alexametrics

40 Bangunan Sepanjang Jalur MRT Jadi TOD

1 Agustus 2017, 07:35:51 WIB

JawaPos.com – Konsep bisnis dan operasional mass rapid transit (MRT) Jakarta jauh berbeda dengan moda transportasi massal existing. Keberadaan angkutan massal ini memberikan efek bisnis sangat besar terhadap bangunan yang berada di sekitar stasiunnya.

Hingga kini sudah ada 40 bangunan komersil sepanjang jalur underground (bawah) dan elevated (layang) yang sudah melakukan kesepahaman untuk menjadi akses stasiun.

Dirut Utama (Dirut) Dirut PT MRT Jakarta William Sabandar mengungkapkan, ke depan pengelolaan transportasi angkutan massal berbasis Transit Oriented Development (TOD).

40 Bangunan Sepanjang Jalur MRT Jadi TOD
Dirut PT MRT Jakarta William Sabandar saat diwawancara wartawan JawaPos.com, Ilham Safutra. (Dery Ridwansyah/ Jawa Pos)

Dengan demikian PT MRT Jakarta akan menggandeng pengelola building di wilayah Jakarta untuk membangun pintu keluar yang mengarah masuk ke dalam properti itu sendiri. Jumlahnya ada 40 propertis. Tujuannya selain untuk mengurai kepadatan lalu lintas karena penumpukan penumpang yang keluar dari stasiun, juga memberikan nilai bisnis terhadap propertis tersebut.

“Building di sekitar stasiun yang menyediakan akses keluar gedung akan mendapatkan tingkat kunjungan konsumen lebih banyak. Tentunya akan bisa memberikan revenue bisnis tambahan,” sebut mantan Satgas untuk Percepatan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (P2EBT) di Kementerian ESDM ini.

Jika kerjasama telah disepakati, kata Willy, akan dikerjakan konstruksi pintu keluar bawah tanah untuk menembus ke building tersebut. Baik gedung, kantor, hotel, mall ataupun bangunan lainnya.

Selain terkoneksi dengan bangunan komersial, stasiun MRT juga langsung terhubungan pedestrian dan halte transjakarta. Penumpang MRT selain bisa mengakes propertis sekitar stasiun mereka mendapat pilihan untuk menyambung perjalanan mereka dengan TransJakarta. Hingga kini terdapat lima halte Transjakarta yang telah terintegrasi, yaitu Bundaran HI, Dukuh Atas, Sisingamangaraja, Blok M, dan Lebak Bulus.

“Nah kedepan kita lihat lagi apakah ada stasiun lain yang bisa terintegrasi. Tapi yang sekarang ini kalau kita lihat jalur yang memungkinkan. Di lima titik itu stasiun transjakarta sudah melekat dengan stasiun MRT,” tambahnya.

Nantinya pedestrian yang sekitar stasiun pun dilebarkan lagi. Sehingga bisa menampung para pejalan kaki. Pengguna moda MRT nanti tidak memiliki pilihan lain karena stasiun-stasiun MRT tidak memperbolehkan kendaraan berada di sekitarnya.

“Karena kan motor gak akan masuk ke sini lagi. Taxi nggak akan bisa parkir di sini (sekitar stasiun) karena memang tidak ada pemberhentian. Jadi ya satu-satunya opsi yang mereka punya itu adalah sambung Transjakarta, atau MRT atau masuk ke building begitu,” jelas Willy kepada JawaPos.com.

Beruntungnya untuk stasiun yang berada sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin tidak akan terganggu dengan kebedaraan ojek atau angkutan umum yang ngetem. Sehingga stasiun MRT tidak menjadi titik kemacetan.

Kondisi seperti ini jauh berbeda dengan stasiun KRL yang menjadi sumber kemacetan. Pasalnya di setiap stasiun akan terdapat pangkalan ojek online, ojek konvensional, angkutan umum ngetem ditambah pula dengan ruang pejalan kaki begitu sempit. Akibat pengguna jalan raya pun jadi terganggu.

“Kami memang sangat berharap adanya integrasi sempurna. Misalnya di sini nanti Transjakarta, jadi kita berharap keluar stasiun ke building,” pungkas peraih doktor geografi dari University of Canterbury, New Zealand ini.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (iil/cr3/JPC)


Close Ads
40 Bangunan Sepanjang Jalur MRT Jadi TOD