alexametrics

Menanti Kedamaian (Kemenangan) di 19 April

Ilham Safutra-Wartawan JawaPos.com
16 April 2017, 09:10:03 WIB

Putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017 ini suhu politik memang terasa sangat panas. Dapat dikatakan lebih panas ketimbang pada Pilkada 2012.

Berbagai peristiwa menyerai kondisi Jakarta sepanjang proses pesta demokrasi ini. Baik sebelum masa pendaftaran calon hingga hari pemilihan pada putaran pertama.

Suasana ini semakin mendidih kala pesta rakyat Jakarta memasuki babak final alias putaran kedua. Semua isu terkesan digoreng sana sini oleh pihak-pihak tertentu, demi mencapai kata kemenangan di hari pemungutan suara pada tanggal 19 April 2017 nanti.

Fakta terbaru, dinamika politik semakin alot setelah sejumlah lembaga survei merilis hasil polling terbarunya. Relatif hampir semua lembaga survei menyatakan selisih suara antara kedua pasangan calon tidak terpaut jauh.

Bila dilihat untuk setiap calon, enam lembaga survei menyatakan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendapatkan suara tertinggi. Disusul pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Saiful Djarot Hidayat.

Perlu diingat hasil survei ini baru hasil sementara dan prakiraan. Di dalamnya terdapat margin of error dan sejumlah responden yang belum memutuskan pilihannya. Dua indikator ini bisa menjadi peluang dan bumerang bagi kedua calon.

Peluang bagi pasangan yang hasil surveinya belum memuaskan ataupun memerjauh jarak dengan rival. Sementara dua indikator itu bakal menjadi bumerang bagi kandidat, jika terjadi peristiwa politik yang mengejutkan menjelang tanggal 19 April 2017 mendatang. Calon yang merasa sudah meraba-raba kekuasaan di genggaman, bisa saja harapan itu sirna begitu saja.

Begitu juga dengan calon yang mendapatkan hasil survei belum memuaskan hingga hari terakhir kampanye. Kalau melakukan hal blunder atau terkena bencana politik, maka makin terporosoklah di jurang ketidaksukaan pemilih.

Aspek lainnnya, hasil survei itu belum akan menjamin perolehan suara kandidat di hari pemilihan nanti. Sebab angin politik itu putarannya begitu cepat. Sedetik setelah survei berlangsung, kondisinya akan berbeda.

Perlu berkaca dengan hasil survei Pilkada 2012, ketika itu calon petahana Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli mendapatkan suara di survei hampir 50 persen. Hasil survei itu dirilis selama masa tenang menjelang hari pemilihan.

Pada faktanya, calon incumbent tumbang di putaran kedua. Pemenangnya adalah pendatang baru, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, pasangan yang dianggap mampu mewakili keinginan rakyat, yakni pemimpin sederhana dan bisa merasakan keinginan dan harapan rakyatnya. Apapun alasan publik memilih Jokowi-Ahok kala itu, faktanya new comer adalah yang terpilih. Masyarakat Jakarta jadi pemenangnya. 

Hal yang lebih menarik lagi pada Pilkada 2012 adalah, walau hasil baru didapatkan dari hitungan cepat (quick count) namun Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli telah menyatakan dengan sportif menerima hasil tersebut.

Sikap dari mantan gubernur yang biasa disapa Foke itu membuat ketokohannya kembali bersinar di depan publik. Masyarakat melihat, Foke tidak terkesan gila jabatan. Dia mengakui hasil Pilkada dengan kesatria dan tidak menempuh jalur MK.

Menarik dari itu, Foke pun dua hari menjelang masa purna tugasnya dia mengajak Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama bertandang ke Balai Kota DKI Jakarta untuk mengenalkan ruangan dan suasana tempat penggantinya akan berkantor.

Paling berkesan lagi, ketika itu Jokowi memutuskan untuk berkantor di ruangan yang dulu pernah ditempati Sutiyoso. Bukan di ruangan kerja Fauzi Bowo. Ruangan Foke ini ditempati oleh Basuki Tjahaja Purnama.

Terakhir, apakah hasil Pilkada di putaran kedua 2017 ini bakal sesejuk di Pilkada 2012? Semua itu tergantung dari kedua calon menempati posisi. Tergantung tim sukses menyikapi respons dari jagoannya. Bila dua pihak ini dewasa dan dengan kesatria dalam berpolitik. Masyarakat menyadari pesta demokrasi adalah sebagai proses pendawasaan dalam politik, Jakarta bakal aman. (*)

Editor : Ilham Safutra



Close Ads
Menanti Kedamaian (Kemenangan) di 19 April