JawaPos Radar

Air Lebih Lancar dan Bersih, Pelanggan PDAM Beralih ke Hippam

26/09/2017, 18:02 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Warga Desa Metatu, Benjeng, mengambil air di danau desa akibat musim kemarau berimbas kekeringan
DAMPAK KEMARAU PANJANG: Umu Kholifah (dua dari kanan) bersama putrinya, Mina (kanan), mengambil air telaga Desa Metatu, Benjeng, yang volumenya menyusut dan keruh. (Eko Hendri/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Keberadaan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam) pedesaan sangat membantu masyarakat mendapatkan air bersih. Terutama saat musim kemarau. Hippam menjadi solusi dalam mengatasi ancaman kekeringan.

Bahkan, sejak Hippam masuk desa, banyak warga yang beralih pemakaian air. Yang sebelumnya berlangganan PDAM kini beralih ke Hippam. Fenomena itu, antara lain, terjadi di Desa Manyar Sidorukun, Kecamatan Manyar. ’’Sudah tiga bulan ini saya menggunakan air Hippam,” kata Imam, salah seorang warga.

Selain lancar, kata dia, air Hippam di desanya cukup bersih. Bisa untuk mandi, mencuci, dan minum. Di sisi lain, harganya pun relatif murah. Yaitu, sekitar Rp 2 ribu per meter kubik (m3). Rata-rata dia membayar Rp 18 ribu per bulan. ’’Yang terpenting, airnya lancar. Selama kemarau, airnya ngalir terus,” tuturnya.

Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam)
Keunggulan Hippam (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Di rumah Imam masih terpasang meteran PDAM. Namun, setahun belakangan, ungkap dia, air milik BUMD tersebut tidak pernah mengalir. Kepala Desa Manyar Sidorukun Su’udin membenarkan bahwa banyak warganya yang beralih dari PDAM ke Hippam. Hampir seribu kepala keluarga (KK) di 17 rukun tetangga (RT) sudah menggunakan ’’PDAM lokal” itu. ’’Selain murah, airnya juga lancar,” kata Su’udin.

Hal serupa terjadi di Desa Leran. Kepala Desa Abdul Manan mengungkapkan, di antara lima dusun di wilayahnya, sudah tiga dusun yang menggunakan Hippam. Sumber airnya berasal dari sumur bor yang dialirkan ke rumah-rumah warga melalui jaringan pipa. ’’Tidak perlu PDAM lagi,” ujar Abdul Manan.

Pengelolaan Hippam yang bagus juga ada di Desa Kesamben Wetan, Driyorejo. Selain bermanfaat mengatasi kekeringan, Hippam telah menjadi badan usaha milik desa (BUMDes) yang potensial.

Sebab, omzetnya mencapai Rp 20 juta per bulan. ’’Kuncinya, Hippam harus dikelola dengan profesional,” ujar Kepala Desa Kesamben Wetan Munasim Syafi’i.

Di tempat terpisah, Direktur Utama PDAM Muhammad mengapresiasi keberadaan Hippam. Dia mengatakan tidak merasa tersaingi. Bahkan sebaliknya. ’’PDAM merasa terbantu dengan adanya Hippam,” ujarnya.

Hippam, lanjut Muhammad, membantu jangkauan layanan air bersih. Apalagi saat musim kemarau seperti saat ini. Dia pun setuju dengan pengembangan Hippam di seluruh desa. Itu sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) hingga 2021. Yakni, hingga 2021, Gresik harus 100 persen teraliri air bersih.

Di sisi lain, gerimis membasahi kawasan Desa Metatu, Benjeng, kemarin. Tetesan air membuka harapan masyarakat. Mereka ingin sumber air segera terisi. Sebagian masyarakat Desa Metatu masih menggantungkan kebutuhan air dari telaga di belakang pasar Metatu. Air dimanfaatkan untuk mencuci dan mandi sejak puluhan tahun lalu. Air telaga digunakan karena keterpaksaan. Sebab, air PDAM sulit masuk.

Sementara itu, masyarakat kesulitan dengan biaya pengeboran sumur karena biayanya mahal. ’’Kami sudah terbiasa mandi dengan air telaga. Susahnya kalau kemarau,’’ tutur Umu Kholifah sambil menciduk air telaga. Menurut Umu, kemarau panjang membuat kondisi air telaga jauh dari kata layak pakai.

(mar/hen/c10/dio)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up