← Beranda

Begini Perbedaan Kampung Ambon dan Kampung Boncos

Fersita Felicia FacetteSenin, 29 Januari 2018 | 08.30 WIB
Kampung Ambon di Komplek Permata, Cengkareng, Jakarta Barat

JawaPos.com - Mudahnya narkoba yang masuk ke Indonesia, membuat para pemakai, pengedar, dan bandar membuat komunitasnya sendiri. Mungkin itu tergambar dari kampung yang terkenal dengan peredaran narkoba seperti di Kampung Ambon dan Kampung Boncos.


Meski keduanya sama-sama menjual barang haram, namun cerita mereka sedikit berbeda. Kampung Ambon yang berada di Kompleks Permata, Cengkareng, Jakarta Barat dan Kampung Boncos berada di Palmerah, Jakarta Barat.


"Kalo di Kampung Boncos terkenal dengan penjualan heroin. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Selain karena sudah banyak yang meninggal, heroin juga sudah kurang laku. Sedangkan untuk Kampung Ambon lebih didominasi oleh penjualan sabu-sabu," ujar Kasat Narkoba Jakarta Barat AKBP Suhermanto, saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (28/1).


Uniknya kedua tempat ini juga memilili sistem transaksi yang berbeda pula. Kampung Ambon terkenal lebih berani dibandingkan Kampung Boncos. Pasalnya mereka berjualan di lapak terbuka.


"Kampung itu (Ambon) berjualan di lapak-lapak gitu. Jual di situ dan pakai di situ. Kalau Kampung Boncos, dahulunya menggunakan heroin dan disuntik. Jadi hanya sekadar transaksi saja," lanjut Suhermanto.


Akan tetapi, lanjut Suhermanto, Kampung Boncos juga pernah ada lapaknya. Karena sudah tidak laku dan yang menggunakan narkoba juga sudah berkurang jadi tidak lagi. "Sudah pada meninggal," katanya.


Menurut Suhermanto di dalam peredarannya, Kampung Ambon pembelinya paling banyak oleh etnis Ambon itu sendiri. Sementara untuk Kampung Boncos, lebih kepada etnis Madura. Tidak pandang bulu, target dari pembeli narkoba tersebut bisa remaja hingga orang yang sudah berkecukupan. "Siapa saja, yang penting mereka untung," katanya.


Saat melayani pembeli, imbuh Suhermanto, mereka juga pilih-pilih dan hati-hati. Mereka juga takut jika yang beli adalah seorang polisi yang menyamar jadi seorang pembeli. "Tidak sembarangan," tutur Suhermanto.


Kasat narkoba yang suka memakai kacamata itu, juga mengakui jika penjualan narkoba bisa mencapai puluhan juta. Bahkan hanya dalam hitungan 24 jam. "Yang di Cengkareng kemarin, dalam satu hari bisa mencapai Rp 50 juta. Begitu pula dengan yang Kampung Boncos," ucap suhermanto.


Suhermanto juga menceritakan, jika nama Kampung Ambon sudah marak sejak dahulu. Tidak diketahui asal muasalnya. "Karena banya orang Ambon, jadi namanya langsung Kampung Ambon saja," lanjutnya.


Lalu untuk Kampung Boncos sendiri awalnya adalah tanah kosong yang sebelumnya adalah makam etnis Tionghoa. "Masa pemerintahan Ali Sadikin tahun 70-an, lalu sekarang tanah kosong makanya dinamakan Kampung Bocos," tuturnya santai.


Untuk mendapatkan beberapa gram narkotika, biasanya para pemakai mendapatkan informasi secara terselubung. Melalui 'kata orang' yang mereka percaya dan yang pernah memakai narkoba sebelumnya.


Selain itu, para bandar atau pengedar memiliki latar belakang yang berbeda. Suhermanto menceritakan, jika para bandar atau pengedar awalnya adalah seorang pengguna. "Awalnya pengguna, kemudian kebutuhan narkoba meningkat," papar suhermanto.


Kemudian, lanjutnya, karena barang itu (narkoba) mahal. Maka dia berubah menjadi kurir untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Kemudian barulah menjadi seorang pengedar atau bandar.


Di akhir cerita, Suhermanto mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat agar semuanya menghindari barang haram tersebut. Bukan hanya orang lain yang dirugikan, akan tetapi juga diri sendiri. "Sebab kita menjadi tidak produktif dan ke depannya akan sulit mencari pekerjaan," pungkas Suhermanto.

EDITOR: Fersita Felicia Facette