alexametrics

Ketika Ahok-Djarot Tumbang di PSU, Pertanda Apa?

20 Februari 2017, 06:32:20 WIB

JawaPos.com – Pelanggaran Pilgub DKI 15 Februari 2017 berujung pada pemungutan suara ulang (PSU) di dua tempat pemungutan suara (TPS). Kemarin Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI menyelenggarakan pencoblosan ulang di TPS 01 Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, dan TPS 29 Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan.

Namun, hasil itu sangat menyakitkan pasangan nomor urut 2 Basuki ”Ahok” Thajaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Sebab, di TPS Utan Panjang saat 15 Februari mereka menang, tapi pada PSU menelan kekalahan. Sedangkan di TPS 29 Kalibata, Jakarta Selatan, perbedaan jarak dengan Anies Baswedan-Sandiaga Uno semakin jauh.

Komisioner KPU DKI Betty Epsilon Idroos menyatakan, PSU merupakan langkah KPU DKI menjalankan rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI untuk menyelenggarakan PSU di dua TPS tersebut. Bawaslu DKI, kata dia, menemukan lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar namun menggunakan hak pilihnya di dua TPS tersebut. 

Namun, dalam PSU itu, penyelenggara pemilu memberikan stempel pemilihan ulang di setiap lembar surat suara dan formulir yang digunakan. ”Surat suara dibedakan,” kata Betty kemarin (19/2).

Secara terpisah, Ketua KPU DKI Sumarno mengungkapkan bahwa berdasar peaturan, PSU paling lama dua hari setelah pemungutan suara dan pelaksanaannya paling lama empat hari setelah pemungutan suara. ”Jadi, hari ini adalah hari terakhir PSU,” ujar dia.

Menurut Sumarno, tingkat partisipasi yang menurun pada PSU merupakan risiko yang dikhawatirkan. Karena itu, mantan aktivis HMI Cabang Jember, Jawa Timur, itu mengkritisi Bawaslu DKI yang memberikan rekomendasi mendadak. Akibatnya, petugas tidak bisa mempersiapkan secara maksimal.

”Malam harus selesaikan penulisan C6. Kemudian, diedarkan malam. Kalaupun toh itu sampai, warga juga sangat mungkin sudah punya agenda dan sebagainya,” bebernya.

Sementara itu, Sekretaris Tim Kampanye Anies-Sandi Syarif memuji sikap Bawaslu DKI merekomendasikan dilakukan PSU. Meskipun, di TPS 29 Kalibata yang diulang merupakan pemilih nomor urut 3. ”Paling penting adalah hak politik warga harus dilindungi,” bebernya.

Menurut dia, apabila pelanggaran kecil dibiarkan, yang besar juga akan diloloskan. ”Ini yang benar,” ujar anggota DPRD DKI Jakarta itu. 

Berdasarkan pengamatan dari Jawa Pos, sebelum PSU, perolehan suara di TPS 29 Kalibata: yaitu Agus-Sylvi 77 suara, Ahok-Djarot 29 suara, dan Anies-Sandi 345 suara. Setelah pencoblosan Agus-Sylvi 7 suara, Ahok-Djarot 19 suara, dan Anies-Sandi 385 suara, dan satu suara tidak sah.

Pelanggaran itu, lanjut Syarif, memang serupa dengan yang terjadi di TPS 01 Kemayoran. Yakni, menggunakan C6 milik orang lain. 

Dalam pemilihan sebelumnya, pasangan Ahok-Djarot berhasil unggul di TPS 01 Utan Panjang dengan raihan 198 suara. Sedangkan pasangan Anies-Sandiaga terpaut 21 suara di bawah, dengan raihan 177 suara. Sedangkan pasangan Agus-Sylvimeraih 62 suara. 

Ketika diadakan pemungutan ulang, Anies-Sandi pun mengalahkan Ahok-Djarot. Hasilnya, pasangan nomor 3 mendapatkan 134 suara, pasangan nomor 2 103 suara. Dan pasangan nomor 1 hanya meraup 15 suara. 

Di tempat terpisah, Juru Bicara Tim Kampanye Ahok-Djarot Bestari Barus mengatakan, hasil PSU tidak memengaruhi perolehan suara nomor urut 2. Menurut dia, pihaknya tidak terlalu memikirkan itu karena memang biasa saja. ”KPU DKI saja yang kurang melakukan sosialisasi,” ujarnya.

Dia menegaskan, putaran kedua pasangan Ahok-Djarot bakal kembali mendulang suara jauh lebih besar daripada putaran pertama. ”Orang pemilih Ahok pada liburan. Nanti, setelah ini, kami akan bawa kasus pilgub DKI ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Pastinya KPU DKI yang kami laporkan. Lihat saja nanti,” ucap Nestari. (riz/c4/diq)

Editor : Thomas Kukuh


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads
Ketika Ahok-Djarot Tumbang di PSU, Pertanda Apa?