← Beranda

Selama Ditahan di Rutan Gresik Dukut Tulis Lima Buku

Suryo Eko PrasetyoJumat, 14 April 2017 | 00.35 WIB
AKU BEBAS: Dukut Imam Widodo memeluk keluarga dekatnya Rabu (12/4) seusai keluar dari Rutan Gresik.

JawaPos.com – sel Rumah Tahanan (Rutan) Cerme tak mampu membelenggu kreativitas Dukut Imam Widodo. Selama lima bulan dia hidup dalam terali besi, kreativitasnya justru memuncak. Dukut menulis lima buku baru.



Tas kresek merah ditenteng Dukut sekeluar dari Rutan Gresik Rabu (12/4). Tas itu berisi baju. Mengenakan celana jins biru dipadu T-shirt biru pula, lelaki asli Malang tersebut menebar senyum. Semringah.



Istri Dukut menyambut di pintu keluar. ”Ini (istri, Red) yang mendorong saya tetap kuat selama di penjara,” ujar lelaki 63 tahun itu. Gaya bicaranya masih tegas dan blak-blakan. Dukut juga tetap rajin menulis. Penulis yang tinggal di Surabaya itu mengaku telah menyelesaikan lima buku. Separo hari atau 12 jam dihabiskan mantan general affair manager PT Smelting tersebut untuk menulis. Tanpa libur. ”Saya menulis pakai tangan. Karena laptop tidak boleh dibawa dalam ruangan,” katanya, lalu tersenyum.



Sehari bisa selesai 12 lembar tulisan tangan. Dukut lalu menyerahkan tulisan itu kepada asistennya untuk disalin. ”Hidup harus tetap semangat,” tuturnya.



Buku apa yang ditulis? Dukut tidak menyebutkan detailnya. Sebab, dia sedang ditunggu keluarganya untuk segera pulang. Lima buku tersebut terdiri atas 3 buku pesanan perusahaan dan 1 buku pesanan salah satu pemkab. ”Satu buku lagi, pengalaman saya di penjara,” ungkapnya.



Buku pengalaman pribadi Dukut selama penjara tersebut setebal sekitar 300 halaman. Judulnya? ”Saya di Penjara,” jawabnya. Isinya, antara lain, pengalaman pribadi berkumpul dengan tahanan dan narapidana. Baik tahanan kasus perjudian maupun pencabulan. Pengalaman itu tidak pernah dilupakan seumur hidupnya. ”Sudah naik cetak kok,” katanya.



Dukut memang penulis. Pada 1988, dia terkenal sebagai penulis novel dengan setting Soerabaia Tempo Doeloe. Sejumlah buku lain telah diterbitkan. Di antaranya, Soerabaia Tempo Doeloe, Gresik Tempo Doeloe, dan Malang Tempo Doeloe. ”Hidup harus tetap semangat. Tidak boleh menyerah,” tandasnya. (yad/c25/roz/sep/JPG)


EDITOR: Suryo Eko Prasetyo