alexametrics
Hari Kartini

Hasiati Perempuan Gatot Kaca Zaman Now

21 April 2018, 12:10:00 WIB

Terlahir sebagai seorang perempuan bukan berarti harus melulu mengurusi dapur atau hal remeh-temeh lainnya yang ada di rumah. Namun, melakukan hal yang setara dengan pekerjaan seorang pria menjadi hal yang mungkin dilakukan, untuk menunjukkan eksistensi perempuan bahwa tidak selemah yang mereka kira.

Oleh: Ikhsan Prayogi

Seperti halnya Hasiati Lawole, perempuan asal Kendari yang memiliki jiwa tangguh dengan tubuh yang kuat bagaikan atlet masa kini. Dia juga seorang perempuan yang menduduki jabatan sebagai Kanit V Renakta Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Hasiati Perempuan Gatot Kaca Zaman Now
Hasiati Lawole Kanit V Renakta Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya. (Dok Pribadi For JawaPos.com)

Olahraga dengan menjadi seorang polisi merupakan suatu hal yang saling berhubungan. Apalagi keduanya membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dan terukur. Hasiati bercerita bahwa sebelum menjadi seorang polisi ia adalah siswa yang aktif dalam bidang olahraga. Salah satunya adalah olahraga atletik jalan cepat.

“Saat itu guru olahraga saya melirik kelihaian saya dalam olahraga itu. Jadi guru saya meminta saya agar memfokuskan olahraga yang hanya bermodalkan sepati itu. ‘Ti kamu bagus sama olahraga ini, fokuskan saja’,” ujar Hasiati sambil menirukan ucapan gurunya kala itu, saat ditemui JawaPos.com, Jumat (20/4).

Singkat cerita dengan kedisiplinan yang tinggi, Hasiati terpilih dari club yang berada di Kendari untuk dikirim ke Jakarta untuk bergabung dalam Pelatihan Nasional (Pelatnas) di Jakarta. “Saat itu saya seperti mimpi, maklum namanya orang kampung. Saat itu juga saya baru lihat ada minuman dalam kemasan. Katro banget saya waktu itu,” ujarnya sambil tertawa.

Kemudian setelah mengikuti Pelatnas Hasiati selalu mendapatkan skor terbaik ketika ada penyeleksian setiap satu triwulan. Sehingga dia sering dikirim untuk mewakili Indonesia di kancah internasional.

“Sebelum ke tahap itu sempet tanding sama senior. Saya awalnya ragu, tapi temen-temen memberi saya semangat. ‘udah Ti, jangan takut sama senior’. Ya akhirnya saya coba dan menang. Barulah saya dikirim ke berbagai lomba dan mendapatkan banyak penghargaan,” tuturnya bangga.

Tercatat Hasiati telah memenangkan beberapa lomba di ranah nasional maupun internasional. Seperti pada tahun 1985 dia mendapatkan medali emas dan perak di olahraga jalan cepat untuk jarak 10.000 meter dan 5.000 meter di Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta. Lalu ada juga medali emas untuk jalan cepat kategori 3.000 meter di Indoor Olympiade Negara Muslim di Iran tahun 1993.

“Yang terkahir tahun 2018 di New Zealand saya dapat medali emas untuk jalan cepat katagori 10.000 meter,” urai Hasiati.

Barulah sekitar tahun 1985-1986 setelah dirinya menyelesaikan sekolah menengah atas (SMA) dan masih tergabung dalam pelatnas, dia memutuskan untuk menjadi seorang polisi.

Keinginan itu muncul ketika dia melihat seorang polisi bergaya preman. Menurutnya gaya polisi saat itu sangat mengagumkan bagi Hasiati, sebab dapat kenal dengan banyak orang dan bisa berbaur dengan siapa pun.

“Tapi setelah keluar dari SMA kok mau jadi polisi. Tapi polisi nggak pake baju dinas gitu. Terus pernah lihat polisi tapi gayanya preman gitu, bisa berbaur dengan masyarakat. Akhirnya saya pilih reserse. Nah di reserse inilah mimpi saya terwujud, jadi polisi tapi kayak preman gitu, bisa berbaur dengan masyarakat atau dengan orang lain tanpa baju dinas. Tapi mereka tahu kalo saya polisi,” tuturnya panjang sambil terkekeh.

Setelah tergabung di institusi kepolisian, Hasiati mengaku jika saat itu masih tergabung dalam Pelatnas. Namun dia merasa tidak terganggu ketika masuk ke kepolisian, justru ia mendapatkan dukungan dari atasannya kala itu.

“Karena kalau sudah mendekati lomba saya haru fokus latihan, mengatur segalanya. Mulai dari kapan makan, tidur, dan kapan latihan. Semua harus teratur jadi saya izin dengan atasan saya dan dia mengizinkan,” ungkap Hasiati.

Perempuan kelahiran tahun 1966 itu juga mengungkapkan menjalani keduanya bukanlah hal yang berat baginya. Dengan tegas ia mengatakan jika kedisiplinan adalah kunci dari semua kegiatannya itu. “Saya sudah terbiasa dengan disiplin jadi biasa saja,” tukas Hasiati.

Meskipun dia telah memiliki kesibukan yang menyita banyak waktu, Hasiati tidak pernah mau meninggalkan keluarganya begitu saja. Ibu dua anak ini berkomitmen agar semuanya terurus dengan baik tanpa terkecuali.

“Prinsip saya ketika menjadi isteri adalah saya tidak ingin anak-anak saya dan suami keluar rumah dengan perut kosong. Saya selalu pantang meninggalkan mereka tanpa sarapan. Sesibuk apa pun saya, saya akan tetap memprioritaskan mereka,” tuturnya tegas sambil mengepalkan tangannya.

Berkat kebiasaannya yang terjadwal Hasiati pun menurunkan kedisiplinannya kepada anak-anak. Meskipun hal itu bukanlah hal yang mudah baginya.

“Sebab setiap anak memiliki watak yang berbeda. Jadi saya tegas dan disiplin pada porsinya, ya saya juga tahu pasti mereka menggerutu. Bahkan suami saya, dia bilang ‘kamu kok keras banget sih sama anak’,” tuturnya sambil tersenyum.

Namun dia tidak menyerah begitu saja. Sebab menurut perempuan yang berusia lebih dari setengah abad itu agar kelak anaknya menjadi orang yang berhasil dan mendapatkan didikan terbaik demi masa depannya.

“Ya mereka (anak-anak) bilang, ‘ah bunda mah saklek banget sih’. Mereka bilang gitu kalau saya nasehatin biar disiplin,” lanjut Hasiati dengan menahan tawa.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (ce1/ipy/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Hasiati Perempuan Gatot Kaca Zaman Now