alexametrics

Sadis, Usai Mengaji Supardi Tega Banting Bayinya Hingga Tewas

27 November 2018, 00:50:11 WIB

JawaPos.com – Hamisah hanya bisa terbaring lemas. Lirih tangisnya masih terdengar meski air matanya seperti sudah habis. Ia terpukul dan sedih karena anak bungsunya, Putri Aisyah tewas di tangan ayah kandungnya sendiri.

Kejadian itu membuat warga Jalan Usaha Baru, Parit Langgar, Sungai Renggas, Kubu Raya gempar. Karena baru kali ini terjadi pembunuhan sadis kepada  bocah yang masih berumur setahun empat bulan.

Banyak tetangga berkumpul di rumah duka. Hamisah yang masih berumur 36 tahun itu bahkan tak kuasa melihat jenazah anaknya sendiri. Ia sempat pingsan beberapa kali. Kondisi psikisnya begitu tergoncang.  

Putri meninggal dengan cara mengenaskan, ia dibunuh denganc ara dibanting sangat keras oleh ayahnya Supardi Supratman pada Sabtu (24/11). “Kejadian itu terjadi sekitar pukul 08.00 pagi,” tutur Abdul Syukur, Ketua RT setempat sebagaimana diberitakan Rakyat Kalbar (JawaPos Grup).

Syukur mengaku tidak begitu tahu persis bagaimana kronologis peristiwa tersebut. Namun, informasi yang ia dapat, korban tewas akibat dibanting oleh ayahnya sendiri.

Menurut dia, rumah tangga terlihat Hamisah dan Supardi selama ini rukun-rukun saja. Bahkan sepengetahuannya, tidak pernah ada  cerita miring di masyarakat terkait rumah tangga mereka.

Saat ini pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap Supardi Supriyatman, pelaku penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa anak kandungnya sendiri itu. Dugaan sementara, pria 36 tahun itu mengalami depresi.  

“Sampai sekarang proses penyelidikan terus berjalan, dimana beberapa barang bukti juga sudah kita sita,” kata Wakasat Reskrim Polresta Pontianak, Iptu M. Resky Rizal, Minggu (25/11).

Dijelaskannya, Reskrim Polresta Pontianak telah berkoordinasi dengan pihak psikologi Polda Kalbar. Hasilnya menyebutkan, tersangka mengalami depresi. Karena pelaku yang pernah terlibat kasus pembunuhan di Kabupaten Sanggau ini telah melewati suatu fase atau peristiwa yang membuat dirinya syok dan stres.  

“Ini bukan gangguan jiwa dalam artian gila. Tim Psikologi juga menyatakan kondisi tersangka normal, hanya saja mengalami depresi,” paparnya.

Kendati demikian dirinya menjelaskan, pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan tim psikologi. Mengingat untuk menentukan kejiwaan seseorang, diperlukan ahlinya. “Dalam hal ini ahli psikologi,” jelasnya.  

Intinya kata dia, untuk sementara proses penyelidikan akan terus dilakukan kepolisian. “Tersangka juga sebelumnya pernah berbuat tindak pidana dan divonis,” tutup Resky.

Menurut Hamisah, sebelum peristiwa nahas merenggut nyawa anaknya itu terjadi, sang suami sempat mengaji di ruang tamu. Ia sempat memperhatikan bahwa saat mengaji kondisi fisik Supardi kurang baik. Raut wajahnya terlihat pucat. Seperti kelelahan dan tak bertenaga.

Lantas, Supardi berbaring di ruang tamu. “Saya suruh pindah ke dalam, dia pun pindah,” cerita Hamisah yang tersandar lemas ditemani seorang perempuan paruh baya, di dalam kamarnya.

Saat pindah berbaring di ruang tengah, sang anak sempat bermain dengan ayahnya tersebut. “Anak itu dipeluknya, dicium, saat itu tidak ada gelagat aneh, biasa saja,” ucapnya.

Usai mengeloni sang buah hati, Supardi memaksa si anak untuk tidur. Lalu, anak tersebut ia gendong dan dibawa ke teras rumah sebentar.  “Sempat keluar dan menegur tetangga sebelah, sepupu saya juga,” tukas Hamisah.

Setelah itu, si anak dimasukkan ke dalam ayunan untuk disuruh tidur. Namun, rupanya tidak mau tidur dan menangis. “Saya mau ambil untuk disusukan, namun katanya  biar jak, tak usah nyusu, biar dinyanyikan katanya,” terangnya.

Saat itu, Hamisah merasakan gelagat tak biasa dari perilaku suaminya. Sebab, sang suami yang ia kenal tak pernah berlaku kasar kepadanya. “Saya mulai merasa aneh, kok begini, dia itu tak pernah kasar,” bebernya.

Karena sang anak tak berhenti menangis, maka Hamisah pun mengambilnya dari dalam ayunan. Dan membawanya ke kamar untuk disusui. “Saat saya susukan sambil baring, diambil die (suaminya), dibawa keluar rumah, saya pun mengejarnya dan menarik anak itu, mamak mertua saya juga teriak,” sebutnya.

“Akhirnya berebutan, saya takut Putri diapa-apakan, karena dia (Supardi/suami Hamisah) tidak pernah kasar begitu.”

Ketika itulah, peristiwa nahas tersebut terjadi. Sang suami tiba-tiba memuncak emosinya. “Dia marah-marah dan membanting  kepala anak saya, habis itu saya tidak mampu mengingat kejadian lagi,” tutur Hamisah sembari terus mengusap air matanya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : (jpg/JPC)



Close Ads
Sadis, Usai Mengaji Supardi Tega Banting Bayinya Hingga Tewas