JawaPos Radar

Hasil Survei Pilgub Jatim 2018

Saifullah Yusuf Dibayangi Khofifah dan Risma

28/04/2017, 01:32 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Saifullah Yusuf Dibayangi Khofifah dan Risma
Peta Bursa Cagub-Cawagub Jatim (Grafis: Andrew Willy/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

Petahana yang maju dalam pilkada tidak selalu berbuah kemenangan. Belajar dari Pilkada DKI Jakarta, The Initiative Institute menyatakan bahwa incumbent bisa berada di posisi tak aman.

HAL itu disampaikan dalam pemaparan Kubus Rubik Pilkada Jawa Timur di Dapur Desa kemarin (26/4). Pemaparan tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil survei kriteria pemimpin Jatim yang disampaikan pada 1 Maret 2017. Sebelumnya, muncul empat nama kandidat terkuat yang diprediksi bertarung sengit di Pilgub Jatim 2018. Namun, berdasar hasil survei terbaru The Initiative Institute, hanya tiga nama yang muncul sebagai kandidat cagub paling potensial. Yakni, Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, dan Tri Rismaharini. Sementara itu, untuk Abdullah Azwar Anas yang sempat masuk unggulan, posisinya bergeser menjadi cawagub.

Ada temuan menarik dari survei pada 13–19 April tersebut. Meski menempati posisi tertinggi sebagai kandidat cagub, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul lebih condong dipilih sebagai cawagub. ’’Trade mark-nya sebagai Wagub masih lebih kuat di masyarakat,’’ ungkap CEO The Initiative Institute Airlangga Pribadi Kusman.

Konsultan politik itu menyurvei 956 responden dari 99 desa di sebelas daerah pemilihan (dapil). Sebanyak 33,17 persen responden memilih Gus Ipul sebagai cagub. Namun, ketika memasuki ranah cawagub, angka yang didapat Gus Ipul justru lebih besar. Yakni, 34,90 persen. Di sisi lain, Khofifah dan Risma mendapatkan persentase lebih besar sebagai cagub ketimbang cawagub (selengkapnya lihat grafis).

Selisih persentase elektabilitas tiga kandidat cagub terbilang tipis. Karena itu, Airlangga berpendapat, posisi Gus Ipul di peringkat pertama jauh dari kata aman. ’’Kalau kita belajar dari pilkada DKI, terbukti petahana tidak selalu menang,’’ ucapnya. Padahal, selama masa kampanye, popularitas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat cenderung lebih tinggi 10 persen daripada Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Airlangga menyebutkan, Gus Ipul mempunyai pekerjaan rumah besar untuk mengubah mindset masyarakat. Gus Ipul sendiri memiliki kekuatan besar dalam hal popularitas yang mencapai 82,8 persen. Hal itu tidak lepas dari peran media yang menyorot kinerjanya sebagai Wagub selama dua periode terakhir. Apalagi, tingkat pembangunan selama dia menjabat cukup tinggi.

Sementara itu, dua tokoh yang menempati posisi teratas sama-sama berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU). Posisi keduanya yang sama kuat dikhawatirkan bisa memecah suara NU di Jawa Timur. NU pun memiliki persentase suara terbesar, yakni 78 persen. Sisanya datang dari golongan nasionalis Soekarno, Muhammadiyah, dan nasionalis Soeharto.

Airlangga menekankan agar partai politik segera menentukan sikap. Sebab, baru publik dan konstituen yang kecenderungannya terlihat saat ini. ’’Parpol masih malu-malu kucing,’’ ungkapnya. Padahal, berdasar data yang diperoleh The Initiative Institute, indeks harapan publik terhadap dukungan partai cukup tinggi, yakni 0,10 poin. Dengan kata lain, publik mengharapkan cagub potensial mendapat back-up politik. ’’Ini bisa meningkatkan antusiasme masyarakat dalam memilih,’’ tuturnya.

Selain Gus Ipul dan Khofifah, terdapat nama-nama lain dari NU yang potensial mengisi kursi cawagub. Antara lain, Azwar Anas dan Hasan Aminuddin. Meski beberapa tokoh terkuat datang dari kalangan yang sama, Airlangga menyarankan agar tidak terjadi pencalonan tunggal. ’’Banyak nama calon dan angkanya bersaing, kebangetan kalau Jatim hanya punya calon tunggal,’’ katanya. (deb/c20/oni/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up