LENNY Tri Wardhani kerap melontarkan candaan bahwa dirinya merupakan jahits (janda hits) atau james (janda gemes).
Namun, dia tetap tidak bisa menyembunyikan ekspresi sendu ketika disinggung soal kegagalan pernikahannya. Menikah pada 2004 saat berusia kala itu 20 tahun, Lenny mengaku pola pikirnya belum sepenuhnya dewasa.
”Dulu aku berpikir bahwa pernikahan itu simpel, nggak butuh tetek bengek yang macam-macam. Ternyata, pernikahan itu sangat kompleks,” ujarnya.
Hal positif Lenny adalah cara dirinya move on dari perceraian pada akhir 2014. ”Pas 2014, aku mulai bikin butik. Awalnya kecil-kecilan dengan modal Rp 10 juta,” tuturnya.
Lambat laun semakin banyak produk yang dijual di butik. Cara Lenny memasarkan produk-produk yang dijual cukup unik. Yakni, personal branding.
Lenny berfoto dengan mengenakan berbagai macam produk yang dijual. Mulai hijab, gamis, aksesori, tas, dan sepatu.
Setelah itu, dia mengunggahnya ke media sosial. Cara tersebut terbukti ampuh. Butik Lope Shope milik Lenny banyak jadi jujukan untuk belanja produk hijab.
Beberapa bulan lalu, perempuan yang tinggal di kawasan Sindujoyo itu melebarkan sayap bisnis dengan menjadi make-up artist.
”Make-up-in orang itu berangkat dari hobi dan iseng. Eh, ternyata ramai peminatnya,” terangnya. Kegagalan pernikahan tidak membuat Lenny trauma.
”Hanya, pas mau didekati laki-laki, ada rasa minder,” tutur perempuan 32 tahun itu. Dia mengaku lebih selektif dalam memilih laki-laki.
Salah satu syarat utamanya adalah lelaki yang matang, dewasa, dan bertanggung jawab. Syarat lain adalah restu orang tua.
”Sekarang apa kata orang tuaku aja. Kalau mereka sreg, aku pasti lanjut. Dulu kan aku nggak nurut sama mereka,” bebernya.
Cerita yang sama diungkap Melisa Safitri atau Melly. Pada setiap lelaki yang mendekati, Melly selalu menyebutkan bahwa dirinya merupakan janda satu anak.
Dengan tegas, dia menyatakan tidak mau menjadi orang lain untuk bisa disukai orang lain. Berkata jujur apa adanya menjadi cara Melly. Ketimbang menutup-nutupi suatu fakta yang nanti bisa dipersoalkan.
”Aku nggak mau mengubah diriku demi bisa disukai orang lain. Biar orang lain suka karena apa adanya aku yang seperti ini,” paparnya. Melly kerap memotivasi teman sesama single fighter.
”Ada tuh temanku yang janda, tapi nge-rasa terpuruk. Jangan seperti itu, aku bilang. Ngapain kita malu dan nggak berdaya. Kalau punya skill, nggak perlu malu dan khawatir,” ujarnya.
Meski rasa trauma terhadap perceraian, Melly tak menutup hati. Dia mengenyahkan segala pikiran-pikiran negatif pada setiap lelaki yang ingin mendekati.
Menurut Melly, menjadi janda berarti harus pandai menjaga nama baik dan harga diri. Apa pun perkataan negatif orang lain, dia anggap angin lalu.
”Aku sih orangnya nggak mau terpuruk. Yang sudah, ya sudah. Maju ke depan, tata masa depan dan hari depan,” ungkapnya.
Melly meyakini, selama punya karir yang bagus, seorang single parent tidak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Dia menunjukkan bahwa dirinya bisa tangguh sebagai janda.
Dia tetap eksis dan punya karir yang baik. Dia tak acuh kalau ada segelintir orang yang menganggap pekerjaannya sebagai instruktur senam kurang baik.
Dia justru melebarkan karir tidak hanya sebatas instruktur senam di wilayah Jawa Timur.
Tetapi, Melly juga kerap terbang ke Bali, Samarinda, hingga Banjarmasin untuk memenuhi undangan sebagai instruktur zumba party. (hay/c16/ai/sep/JPG)