Aplikasi inovatif di bidang ecotourism muncul dari empat guru SMA Santa Maria. Ruslan, F.X. Rudy Prasetya, Anton Kristanto, dan Yosua Danang Wijoyo membuat Panduan Aplikasi Wisata Alam Indonesia (PAWAI).
IDE pembuatan PAWAI (Panduan Aplikasi Wisata Alam Indonesia) bermula dari keresahan. Empat guru berbeda bidang studi itu mengkhususkan pada kondisi wisata hutan di Indonesia.
Belum banyak warga yang tahu mengenai jenis wisata tersebut. Padahal, hampir setiap provinsi di Indonesia memiliki hutan wisata. Lebih tragis, minimnya pengetahuan warga berbanding terbalik dengan Indonesia yang berjuluk ’’Paru-Paru Dunia’’.
’’Dengan potensi sebesar itu, sudah seharusnya masyarakat Indonesia peduli dan paham mengenai fungsi hutan,’’ tutur Ruslan selaku ketua tim PAWAI saat ditemui Jawa Pos di perpustakaan SMA Santa Maria Jumat (28/10).
Minimnya perhatian masyarakat mengenai hutan wisata salah satunya berkaitan dengan sedikitnya sosialisasi. Kondisi itu membuat mereka bergerak. Para guru pria tersebut mencari model promosi yang hit sekaligus trendi.
Pun, mudah diakses. ’’Akhirnya kami sepakat membuat aplikasi ini,’’ ungkap Ruslan sambil memamerkan tampilan aplikasi berwarna hijau dan berhias pohon di sudut kanan layar handphone.
Untuk membuat aplikasi tersebut, mereka mencurahkan keahlian masing-masing. Ruslan dan Anton bertugas membuat aplikasi.
Sebagai guru komputer di SMA Santa Maria, keduanya tidak mengalami kesulitan. Dalam waktu 1,5 bulan, duet kompak itu berhasil merampungkan aplikasi sembilan fitur menu tersebut.
Sementara itu, Prasetyo dan Yosua bertugas memilih konten. Pada PAWAI, menurut Prasetyo, ada beberapa fitur spesial. Salah satunya fitur jelajah.
Dalam fitur tersebut, letak taman nasional, hutan wisata, dan taman hutan raya (tahura) mudah diketahui. Bahkan lengkap dengan informasi, telepon, e-mail, sampai agenda kegiatan terkini.
’’Kode lokasi akan terlihat dengan simbol pohon,’’ jelas pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu.
Ada pula fitur lapor. Di sini wisatawan bisa meng-update kondisi wisata hutan saat berkunjung. Misalnya, ada sampah yang menumpuk minimnya maupun fasilitas penunjang.
’’Fitur lapor ini memungkinkan adanya partisipasi timbal balik pengunjung sebagai penikmat objek wisata dan evaluasi bagi pengelola,’’ ungkap alumnus S-2 Ilmu Komunikasi Unair tersebut.
Meski demikian, mereka tidak sembarangan memasukkan informasi. Untuk menjabarkan pohon akasia, contohnya.
Para guru tersebut harus membuka literatur dari beberapa buku. Jadi, yang di-share merupakan kesimpulan yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan.
’’Jadi tak bisa kalau modal mencomot di internet. Sebab, ini juga bentuk tanggung jawab kami sebagai pembuat,’’ papar Yosua yang juga pustakawan SMA Santa Maria tersebut.
Inovasi dan kekompakan mereka berujung apresiasi pada lomba karya tulis Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. PAWAI menggondol juara I kategori masyarakat umum pada 21 Oktober lalu.
Saat itu tim mendaftar sebagai perwakilan Kota Surabaya. ’’Pertama ada rasa pesimistis. Lawan saja datang dari peneliti Universitas Indonesia (UI, Red). Tapi kok ya kami yang juara,’’ ucapnya, lantas tersenyum. (elo/c15/nda/sep/JPG)