← Beranda

Semalam Bersama Penghuni Gedung Setan

Thomas KukuhKamis, 23 Maret 2017 | 05.24 WIB
Gedung Setan Banyuurip di potret dari Flyover Diponegoro Pasar Kembang.

JawaPos.com - Siapa warga Surabaya yang tak mengenal Gedung Setan? Gedung sepuh itu masih berdiri megah di Jalan Banyu Urip Wetan 1A nomor 107, Surabaya. Penampakanya tampak lusuh layaknya gedung-gedung tua yang menyimpan banyak sejarah. Begitu pula Gedung Setan. Dia menyimpan banyak kenangan yang menjadi bagian dari Kota Surabaya. 



Kejadian itu berawal saat kerusuhan rasial meletus di Tanah Air pada 1946 hingga 1948. Korbannya warga etnis Tionghoa. Di beberapa kota besar rumah-rumah dibakar, dibom, dan tak sedikit penghuninya yang disiksa. Sebagian dari mereka mengungsi ke daerah timur, yakni Surabaya. Gedung Setan pun menjadi salah satu tempat persembuyian mereka. 



Kini penampakan luar gedung memang horor. Karenanya begitu populer dengan sebutan Gedung Setan. Berbagai cerita urban legend menyeruak dimasyarakat. Mulai dari cerita misteri tentang nonik belanda yang kerap menampakkan diri hingga menelisik kehidupan para penghuninya.



Gedung Setan semula dihuni oleh 25 KK yang semuanya etnis Tionghoa, hingga sekarang beranak pinak hingga empat generasi. 



Selama itu, mereka tinggal bersama dan saling berbagi dalam segala hal. Bagian dalam gedung pun disulap menjadi bilik-bilik yang mereka sebut ”rumah”. Luasnya beragam. Di dalam sana, segala kegiatan bisa dilakukan. Bahkan bisa untuk memelihara anjing. 



Satu gedung. Satu alamat. Jadi, bisa dibayangkan satu alamat yang dihuni orang sebanyak itu. ”Kalau ada paket ya bisa diterima siapa saja. Tapi tenang, pasti sampai ke yang bersangkutan kok,” ucap pengurus Gedung, Sutikno Djijanto. 



Wartawan dan fotografer Jawa Pos merekam kehidupan mereka sehari-hari.  



Penasaran? Intip cerita tentang Gedung Setan di lembar Metropolis, Jawa Pos edisi 22 Maret 2017. (*)



EDITOR: Thomas Kukuh