alexametrics
Hari Kartini

Iptu Rosni Erlinda, Polwan Sniper Jempolan dari Polsek Kebayoran Baru

21 April 2018, 09:31:41 WIB

Suka terkesima dengan perempuan di film-film yang jago menggunakan senjata api? Ada versi nyata di Jakarta. Dia adalah Iptu Rosni Erlinda, sniper perempuan jempolan dari Polsek Metro Kebayoran Baru.
 
DIMAS NUR APRIYANTO
 
POLWAN mahir menggunakan pistol bisa jadi sangat banyak. Sebab, saat awal masuk kepolisian, diwajibkan untuk ikut kelas menembak. Namun, Polwan yang punya kemampuan untuk menembak jitu tidak banyak. Salah satu yang dianugerahi kemampuan istimewa itu adalah Erlinda.
 
Ibu satu anak itu berhasil diberi mahkota dan dinobatkan sebagai Polwan sniper kelas pertama. Saat menembak, dia tidak pernah meleset dari poin 10. “Seneng dan bangga. Karena dalam klasifikasi kelas pertama itu hanya 25 Polwan dari ratusan Polwan,” ujarnya pada Jawa Pos.
 
Pada 2017 lalu,  saat pagelaran kompetisi Kapolri Cup 2017, dia berhasil menjadi juara. Uniknya, meski jago menembak bukan berarti Erlinda adalah Polwan yang kerap bersentuhan dengan penjahat. Beberapa jabatan yang diembannya dalam tubuh Korps Bhayangkari justru tidak pernah bersinggungan dengan reserse.
 
“Kalau Polwan yang bertugas sebagai staf, di dalam kantor begini dilarang membawa senjata api,” jelasnya. Bahkan, sejak 2014 hingga kini, dia dipercaya sebagai Kasi Humas Polsek Metro Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
 
Sebelumnya, dia pernah berada di Biro SDM Polda Metro Jaya, Ditlantas Polda Metro jaya, dan Paurmin Intelkam Polres Metro Jakarta Selatan. Tidak ada yang membuatnya terlatih menjadi penembak jitu. “Di Ditlantas, saya bagian pengawal dengan motor gede,” tuturnya. 
 
Lantas, bagaimana dia bisa menjadi sniper? Menurutnya, ada kaitan dengan ketika dia masuk menjadi Polwan pada 1991/1992. Ketika dirinya mengikuti kelas menembak, teriakan dari pelatih yang masih terngiang di telinganya hingga kini. “Saya masih inget pas pelatih bilang: kamu berani skor berapa,” ujarnya. 
 
Meski saat itu Erlinda masih anak baru, dia tidak ragu menerima tantangan itu. Dengan tegasnya, dia bilang bisa mendapatkan poin tertinggi, yakni 10. Padahal, itu adalah momen kali pertamanya menyentuh senjata api.
 
Untungnya, ucapan sesumbar Erlinda bisa dipertanggungjawabkan. “Ternyata alhamdulillah, saya berhasil menembak ke poin 10,” tambahnya. 
 
Polwan 47 tahun itu masih ingat betul. Ketenangan, fokus, dan percaya diri membuatnya bisa mendapatkan poin tertinggi. Sejak kali pertama suara ledakan peluru saat pelatuk ditarik, Erlinda langsung ketagihan menembak. Katanya, ada ketenangan ketika dirinya memuntahkan amunisi dari alat tembaknya.
 
“Selalu ketagihan. Kalau tidak ada kelas menembak, rasanya gatal begitu. Pengen nembak,” katanya. 
 
Ketenangan itu, katanya mampu memberikan kebahagiaan yang memuncak. Sejak itu, kemampuan menembaknya makin terasa. Menembak dengan mendapatkan poin 10 bukan lagi sesuatu yang susah baginya.
 
Melalui tangan dinginnya, sniper berukuran panjang sekitar 80 sentimeter kini digenggamnya. Gagah. Namun tetap terlihat cantik. Kecantikannya tak luntur sama sekali. Beneran. 
 
“Sebulan, biasanya rutin latihan menembak seminggu sekali. Total yah bisa empat kali dalam sebulan,” tutur Erlinda.
 
Erlinda tampak malu-malu ketika ditanya apa targetnya degan kemampuannya saat ini. Apakah dirinya ingin pindah ke karir yang bersinggungan dengan dunia reserse? “Semua itu kan perintah. Tinggal tunggu perintah saja,” katanya lalu tertawa malu. 
 
Lebih lanjut dia menjelaskan, ada yang bilang jika menembak itu mudah. Erlindah tidak setuju. Apalagi, bagi para Polwan. Para Polwan yang mudah kaget dengan suara tembakan, akan susah mendaratkan amunisi ke target.
 
“Duar, kaget. Tangannya nggak fokus karena kaget lalu gerak. Yah, meleset akhirnya,” tuturnya. 
 
Perempuan kelahiran kota Pempek Palembang itu mengatakan kalau seorang sniper harus bisa mengendalikan diri. Tidak boleh kaget dan lemah. Harus kuat. “Dan yang paling penting sebenarnya, yakni percaya diri,” jelasnya. 

Percaya diri memang menjadi hal paling penting bagi seorang penembak. “Sudah, ketika membidik, diri harus tenang, tidak perlu takut, jangan buru-buru, dan duar,” ucapnya. 
 
Selain rasa-rasa tersebut, seorang sniper juga harus bisa menembak dari segala arah. Dia mengatakan, dalam kelas menembak para pelatih menyebut, penembak harus bisa menembak dari mana saja dan sedang apa saja.
 
“Dalam posisi ke kanan, kiri, atas, bawah, nungging, atau merayap. Kan penjahat itu tidak tahu ya posisinya di mana saja begitu, dan kita lagi di posisi bagaimana,” katanya. 

Iptu Rosni Erlinda, Polwan Sniper Jempolan dari Polsek Kebayoran Baru
(SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (sam/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Iptu Rosni Erlinda, Polwan Sniper Jempolan dari Polsek Kebayoran Baru