JawaPos Radar

Kombes Indra Jafar Ungkap Kisah di Balik Menjadi Muazin 212

10/03/2018, 20:52 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Kombes Indra Jafar Ungkap Kisah di Balik Menjadi Muazin 212
Kombes Indra Jafar (Fazri/Radarcirebon.com/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Nama Indra Jafar sempat dikenal saat menjadi muazin Salat Jumat di Aksi 212 di Monas 2016 silam. Saat itu, Indra Jafar masih menjabat Kapolres Cirebon Kota dengan pangkat AKBP. Kini, Kombes Indra Jafar menjabat Kapolres Metro Jaksel dari sebelumnya Kabid Propam Polda Jawa Timur.

Kepada JawaPos.com, Indra bercerita terkait pengalamannya tersebut. Dia mengaku, hal itu merupakan spontanitas, bukan suruhan dari panitia.

"Saya memang dekat dengan beberapa ulama. Saat itu ada ulama-ulama yang merekomendasikan saya untuk mengumandangkan azan. Karena saat saya bertugas sebagai Kapolres Cirebon Kota, saya suka azan di masjid atau musala di wilayah Cirebon Kota," ungkap Indra saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (10/3).

Dia mengaku, bukan lulusan sebuah pesantren. Meski demikian, dia mengingat sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan tentang agama.

"Sebenrnya tidak tapi ketika saya kecil sudah diajarkan orang tua mengaji. Ikut kegiatan taklim di masjid itu dari kecil. Target orang tua juga adalah anak-anaknya bisa mengaji. Memang hanya orang tua yang mengajarkan," ceritanya.

Dia juga mengaku bahwa orang tuanya ingin anak-anaknya tetap memegang teguh agama.

"Sebelum masuk Akpol seminggu dua kali ngaji terus, bahkan dipanggilkan guru ngaji. Orang tua juga seorang Purnawirawan TNI AD, meski dengan biaya yang minim beliau tetap memanggilkan guru ngaji," kenangnya.

Terkait Aksi 212, Indra mengatakan saat itu Ustad Arifin Ilham yang meminta dirinya untuk mengumandangkan azan.

"Memang dekat dengan Ustad Arifin Ilham. Cuma waktu itu dia yang spontan 'wah abangkan yang suka azan di sana (Cirebon), nanti azan di sana ya (212)'gitu. Ketika itu beliau berkoordinasi dengan panitia acara 212 itu, dan mereka setuju dan ketika hari H saya azan," tukasnya.

Indra menegaskan, bahwa dirinya tidak ingin ditinggikan. Dan yang azan tidak harus seorang muazin dari pesantren atau petugas masjid. "Bahwa dengan pangkat kita harus tetap mau menjadi muazin. Bukan gila untuk diharmoti justru saya senang dengan kondisi apa adanya, yang biasa-biasa saja," pungkasnya.

(ipy/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up