JawaPos Radar

Napi Teroris Kuasai Mako Brimob

Wakapolri Minta Maaf ke Keluarga Korban

10/05/2018, 15:45 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Wakapolri Syafruddin
Wakapolri Komjen Pol Syafruddin meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama keluarga prajurit yang gugur saat kerusuhan Rutan Mako Brimob meletus. (JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Markas komando (Mako) Brigade Mobil (Brimob) Kelapa Dua, Depok sempat dikuasai oleh narapidana terorisme (napiter). Mereka selama ini mendekam di dalam rumah tahanan (Rutan) pasukan khusus Polri itu.

Sekitar 36 jam lebih kondisi Mako Brimob menjadi sangat mencekam. Puluhan senjata laras panjang dan pendek, serta beberapa bom berhasil dikuasai napiter yang sudah meneriakkan kata-kata mati syahid itu.

Menkopolhukam dan Panglima TNI sudah hadir di Mako Brimob. Minus Kapolri yang tengah berada di Yordania. Operasi pembebasan Mako Brimob pun diambil alih oleh Wakapolri Komjen Pol Syafruddin. Itu pun setelah sandera yang bernama Bripka Iwan Sradjan dibebaskan Kamis (10/5) dini hari.

Tito Karnavian
Kapolri Tito Karnavian langsung datang Mako Brimob usai bertugas dari Yordania. (JawaPos.com)

Syafruddin lantas tampil sekira pukul 07.30 WIB dan mengatakan, operasi untuk menuntaskan kerusuhan tersebut masih berlanjut hingga satu jam ke depan. Dirinya juga meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia. Sebab, kejadian ini menjadi perhatian masyarakat dunia.

Permohonan maaf juga tak luput disampaikan untuk keluarga para prajurit yang gugur dalam kejadian ini. "Saya pimpin sendiri upaya-upaya mulai persuasif memperhatikan segala hal karena Polri selalu disoroti masalah HAM. Tapi upaya itu tidak berhasil, Polri minta maaf pada keluarga korban," katanya di Kompleks Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Syafruddin pun memohon maaf karena baru tampil di hadapan publik. Sebab sejak kejadian ini meletus pada Selasa malam, dia memimpin langsung operasi penanggulangannya. Dia perlu berkonsentrasi agar operasi melumpuhkan para teroris di dalam rutan itu tidak terganggu dan meminimalisasi jumlah korban jiwa.

"Sebagai pimpinan Polri saat ini, baru kali ini tampil secara umum untuk menjelaskan ini," imbuhnya.

Wakapolri memimpin langsung karena Kapolri Jenderal Tito Karnavian karena sejak Selasa (8/5) pagi, dia tengah berada di Amman, Yordania. Kapolri mewakili Indonesia untuk menghadiri pameran industri strategis dan pertahanan keamanan special operation force exhibition and conference (SOFEX) ke-12.

Saat bertemu Raja Yordania King Abdullah II, Tito berkesempatan bicara tentang peran penegak hukum dalam memberantas terorisme di Indonesia. Termasuk di hadapan para Komandan Satuan Pasukan Khusus dan para menteri kepolisian ke-53 negara yang hadir.

"Raja Yordan sangat apresiasi atas kesediaan saya selaku Kapolri untuk beri materi penanganan pemberantasan teroris di Indonesia yang dapat diadopsi bagi negara-negara lain," ujarnya Tito dalam keterangannya kepada wartawan.

Bukan kali ini saja Wakapolri memimpin langsung aksi penanganan teror. Sebab, Kapolri sedang ada tugas dan tidak ada di Indonesia. Saat bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5) malam misalnya. Kapolri sedang ada tugas untuk mengunjungi negara sahabat hingga sepekan, dimulai dari Iran, Turki, hingga Arab Saudi.

Tito ke Iran untuk menandatangani MoU tentang transnational crime dan ke Turki untuk meresmikan Atase Polri di sana seiring makin banyaknya WNI yang diduga bergabung dengan ISIS. Sedangkan kunjungan Tito ke Saudi adalah untuk membalas kedatangan Kepala Polisi Arab Saudi Komjen Othman bin Naseer Al Mehrej yang sudah berkunjung ke Indonesia hingga dua kali.

Tak hanya Tito yang tidak bisa memimpin langsung operasi atas kejadian besar. Kapolri sebelumnya, Jenderal Badrodin Haiti juga pernah mengalami hal serupa. Badrodin absen ketika Jakarta diguncang bom dan tembakan di Jalan Thamrin pada 14 Januari 2016 lalu. Saat itu, Wakapolri Komjen Budi Gunawan yang memimpin olah TKP untuk pertama kali. Badrodin sendiri sedang berada di Singapura untuk membicarakan penanganan terorisme di Indonesia.

Terpisah, Menkopulhukam Wiranto dalam keterangan persnya pagi tadi mengingatkan agar semua pihak tak lengah dan selalu waspada dalam aksi terorisme. Terlebih, Indonesia akan menghadapi sejumlah event besar. Yakni, Pilkada Serentak 2018, Pileg dan Pilpres 2019, Asian Games, serta pertmuan IMF-Bank Dunia di Bali tahun ini.

"Negeri ini butuh stabilitas apalagi kita sedang menghadapi tahun-tahun demokrasi yang sangat kritis yang sangat penting. Ini butuh stabilitas untuk ketenangan dan rasa aman," tegasnya.

Wiranto tidak mau menyalahkan, tapi memang hal ini harus menjadi perhatian seluruh kementerian dan lembaga terkait. "Kita tidak perlu saling menyalahkan, tapi jadi kewaspadaan kita untuk melawan aksi terorisme dan radikalisme," pungkasnya dengan raut wajah yang serius.

(dna/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Keluarga Beny Syamsu Gelar Pengajian 10/05/2018, 15:45 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up