← Beranda

Kisah Angker dan Seram di TPU Karet Bivak

Bintang PradewoMinggu, 28 Januari 2018 | 23.32 WIB
TPU Karet Bivak

JawaPos.com - ‌Kematian merupakan hal yang tidak bisa ditentukan oleh manusia. Sama halnya denga rezeki dan jodoh, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang tahu semua itu. Hingga manusia dikuburkan dan hanya tersisa tulang belulang. Itulah sebuah keadaan yang disebut takdir oleh manusia.


Oleh: Ikhsan Prayogi


Seorang petugas makam yang setia membersihkan makam, Gimin, 60, di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Sudah sejak tahun 1970an dia membersihkan makam.


"Ya sekitar 40 tahunan lah dek, istilahnya dari kecil saya sudah di sini. Kerja di sini," tuturnya saat ditemui JawaPos.com, Minggu (28/1).


Saat bercerita Gimin mengatakan bahwa TPU ini pernah banjir pada tahun 1980an. Sampai beberapa makam rusak akibat genang air. Salah satunya adalah papan makam rubuh dan ada juga yang hampir terlepas.


"Tahun '80-an sama tahun 2014 kalau tidak salah, dan itu di Blok AA I soalnya posisi tanah di sana rendah. Sekarang sudah tidak lagi. Karena sudah ada penampungan air. Jadi airnya mengalir ke sana untuk ditampung," ucapnya


Gimin kini masih terus melakoni pekerjaannya dengan sabar dan ikhlas. Penghasilan yang ia dapatkan merupakan dari pemberian seorang ahli waris makam. Satu makam dihargai paling tinggi Rp 50 ribu per makam. Saat ini ia memegang 40 makam. "Alhamdulillah lumayan, yang penting halal," katanya.


Untuk memakamkan jenazah di TPU Karet Bivak, keluarga yang ingin memakamkan cukup membayar Rp 100 ribu saja. Sebab, lanjut Gimin, semuanya sudah anggarannya dari pemerintah.


"Pekerja Harian Lepas (PHL) yang membersihkan makam juga dibayar dari pemerintah. Makanya jadi murah. Banyak yang mikir bayarnya sampai jutaan, sekarang sudah tidak lagi," ujarnya sembari senderan.


Selain itu Gimin tidak bekerja sampai malam. Ia menuturkan hanya bekerja sampai pukul tiga sore saja. Karena menurutnya untuk penjagaan sudah ada petugas lain. "Namanya polisi khusus (polsus). Semacam security. Dia yang keliling makam untuk berjaga," kata Gimin.


Dari lahan tanah seluas 14 hektar, Gimin hafal beberapa orang ternama yang dimakamkan di TPU Karet Bivak ini. Dengan semangata ia menyebutkan beberapa orang terkenal itu. "Ada Fatmawati, Benyamin, Laila Sari, Husni Thamrin, Ismail Marzuki, Chairil Anwar, Anan Tatur, Usmar Ismail, Bing Slamet," tuturnya sambil menerka di mana mereka dimakamkan.


Ada juga beberapa makam pahlawan. Namun makam pahlawan tidak sebanyak di TPU Tanah Kusir. "Ada tulisan 'pejuang 45' dan bendera di belakang makamnya," jelas Gimin.


Meski terlihat asri dan rapi, TPU Karet Bivak juga menyimpan beberapa misteri. Kemudian harus membuat para penjaga makam lari terbirit-birit. Seperti halnya cerita Andriansyah, 33, seorang polisi khusus yang audah mengabdi selama 6 tahun.


"Waktu pertama kerja dan keliling saya sempat melihat hal yang aneh-aneh. Tapi yang paling serem waktu itu ada 'leak' saat saya berjaga," kata Andriansyah.


Andri menggambarkan bahwa penampakan itu sempat membuatnya kabur, saat melihat makhluk tersebut. "Ya kayak hantu yang hanya kepala dan ususnya di luar, terus melayang gitu. Saya pas liat langsung kabur, waktu itu naik motor. Jadi saya langsung ngebut," katanya santai.


Saking takutnya dia sampai bersembunyi kantornya lalu mengunci pintu dan ngumpet di bawah meja kantor. "Itu karena saking takutnya," lanjutnya.


Belum selesai bercerita Andri melanjutkan bahwa dirinya juga pernah melihat hal aneh lainnya. Saat berhaga malam dan keliling makam, dirinya melihat seorang nenek lagi menyapu di sekitar makam. "Ada juga makam yang terbelah. Ngeluarin cahaya juga kayak api. Ngga tau itu pusaka atau apa," ujarnya semangat.


Namun begitu dirinya tidak kapok dan melakoni pekerjaannya sebagai polsus dengan santai. "Disyukuri saja mas," katanya tersenyum.


Di TPU Karet Bivak juga ada profesi yang bertugas mengajikan makan dikala ada yang berziarah. Mereka biasanya menggunakan baju muslim dan sarung. Tidak ketinggalan, mereka juga membawa payung untuk menghindari panas dan hujan.


Agus, 60, salah satu yang melakoni profesi tersebut. Sudah 30 tahun dia mengerjakan hal tersebut. Dari profesi itulah dia mencari nafkah untuk keluarganya. "Ya kayak tadi mas, menawarkan jika perlu. Kalau tidak ya kita tidak memaksa," kata Agus saat sambil bersantai di pintu masuk makam.


Kadang dalam sehari dia tidak mendapatkan uang serupiah pun, karena tidak ada yang menggunakan jasanya. Menurutnya memang pekerjaan ini tidak mudah, namun dia tidak terlihat putus asa sekalipun. Namun untuk melakoni hal tersebut haruslah paham agama sebelumnya. "Mereka yang bekerja seperti ini rata-rata dulunya adalah pesantren," pungkas Agus.

EDITOR: Bintang Pradewo