← Beranda

Menelusuri Jejak Jalan Pecinan Kota Delta

Suryo Eko PrasetyoMinggu, 22 Januari 2017 | 20.34 WIB
KONSERVATIF: Go Siu Tin ( Sri Hartini ), 65 , kiri berada di dalam toko kelontong Wancu miliknya di Jalan Gajahmada 172 Sidoarjo (19/1). Dia merupakan generasi ke-3 penerus toko kelontong yang dulu berjaya di pecinan kota Sidoarjo itu. Boy Slamet/Jawa Pos

Jalan Gajah Mada, sebelum 1965, merupakan permukiman dan pusat perdagangan etnis Tionghoa. Sebelum berubah nama menjadi Jalan Gajah Mada, kawasan itu dikenal sebagai pecinan. Pemkab pun pernah memiliki wacana untuk menghidupkan kawasan tersebut sebagai kota lama.



SEPTINDA AYU PRAMITASARI



KALI pertama memasuki Jalan Gajah Mada, tampak beragam aktivitas perdagangan yang begitu padat. Aneka jenis kebutuhan dijual para pedagang. Mulai perhiasan emas, tekstil, kacamata, apotek, handphone, mebel, barang elektronik, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sebagian besar pertokoan itu masih dikelola etnis Tionghoa. Namun, ada pula warga pribumi. Mereka membaur hangat dalam keberagaman.


Kawasan Jalan Gajah Mada memiliki sejarah panjang. Sebelumnya, akses itu menjadi tempat tinggal etnis Tionghoa. Karena itu, masyarakat menyebutnya pecinan. Di kawasan tersebut pernah berdiri sekolah Tionghoa (Zhonghua Xiao Xue). Namun, area sekolah itu kini beralih fungsi. Pemkab membangun sentra pedagang kaki lima (PKL). Sekolah tersebut menjadi sekolah dasar (SD) warga Tionghoa dan akhirnya ditutup pada 1960-an.


Perdagangan di Jalan Gajah Mada terus tumbuh. Sisa-sisa sejarah pecinan pun berangsur menghilang. Bangunan-bangunan lawas yang menjadi ciri khas pecinan mulai terkikis. Ada yang bertahan, tapi hanya hitungan jari. Sebagian besar bangunan itu pun tidak berpenghuni. Mereka yang masih bertahan hanyalah orang-orang yang ingin menjaga warisan keluarga. Turun-temurun.


Menelusuri Jalan Gajah Mada mulai ujung jalan sisi barat hingga timur, ada satu toko yang masih menyimpan keaslian desain bangunan lawas. Namanya Toko Wancu atau Toko Rejo. Tepatnya di Jalan Gajah Mada 172. Toko yang berdiri sejak 1933 itu disebut masih menyajikan pemandangan asli pada masa kejayaan pecinan.


Lihat saja pintu-pintu kayu hijau yang berlipat khas bangunan tempo dulu. Etalase dari kayu jati bertingkat miring. Gaya berdagangnya pun tidak berubah. Terasa nuansa tradisional.


Toko Wancu tidak besar, tapi menyajikan berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Pemilik menyebutnya toko serba-ada (toserba). Tidak heran, ketika masuk ke dalam toko tersebut, pengunjung langsung disuguhi pemandangan berbagai barang yang bergelantungan di langit-langit.


Saat ini Toko Wancu sudah dikelola generasi ketiga. Generasi pertama adalah Tjen Duan Tju (Wancu) yang merupakan anak ketujuh di antara 13 bersaudara. Kemudian, toko diteruskan The Hwie Kwan. Kini toko tersebut dikembangkan Efendi Tedjo Kusumo.


Menurut Sri Hartini, suami The Hwie Kwan, toko yang kini dikelola bersama putra-putranya memang masih sama dengan kali pertama berdiri. Tidak ada bagian toko tersebut yang diubah. Kecuali lantai toko. ’’Dulu kan masih semen. Sekarang sudah kami ganti keramik warna merah biar terlihat lebih rapi,’’ katanya.


Keaslian bangunan Toko Wancu telah menjadi ciri khas. Banyak pelanggan yang turun-temurun berbelanja di toko itu. Pengunjung tidak sekadar berbelanja. Mereka juga bernostalgia. Karena itu, meski saat ini Toko Wancu sudah dikelola generasi ketiga, gaya berdagang dan bangunan tetap dibiarkan asli.


’’Orang-orang lawas biasanya menyuruh anaknya belanja ke Toko Wancu. Yang paling dihafal ya toko di Jalan Gajah Mada yang berpintu hijau,’’ ungkapnya, lantas terkekeh.


Hartini menyatakan senang bisa mempertahankan arsitektur bangunan kuno pada tokonya. Sebab, di sepanjang Jalan Gajah Mada saat ini banyak berdiri toko modern. Toko-toko yang masih berdiri dengan desain bangunan lawas pun hampir hilang.


’’Dulu ayah suami saya mempunyai banyak saudara. Mereka mendirikan banyak toko di kawasan pecinan ini. Tetapi, lama-lama sudah hilang. Kalaupun ada, bangunannya sudah diubah menjadi lebih modern,’’ ungkapnya.


Menurut dia, toko miliknya pada zaman dulu sudah seperti swalayan. Semua barang kebutuhan rumah tangga tersedia. Mulai radio, sarung, alat-alat sekolah, hingga kue atau camilan. Kini yang dijual tetap sama. Hanya, jenisnya lebih banyak.


Ciri khas toko tersebut sebagai toko peninggalan era pecinan adalah masih adanya berbagai barang dan jajanan lawas. Mulai wangko, permen jahe, linting jahe, dan kebutuhan sembahyang warga Tionghoa. ’’Tempat jajanannya juga masih pakai etalase lawas. Tidak kami ganti karena ini peninggalan kakek,’’ ujarnya.


Saat ini toko tersebut justru menjadi salah satu sejarah sisa-sisa bangunan pecinan di Sidoarjo. Hartini mengungkapkan, kadang banyak orang yang datang untuk bernostalgia. Karena itu, keluarga Wancu tetap berupaya tidak mengubah bangunan tersebut.


’’Pernah kami ingin renovasi agar toko lebih bagus seperti yang lain. Tetapi, dicegah karena sejarahnya akan hilang. Ini sebuah penghormatan juga buat kakek,’’ katanya.


Pada 1970-an, ketika Hartini menikah dengan The Hwie Kwan, belum banyak toko di Jalan Pecinan. Jarak antartoko pun tidak jauh. Mayoritas penghuninya adalah etnis Tionghoa. Pada 1985-an, jalan di depan toko mulai dilebarkan hingga dua kali. Lalu, pada 1990-an, bangunan-bangunan modern pun mulai bermunculan.


’’Dulu masih sepi. Sekarang ramai. Yang lama sendiri hanya di sini yang bertahan,’’ jelasnya.



Permukiman Lama Etnis Tionghoa


DI Jalan Gajah Mada terdapat rumah dengan bangunan khas pecinan yang masih asli. Yakni, di Jalan Gajah Mada 11. Letaknya di ujung utara. Rumah itu merupakan milik The Sian Lins atau Henskie Tedjaprawira.


Henskie menceritakan, rumah yang kini ditempati itu berdiri sebelum 1900. Lebih dari seabad. Namun, rumah tersebut tetap bertahan dengan keasliannya. Kondisinya tampak kurang terawat. Dia memang sengaja tidak ingin merenovasi rumah itu. ’’Sudah wasiat dari ayah agar rumah ini tidak dibongkar atau diubah-ubah,’’ katanya.


Pria 78 tahun tersebut mengatakan tidak ingin meninggalkan rumah itu. Sebab, rumah tersebut menyimpan kenangan yang begitu indah sejak kecil bersama ayahnya, The Sioe Khoen. Bermain di halaman rumah yang begitu luas dengan pepohonan nan rindang. ’’Waktu saya masih kecil, rumah ini megah. Halamannya luas. Ada gapura di depan. Sekarang sudah terpotong 5,5 meter untuk jalan raya,’’ ungkapnya.


Kakek Henskie, The Yan Hie, mendirikan rumah itu bersama warga etnis Tionghoa lain di sepanjang Jalan Gajah Mada. Saat itu kawasan tersebut menjadi permukiman dan perdagangan etnis Tionghoa. ’’Dulu, banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di sepanjang jalan ini. Sekarang tinggal saya. Mungkin masih ada, tetapi saya tidak tahu,’’ ucapnya.


Ketika itu kawasan tersebut masih dinamakan Jalan Pecinan. Sekitar 1965-an Pemkab Sidoarjo mengubah beberapa nama jalan di Sidoarjo. Termasuk Jalan Pecinan yang kemudian berganti nama menjadi Jalan Gajah Mada. ’’Dulu, namanya Jalan Pecinan. Bukan Gajah Mada,’’ tegasnya.


Henskie menyatakan, bangunan tua berusia ratusan tahun itu akan tetap dipertahankan. Tidak boleh dijual ataupun dibongkar. Itu merupakan pesan ayah dan kakeknya. Sebab, rumah tersebut memiliki sejarah yang penting bagi keluarga besarnya. ’’Ayah selalu mengingatkan, rumah jangan sampai dijual, kecuali sampai tidak bisa makan. Lebih baik dikontrakkan saja,’’ paparnya.


Menurut Henskie, kawasan Pecinan Sidoarjo dulu merupakan pusat perdagangan. Ada banyak perusahaan besar di kawasan tersebut. Di antaranya, perusahaan kayu dan kerupuk. ’’Sekarang sudah banyak yang tutup,’’ tuturnya.



Perubahan itu disebabkan banyaknya warga Tionghoa yang memilih hengkang dari Sidoarjo. Tidak ada yang meneruskannya. Kini Henskie masih bertahan di rumah tua tersebut. Dia tetap tidak ingin meninggalkan Sidoarjo. Dia ingin menjaga rumah yang menjadi warisan dari kakek dan ayahnya. ’’Anak-anak saya sudah tinggal di luar kota. Saya tinggal di rumah ini dengan kakak saya. Menjaga rumah agar bisa menjadi sejarah keluarga,’’ paparnya. (*/c5/c15/hud/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo