Lelaki itu gelisah menyusur bencah yang basah. Sedari tadi dia merasa ada yang mengintai dari balik semak.
DIA mendelik dan melihat dua buah cahaya berpendar merah sebalik semak ilalang. Hanya ada dua kemungkinan, kalau bukan harimau, tentu cindaku. Namun, cindaku ”harimau jejadian” itu konon bisa mengendap tanpa terlihat di balik sehelai ilalang. Andaikan pun sepasang cahaya merah yang berpendar itu adalah harimau, postur tubuhnya terlalu rendah seperti posisi kuda-kuda hendak menerkam.
Dalam satu gerakan, makhluk itu melompat keluar.
”Anjing!” umpatnya tergelenjat melihat makhluk yang ditakutinya itu tak lain adalah seekor anjing.
Istrinya tak lagi sanggup menertawai suaminya, meski hanya tersenyum. Pikirannya cemas bercampur kalut pada sosok yang terbalut selimut pada jarit batik yang tersampir pada pundaknya yang kurus.
Si lelaki sibuk memiringkan payung yang dipegangnya menggunakan tangan kanan agar istri dan anaknya tidak kehujanan, sedang tangan kiri memegangi senter –sibuk menyigi ke jalan seakan cahayanya menyeruak rinai yang tiada usai. Sebagian tubuhnya sudah kuyup membuat bibirnya semakin susah mengatup.
Ia mempercepat jalan hingga istrinya setengah berlari mengiring langkahnya yang lebih panjang. Dalam anggapannya, kalau tidak bergegas, segalanya akan nahas. Malam itu sekira pukul sebelas, tidak ada lagi orang yang lalu-lalang bahkan hanya untuk mencari kopi sambil bermain kartu di kedai. Angin gunung yang mengalir dari dua puncak gunung menyisir lembah dan sampai di kampung kecil itu menyebabkan pucuk-pucuk kayu manis bergisiran satu sama lain.
Sedikit lagi, setelah melewati tikungan yang ditumbuhi rumpun salam dan melalui kantor desa dengan bangunan khas Minangkabau (yang atapnya bergonjong) mereka tiba di lokasi.
”Kita sudah sampai,” bisiknya menahan gigil. Istrinya diam. Risau sambil sibuk menimang anak mereka yang menggagau.
”Assalamualaikum. Etek ... Tolong buka.”
Dia setengah berteriak sambil menggedor pintu hingga tak lama sesosok wanita tua muncul dari dalam dan membukakan mereka pintu. Matanya menyipit sejenak mencoba mengenali pasangan di depannya itu.
”Ah, waang rupanya, Sidin. Mari masuk,” serunya sambil mempersilakan.
Bayi malang yang baru berumur beberapa hari –yang seharusnya berwarna merah, putih pucat serupa dinding kusam rumah– diletakkan di atas kasur, napasnya tersengal. Si perempuan tua dengan sigap mengambil stetoskop dan memeriksa, kemudian dengan putus asa ia menggeleng lemah.
”Ini di luar kemampuan kami para bidan,” ucapnya prihatin, wajahnya tertunduk menyaksikan bayi kecil itu meregang nyawa. Sidin dan istrinya meratap merobek malam yang semakin kelam.
***
Isu mengenai kematian anak Sidin dengan lekas berembus hingga seluruh kampung. Besar dugaan, anaknya disesap palasik, sesosok penganut ilmu hitam yang menjadikan bayi sebagai mangsa dengan cara mengisap pada ubun-ubun. Biasanya ia keluar dalam bentuk sepotong kepala yang terbang mencari mangsa. Kadang bisa juga dalam wujud manusia biasa –yang memangsa hanya dengan cara melihat.
Anak yang disesap palasik hampir tidak bisa dibedakan dari anak normal, sebab tidak adanya bekas luka luar, melainkan ubun-ubunnya yang lunak itu cekung tak berdetak. Wajahnya pucat, kotorannya berbau sangat busuk dan tak berhenti menangis.
Di kedai kopi Mak Subin, bapak-bapak yang main domino asyik bergunjing –mengalahkan gunjingan para wanita di tempat tukang sayur. Paduko, salah seorang pengunjung kedai itu –sambil mengode mandan-nya– mengangkat tinggi batu balak enam dan mengempaskan kuat hingga meja kayu itu bergetar. Kopinya yang masih penuh sampai tumpah sedikit.
”Pasti Biyai,” ucapnya yakin.
Lawannya yang jengkel karena kaget membalas dengan pukulan yang lebih keras hingga kopi Paduko tinggal separo tanpa sempat diminumnya.
”Jangan mengada-ada.”
Paduko diam, namun dalam hati ia yakin bahwa penyebab kegemparan di kampungnya adalah ulah palasik yang berwujud seorang wanita tua yang sehari-hari dipanggil dengan nama Biyai.
Di kampung itu, tak ada yang tidak mengenal beliau. Orang-orang hanya memanggilnya Biyai, sebuah sapaan untuk menyebut ibu dalam bahasa Minang –yang sudah langka dijumpai– selain amai, mandeh, dan bundo, tanpa mengetahui nama aslinya. Usianya ditaksir sudah menginjak kepala tujuh mau menjelang delapan puluh.
Sudah berpuluh tahun beliau hidup sebatang diri menempati sebuah rumah gadang usang milik kaumnya yang sudah punah, sebab di kaumnya, hanya ia dan adiknya yang –sudah meninggal– berjenis kelamin perempuan. Anak dari adiknya hanya seorang laki-laki yang tidak berguna. Biyai sendiri tiada beranak, pun suami sudah lama tidak. Sepupu sepersukuannya pun semuanya laki-laki, yang berarti tidak bisa meneruskan nasab suku yang diturunkan dari garis ibu.
Rumah gadang yang ditempatinya juga sudah tak lagi layak disebut rumah gadang. Sudah reyot; dinding yang dijalin dari bambu yang dibelah sudah rompong dimakan rayap. Hanya pucuk gonjongnya yang masih tetap runcing menikam bulan purnama ketika tanggal empat belas setiap bulan Hijriah dengan latar Gunung Marapi dan Singgalang yang menjulang lancang.
Untuk menyambung hidup, sehari-hari Biyai berjualan sayuran yang dipetik dari belakang rumahnya. Kadang kalau ada permintaan, beliau juga mengurut (salah urat, terkilir, dan urut capek bisa dilakukannya). Untuk upah, Biyai tidak pernah mematok harga. Berapa pun bayaran dari pasien yang diobatinya selalu diterima dan langsung ia masukkan dalam kantong di sebalik kutang usang miliknya. Ada yang menyelipkan uang seribuan, lima ribuan, bahkan kalau mujur, bisa mendapat uang sepuluh ribu dua lembar –yang pada masa itu tahun 90-an sudah termasuk jumlah yang besar.
Wajahnya yang keriput berparut dengan tubuh kurus bungkuk berpunuk membuat siapa pun yang baru mengenalnya bergidik jijik. Selain itu, kepandaiannya dalam ilmu kebatinan semakin meyakinkan orang kalau beliau adalah seorang palasik. Terlebih Biyai memang memiliki kegemaran berkunjung ke rumah-rumah orang yang habis melahirkan.
Kendati demikian, ketika Biyai datang, tuan rumah tidak bisa serta-merta mengusir begitu saja. Adalah aib bagi mereka jika tamu tersinggung –biasanya menggunakan sindiran halus mengusir alih-alih secara langsung. Oleh sebab itu, biasanya mereka –terkecuali Sidin dan beberapa orang yang (awalnya) tidak begitu percaya takhayul– mengalungkan jimat guna tangkal palasik pada bayi yang baru lahir, agar sekalipun palasik datang, si bayi tetap aman.
***
Selang beberapa hari dari peristiwa anak Sidin meninggal akibat disesap palasik, kampung itu kembali dihebohkan lagi dengan kemunculan palasik secara nyata.
Suatu malam, beberapa warga –yang tak lain adalah Paduko dan temannya– melihat sepotong kepala terbang di sela pucuk bambu betung ketika pulang main domino. Sempat meragukan matanya, mereka kemudian berteriak dan mengetuk kentungan bertalu-talu.
Beberapa orang laki-laki dewasa, termasuk Sidin, keluar dari rumah menuju sumber suara lalu bersama-sama mengejar kepala terbang –yang semakin diyakini bahwa segala kegemparan di kampung itu nyata adanya karena ulah palasik.
Palasik terbang melesat hingga melewati sebuah pohon beringin di pemakaman umum, kemudian menghilang. Warga tahu bahwa tak jauh dari tempat itu terdapat hamparan kebun singkong yang dibelakangi oleh rumah Biyai.
Malam itu juga, dikomandoi oleh Sidin, warga beramai-ramai mendatangi pondok Biyai dengan beringas dan segala sumpah serapah. Segala makian dalam bahasa Minang yang terdiri atas berbagai unsur selangkang, nama binatang, hingga sumpah serapah yang tidak ada terjemahan dalam bahasa Indonesia dilontarkan tanpa Biyai bisa melakukan pembelaan.
”Geledah rumahnya!” teriak Sidin.
Warga beramai-ramai menggeledah rumah dan pekarangan Biyai. Barang-barangnya yang tidak seberapa itu dihamburkan dan berserakan ke mana-mana. Mereka tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan hingga salah seorang rombongan menemukan beberapa potong kain putih yang terlipat di dalam lemari pakaian.
”Buat apa kausimpan kain kafan, Setan?”
”Kaupikir buat apa kain kafan? Tentu untuk pembungkus tubuhku ketika mati!”
”Dusta! Akui saja kalau kau menggunakan kain kafan untuk praktik ilmu sesat!”
”Jangan gila! Bagaimana mungkin aku menuntut ilmu hitam jika suamiku sendiri mati karena ilmu hitam?”
Biyai ditarik keluar. Tubuh tuanya yang renta didera dan rambutnya dijambak, mukanya lebam dengan darah yang membasahi kebayanya yang sudah tersingkap separo. Beliau hanya bisa menangis, meratap, dan bersumpah bahwa sekalipun ia tidak pernah menjadi palasik.
”Dasar palasik! Gara-gara kau …”–Sidin menyeka air matanya–”gara-gara kau … anakku ….” Sidin tak kuasa melanjutkan perkataannya. Matanya basah sebab amarah memuncak.
”Usir atau bakar!”
”Tidak! Sumpah demi Tuhan, aku bukan pa—”
”Dusta! Lantas kenapa kau suka mengunjungi orang yang baru melahirkan, termasuk rumahku, kalau bukan untuk menyesap darah bayi?” cecar Sidin.
”Apa ada aturan yang melarang mengunjungi orang yang habis melahirkan? Salahkah jika perempuan tua sebatang kara sepertiku menyukai anak-anak? Memang mukaku buruk, tapi hatiku tidaklah busuk! Andai aku tahu akan begini, kuharamkan kakiku menginjak pekarangan kalian.
”Silakan kalian pancung kepalaku. Andai aku tidak bersalah, darahku tidak menyembur, melainkan mengucur.”
Pandangan mata Biyai nyalang menantang seluruh warga yang datang, membuat nyali mereka sempat ciut.
”Jangan! Palasik tidak akan mati dipancung. Bakar saja!” asung Paduko berang.
Seiring desau angin pada pucuk bambu betung, sebuah suara teriakan kencang memekakkan telinga. Api berkobar membakar seisi rumah gadang lapuk yang menguar bau daging busuk.
***
Malam itu bulan empat belas muncul dengan rupa yang teramat getas. Angin dingin yang mengalir dari pucuk Marapi-Singgalang semakin mengaromakan suasana nestapa.
Beberapa kilometer dari bangkai rumah gadang milik Biyai, tepatnya di rumah praktik bidan tua, terdengar pekik yang membuat bulu kuduk bergidik. Malam itu, seorang anak berusia tiga bulan menggelinjang meregang nyawa dengan mulut berbusa. Matanya merah beku dengan tubuh kaku.
”Ini di luar kuasa kami para bidan.”
Orang tua si anak menyumpah lemah, ”Palasik!” (*)
---
W.S. DJAMBAK, saat ini bermastautin di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; puisi, cerpen, esai, dan novel.