungai-sungai tersebut, termasuk kedalamannya. Jika informasi tentang perubahan dan degradasi hidrografis ini, semakin utuhlah historiografi Husain atas banjir di Kota Surabaya pada paro kedua abad ke-20.

Karya ini memang tidak sempurna, namun buku ini memberikan banyak inspirasi terkait dengan terjadinya banjir. Perubahan lingkungan alam sebetulnya adalah hasil ulah manusia. Oleh karena itu, manusia pula yang semestinya mampu mengendalikan diri agar meminimalkan dampak buruk dari perubahan dan degradasi lingkungan. (*)


JUDUL: Banjir di Kota Surabaya Paruh Kedua Abad Ke-20
PENULIS: Sarkawi B. Husain
PENERBIT: Ombak
CETAKAN: 2020
TEBAL: xx + 366 halaman
ISBN: 978-602-258-558-9


JOHNY A. KHUSYAIRI, Mahasiswa Program Studi S-3 Ilmu-Ilmu Humaniora Fakultas Ilmu Budaya UGM, Jogjakarta

Editor : Ilham Safutra



Close Ads