← Beranda

Lori PG Candi Baru Kangen Bertemu Kebun Tebu

Suryo Eko PrasetyoRabu, 25 Januari 2017 | 07.08 WIB
BERTENAGA BESAR: Suparman mengendarai traktor penarik lori yang mengantarkan tim ekspedisi berkeliling pabrik gula Candi Baru.

Keberadaan pabrik gula tidak bisa dipisahkan dari gerobak pengangkut tebu. Orang sering menyebutnya lori.



ARISKI PRASETYO HADI-CHANDRA SATWIKA



TARIKAN awal traktor itu membuat kami yang berdiri di atas lori sedikit khawatir. Kaget. Besi-besi penyangga ”gerbong” pengangkut tebu itu terasa bergoyang. Gesekan rel dengan roda lori yang mulai berputar menimbulkan suara berderit kencang. Namun, setelah itu, lori berjalan anteng. Melaju di antara lori-lori lain.


Karena hanya membawa kami, bukan berton-ton tebu, cukuplah satu lori yang pagi itu berjalan. Buntut traktor dan lori hanya disambung dengan tali tampar.


Suparman, sangat sopir traktor, ternyata sudah sangat berpengalaman. Tangannya tangkas memutar setir untuk menjaga lori terus berada di jalurnya. Meskipun penarik lori sudah berganti traktor, bukan lagi lokomotif seperti dulu, bagi kami itu tetap sangat mengasyikkan. Suasana berkeliling pabrik terasa lebih istimewa.


Menurut Suparman, lokomotif penarik lori sudah tidak lagi digunakan Pabrik Gula (PG) Candi Baru sejak 2002. ”Biaya perawatan traktor lebih murah daripada lokomotif,” kata pria 45 tahun itu Rabu lalu (18/1). Dia mulai bekerja di PG Candi Baru bertepatan dengan mulai dipensiunkannya lokomotif penarik lori.


Dari lokasi parkir lori, kami bergerak menuju tempat crane. Lori masih melaju mulus, semulus mobil yang berjalan di aspal. Namun, mendekati mesin crane, lori sempat bergoyang. Saya pun berpegangan erat pada besi lori. Ternyata goyangan itu disebabkan rel-rel yang saling crossing. Angin sepoi-sepoi mulai berembus. Saya membayangkan lori-lori itu dulu bergerak untuk menjemput tebu dari kebun yang jauh. Melihat pemandangan hijau sepanjang perjalanan.


Tiba di dekat masjid pabrik, kami turun. Suparman mematikan mesin traktor. Pegawai yang bekerja di Candi sejak 1996 itu mengatakan, menarik rangkaian lori yang penuh muatan tebu sangat mudah. ”Tidak terasa berat,” ucap dia.



***



Bentuk lori sederhana. Terdiri atas tiga batang besi yang melengkung. Batangan besi itu berfungsi sebagai penyangga tebu yang diangkut agar tidak jatuh. Di bagian bawah terdapat dua pasang roda besi. Lori dengan ukuran panjang 2 meter dan lebar 1 meter itu melaju di atas rel.


Prinsip kerja lori memang mirip dengan gerbong kereta api. Untuk bisa bergerak maju, lori ditarik lokomotif. Satu lokomotif biasanya mampu menarik 10–15 lori penuh muatan tebu. Bentuk lokomotif itu layaknya kereta api bermesin uap. Lengkap dengan klakson. Ada pula ruang untuk masinis.


Penggunaan lori sangat membantu urusan operasional pabrik gula. Sebelum teknologi pengangkut itu berkembang, pekerja pabrik harus bersusah payah mengangkut tebu dari sawah. Tebu diangkut dengan tenaga sapi. Dengan lori, pengangkutan tebu jelas jauh lebih cepat.


Dulu alat pengangkut tebu itu masih sering dijumpai. Berjalan pelan di sisi jalan raya. Terkadang melintas, menyeberangi jalan beraspal. Layaknya kereta api.


Perkembangan zaman berdampak pada keberadaan lori. Angkutan tebu itu kini mulai ditinggalkan. Rel lori yang dulu gampang dijumpai di sisi jalan atau wilayah persawahan kini sudah tertimbun tanah. Mati.


Kondisi yang sama terjadi di PG Candi Baru. Lori tidak lagi menjemput tebu dari perkebunan dan mengantarkannya ke pabrik. Tugasnya sudah berkurang. Kini lori hanya menunggu drop-dropan tebu yang diangkut truk, lalu membawanya ke dalam pabrik. Nasib lori setali tiga uang dengan lokomotif. Di PG Candi, lokomotif sudah tidak lagi digunakan alias pensiun. Dulu sempat ada sepuluh lokomotif. Kini lori-lori ditarik traktor.


Sisa-sisa masa keemasan lori di PG Candi Baru masih bisa diraba. Beberapa jalur lori masih dapat dilihat jelas. Ada yang melintas ke gudang atau bagian belakang bangunan. Puluhan lori diparkir di bagian belakang pabrik. Tidak ada aktivitas. Sebab, memang pabrik masih rehat. Belum masuk musim giling.


Kami sempat menelusuri jejak angkutan tebu tersebut. Jalur rel kami telusuri. Dimulai dari pintu masuk. Jalur lori memecah. Satu jalur mengarah ke mesin crane yang berfungsi mengangkut tebu ke mesin penggilingan. Satu jalur lagi menuju tempat penimbangan tebu.


Menurut Suparman, ketika musim giling, antrean truk tebu sangat banyak. Karena itu, pabrik akhirnya membuat dua jalur penimbangan tebu. Jalur yang pertama, setelah tebu dari truk ditimbang, crane langsung mengangkatnya. Untuk jalur kedua, setelah ditimbang, tebu diturunkan ke lori. Di sini, tebu-tebu itu masuk daftar antrean sebelum diperas mesin penggilingan. Bila sudah tiba gilirannya, lori-lori itu akan bergerak ke area crane.



***



Perkembangan zaman memang menuntut pabrik gula untuk terus melakukan inovasi dan modernisasi. Perubahan itu tentu bertujuan agar pengoperasian pabrik berjalan efisien. Menghapus penggunaan lokomotif dan menggantinya dengan traktor merupakan salah satu contoh. Dengan kinerja yang sama, biaya perawatannya lebih murah. Apalagi, PG Candi Baru sudah tidak lagi mengambil tebu langsung dari perkebunan.


”Sekarang tebu diantar truk ke pabrik,” ucap Kepala Bagian SDM dan Umum PG Candi Baru Fifin Suharnafi. Pengiriman ampas tebu juga berubah. Dulu sisa pemrosesan tebu itu diangkut menuju gudang dengan truk. Namun, cara tersebut ternyata menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga sekitar dan pengguna jalan. Saat pengiriman, ampas kerap berhamburan karena diterbangkan angin.


Sebagai solusi, PG Candi Baru membangun jalur pengiriman ampas tebu. Jalur itu menghubungkan pabrik dengan gudang. Bukan melalui jalur darat, melainkan melintasi sungai Candi. Kami sempat melihat jalur pengiriman ampas yang mulai beroperasi dua tahun lalu itu. Sisi-sisi dindingnya rapat tertutup seng.


Untuk mendongkrak produksi gula, pabrik juga mengganti mesin. Tahun lalu mesin dari Italia didatangkan. Bahan baku tebu juga diseleksi ketat. Kondisinya harus benar-benar bersih dan masak. ” Innovation or die. Itu yang kami pegang,” tegas dia.


Kami juga sempat bertemu dengan mantan pegawai PG Candi Baru. Namanya Harun Al Rasyid. Kurang lebih 17 tahun dia bekerja sebagai sinder tanaman. Mulai 1965 hingga 1982 Harun bertanggung jawab mengawasi penanaman tebu sampai tebang atau panen.


Menurut Harun, kualitas gula yang dihasilkan pabrik dulu jauh lebih baik. Sebab, setiap pabrik menerapkan sekali tanam sekali pangkas. Untuk tanam selanjutnya, tebu harus diganti. ”Jadi, rendemennya (kadar kandungan gula dalam batang tebu, Red) bisa 9–10 persen,” jelasnya. Dulu pabrik gula mengerjakan seluruh proses. Mulai pemilihan bibit, penanaman, penggilingan, sampai pemasaran. Tak heran, kualitas tanaman tebu bisa terkontrol. ”Kalau sekarang, pabrik hanya jadi 'kuli' untuk giling tebu,” paparnya. (*/c11/pri/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo