JawaPos.com – Bulu kuduk serasa berdiri ketika menginjakkan kaki di lantai 2 Pasar Sidomoro, Kebomas. Tempat belanja yang dikelola Pemkab Gresik itu lebih mirip lorong berhantu. Sepi, usang, dan tak terawat.
Sebagian stan di pasar bahkan sudah rusak. Sampah bertebaran di samping lapak. Mulai plastik, kertas, hingga besi tua. Debu-debu tebal beterbangan mengganggu pernapasan. ’’Semua pedagang gak kerasan. Sudah pindah semua,’’ tutur Siti Fatimah, Minggu (12/2).
Perempuan itu hanya satu-satunya pedagang yang masih bertahan. Fatimah tidur dan membuka warung kopi di pasar tersebut. Pedagang asal Lamongan itu lantas menjelaskan, bertahan bukanlah pilihannya. Dia tetap tinggal karena harus menemani suaminya, Sukardi. Suaminya adalah penjaga lantai 2 Pasar Sidomoro.
”Bapak (Sukardi, Red) disuruh jaga karena pernah dijarah maling,’’ kata Fatimah. Sebagian lapak sudah rusak. Banyak atap yang jebol. Sementara itu, pintunya sudah berkarat.
Mengapa kondisinya separah itu? Perjalanan Pasar Sidomoro cukup memprihatinkan. Pusat belanja tersebut dulu ramai. Namun, musibah kebakaran telah menghancurkannya. Bangunan pasar didirikan lagi dan ditawarkan kembali ke pedagang. Penjual pun berdatangan.
Namun, ternyata kondisi tersebut tidak bertahan lama. Pasar pernah disulap menjadi sentra akik pada akhir 2015. Stan diobral. Harga sewanya Rp 300 ribu. Total ada 121 stan. ’’Ada belasan orang yang menempati. Namun, mereka tidak bertahan,” tambah Fatimah. Mereka merasa pasar kurang menarik minat pembeli. Karena itu, banyak pedagang yang rugi.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Gresik Agus Budiono mengatakan belum terpikir soal Pasar Sidomoro lantai 2. Agus mengaku masih menata pujasera dan pasar lain. Pasar Sidomoro masih akan dievaluasi. ”Kami belum berpikir untuk meramaikannya,” ujarnya singkat.
Di sisi lain, di Gresik, masih sangat banyak pedagang yang belum punya tempat berjualan. Kerukunan Usahawan Kecil Menengah Indonesia (KUKMI) Gresik mencatat, 70 persen dari 20 ribu pedagang anggotanya belum punya lokasi jualan tetap. Mereka kerap menjadi korban razia. (hen/c7/roz/sep/JPG)