Kisah ini memang mirip-mirip sebuah sinetron sitcom. Tapi nyata. Pemainnya adalah warga Rusunawa Penjaringan Sari, Surabaya. Namun, mereka punya tantangan yang lebih besar. Yakni, menurunkan pasien dari lantai 4. Semua mesti cepat sebelum terlambat.
TAUFIQURRAHMAN, Surabaya
AGAMA selalu mengajarkan menghormati tetangga. Terutama kanan-kiri. Kenapa? Sebab, saat kita mengalami kesulitan, merekalah harapan terdekat untuk mengulurkan pertolongan. Bukan saudara, orang tua, apalagi pacar yang statusnya belum jelas.
Namun, warga Rusunawa Penjaringan Sari tidak perlu khawatir. Kalau darurat, pertolongan akan selalu datang. Bukan dari orang tua maupun saudara, melainkan dari tim Sinoman Ekspress Rusunawa Penjaringan Sari.
Malam itu (4/1) Faizin, ketua RW 10 sekaligus pucuk pimpinan Rusunawa Penjaringan Sari, Rungkut, dengan bangga menunjukkan tim layanan darurat Sinoman. Mereka berkantor di dekat klinik perawatan milik rusun. Di situ pula terdapat garasi untuk mobil ambulans. Penjaringan Sari memang cukup andal dalam hal layanan kesehatan. ’’Di klinik ini, ada dokternya. Tapi, kalau perlu, pasien dirujuk ke rumah sakit,’’ kata Faizin.
Sinoman cuma punya satu unit ambulans plus segudang rasa kemanusiaan. Mereka adalah sekumpulan bapak. Jumlahnya 12 orang. Terdiri atas empat perwakilan RT, empat driver, dua modin, dan dua teknisi. Meski bapak-bapak, mereka sewaktu-waktu beraksi bak pahlawan untuk menyelamatkan warga Rusunawa Penjaringan Sari yang sedang berada dalam keadaan gawat darurat.
Kebetulan, malam itu mereka berkumpul. Ada Mulyono, ketua RW baru yang akan menggantikan Faizin. Juga para driver Sinoman, Rudi Susanto (seksi keamanan blok F), dan Sirin (seksi pembangunan blok E). Ada juga Budi Wahyudi (pembina karang taruna dan olahraga dari blok F). Tidak lama kemudian, muncul Sunoko, penghuni blok F yang juga komandan Sinoman.
Sunoko menjelaskan, ambulans tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jatim. Masih gres karena didatangkan pada awal 2016. Bertahun-tahun sebelumnya, mereka juga pernah mengoperasikan ambulans.
Tentang asal muasal penamaan Sinoman, tidak ada yang tahu pasti. Kata Faizin, nama itu melekat begitu saja. Kalau bahasa aslinya, sinoman adalah bentuk kegiatan sosial untuk membantu warga kurang mampu, terutama dalam pengurusan jenazah.
Sinoman dalam bahasa Jawa berarti sekumpulan anak muda yang menjadi peladen (tenaga pembantu) jika kebetulan ada acara hajatan, pesta, maupun peringatan hari besar di kampung. Termasuk bergotong royong mendirikan rumah maupun memperbaiki lingkungan. ’’Bisa juga disebut Sinoman Pralaya,’’ ujar Faizin sambil menerka-nerka. Pralaya bisa merujuk pada arti tidur atau mati.
Anggota lain juga bebas menyebut tim tersebut. ’’Kasih nama saja amsun, ambulans rusun,’’ timpal Budi Wahyudi.
Sistem tanggap darurat warga Rusunawa Penjaringan Sari terbentuk tanpa pelatihan khusus. Penjaringan Sari tidak punya alarm tertentu. Semua diumumkan lewat pengeras suara. Misalnya, jika ada warga yang meninggal, keluarga segera menghubungi RT setempat. Sesuai dengan blok tempat tinggalnya. Pak RT kemudian mengontak pusat komando Sinoman yang terletak di antara klinik rusun dan warung kopi. Komandan Sinoman lantas memerintah driver untuk bersiap.
Nah, permasalahan selanjutnya adalah mengeluarkan si pasien dari rumahnya. Warga di rumah normal mungkin lebih cepat. Kalau si gawat darurat tinggal di lantai 4, sedikit dibutuhkan kesabaran. Dan teknik khusus.
Warga meninggal tinggal digotong dengan keranda, lalu diantar menuju peristirahatan terakhir. Biasanya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih. Atau langsung dibawa sanak keluarga ke daerah masing-masing. Merawat jenazah sedikit lebih santai.
Lain lagi kalau menangani pasien gawat darurat. Masih hidup, tapi butuh pertolongan medis. Kalau si pasien tinggal di lantai 4, dibutuhkan banyak kesabaran. Dan teknik khusus.
Mula-mula tim menyiapkan sebuah kursi. Kursi apa saja yang penting ada sandaran. Kemudian, si sakit didudukkan. Dua orang lantas mengangkat kursi tersebut di sisi kanan dan kiri mirip bocah bermain becak-becakan.
Satu orang berposisi di depan kursi. Tugasnya adalah memegangi pasien. ’’Biar tidak nyungsep kalau turun tangga,’’ ucap Budi lagi. Pelan-pelan mereka menuruni tangga rusun. Jangan terlalu pelan, khawatir si pasien tidak tertolong. Jangan juga terlalu cepat. Kalau nyungsep, bisa panjang urusan.
Sirin adalah salah seorang driver andalan Sinoman. Warga blok E itu masih ingat suatu pengalaman saat kongko di warung kopi dengan hanya mengenakan celana kolor sekitar pukul 20.00. Tiba-tiba datang panggilan darurat. Si pasien harus segera diantarkan ke RSU Haji Sukolilo, Surabaya. ’’Ya, meski katokan, kotor, belum mandi, harus berangkat,’’ tutur Sirin. Dia bersumpah selalu membawa SIM dan STNK beserta dompet meski tidak membawa celana.
Di tangan Sirin, Kijang kapsul keluaran 1997 bisa melesat dan mencapai RSU Haji dalam waktu 10 menit, RSUD dr Soetomo 20 menit, RS Unair Kampus C 15 menit, dan RSI Jemursari 20 menit.
Ternyata musuh seorang sopir ambulans, kata Sirin, bukan rasa takut. Tapi rasa kantuk. Selama ini Sirin dan tiga kawannya yang lain selalu berhasil mengantar pasien tepat waktu. Belum pernah ada yang meninggal di perjalanan. Selama ngantuk, Sirin juga merasa belum pernah diketoki hantu. Jadi, dia tidak takut. ’’Wong nanti kita mati juga kok,’’ kata Sirin sambil menyeruput kopinya. (*/dos)