← Beranda

Belajar Matematika di Balai Pemuda, Pakar Sarankan Alat Peraga Yang Menarik

AdministratorJumat, 23 Desember 2016 | 21.35 WIB
BELAJAR BARENG: Suprobowati membimbing para pelajar di Rumah Matematika yang berada di Balai Pemuda, Surabaya.

JawaPos.com – Matematika kerap membikin puyeng. Padahal, matematika sebenarnya mudah. Asalkan memahami konsepnya, siswa bisa jago matematika.



Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dispendik Surabaya Eko Prasetyoningsih menyatakan, selama dua minggu masa liburan sekolah, ada kelas matematika yang bisa menjadi alternatif tempat belajar siswa selain di rumah.



Kegiatan bernama Rumah Matematika itu bertujuan meningkatkan pemahaman anak tentang matematika. ”Untuk tempat belajar. Siswa yang belum mengerti, merasa kesulitan, tidak tahu ke mana, dan ke siapa, kami fasilitasi,” ujarnya.



Kegiatan yang berlangsung di Balai Pemuda tersebut terbuka bagi pelajar kelas VI dan IX. Para siswa itu mengikuti kelas secara terjadwal. Tutornya adalah para guru di sekolah.



Siswa bisa mempelajari matematika dalam kelompok-kelompok yang beranggota 20 anak. ”Gurunya bergantian, siswa bisa bertanya kesulitannya seperti apa,” katanya.



Ikhsan, tutor Rumah Matematika dari SDN Jemursari I, memiliki cara untuk mengajak siswa memahami matematika. Dia lebih dulu memperkenalkan konsep matematika.



Jika siswa sudah mengetahui konsepnya, mempelajari matematika akan lebih mudah. Materi tentang operasi bilangan bulat, misalnya. Dalam materi tersebut, ada operasi hitung positif dan negatif.



Siswa perlu lebih dulu memahami operasi hitung itu. Yakni, jika bilangan positif dikalikan dengan bilangan positif, hasilnya menjadi bilangan positif.



Bilangan negatif yang dikalikan dengan bilangan negatif akan menjadi bilangan positif. Sementara itu, bilangan negatif yang dikalikan dengan bilangan positif menjadi bilangan negatif.



Demikian pula sebaliknya. ”Mereka jadi tahu, kalau dua bilangan tandanya sama, hasilnya positif. Kalau berbeda, hasilnya negatif,” ucap Ikhsan.



Pakar pendidikan matematika Universitas Negeri Surabaya Prof Siti Maghfirotun Amin mempunyai pandangan berbeda tentang cara belajar matematika.



Menurut dia, selama ini, para guru kerap menerapkan metode classical. Yakni, guru menerangkan di kelas. Sementara itu, siswa memperhatikan dan menerima rumus-rumus. Hal tersebut dinilai sebagai metode klasik yang cenderung monoton.



Karena itu, guru perlu mengubah cara mengajar. Caranya, siswa diberi permasalahan lebih dulu. Soal cerita, misalnya. Sejak awal, siswa diberi soal cerita yang menantang mereka untuk berpikir.



Lalu, biarkan mereka mengerjakan soal dengan caranya sendiri. Guru akan mengarahkan mereka pada konsep yang sebenarnya.



Selama ini, metode pembelajaran cenderung terbalik. Siswa diberi soal-soal yang mudah dan ringan lebih dulu. Soal cerita yang banyak berisi penalaran diberikan di bagian akhir.



”Kalau soal cerita ada di bagian akhir, jadi tidak menarik,” katanya. Menurut dia, soal cerita yang membutuhkan tingkat berpikir yang tinggi perlu diberikan pada awal pembelajaran.



Tujuannya, mengajak siswa berpikir lebih dulu. Siswa harus dibiasakan berpikir dan menyelesaikan masalah.



Matematika juga membutuhkan alat peraga. Jadi, murid tidak sekadar mengetahui dan menghafal rumus, tetapi juga bisa menggunakan alat peraga.



Alat tersebut dapat mengoptimalkan berbagai benda di sekitar guru. ”Guru bisa menggunakan alat-alat itu untuk berkreasi,” tuturnya.



Karena itu, guru harus mengubah paradigma. Selama ini, pembelajaran berlangsung satu arah. ”Guru memaksakan ini diselesaikan begini, anak meniru saja,” katanya.



Siswa pun kurang tertantang. Padahal, sejatinya, belajar bertujuan melatih anak-anak menyelesaikan masalah. Semangat atau daya juang anak harus diasah, tidak dijejali rumus semata. (puj/c18/nda/sep/JPG)

EDITOR: Administrator