JawaPos Radar

Beberapa Tempat Alternatif Relokasi PKL Eks Bundaran GKB

26/07/2016, 19:32 WIB | Editor: diojepe
Beberapa Tempat Alternatif Relokasi PKL Eks Bundaran GKB
KOMIT TERTIB: Aktivitas pedagang pasar pagi di kawaan Perum Pondok Permata Suci. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com GRESIK – Pemkab Gresik dan pengembang Perumahan GKB mencarikan solusi bagi ratusan PKL pasca penertiban. Dinas koperasi dan perdagangan menyiapkan sebagian lahan di bekas Subterminal Randuagung. PT Bumi Lingga Pertiwi menawarkan lahan di Pondok Permata Suci. PKL diseleksi dan janji harus tertib.

Penyediaan lahan di bekas Subterminal Randuagung merupakan langkah darurat. Sebab, lahan itu sebenarnya sudah diplot untuk pedagang yang selama ini tercatat di Dinas Koperasi, Perdagangan, Perindustrian, dan UKM (Diskoperindag-UKM) Gresik. Di situ akan dibangun pujasera. Nah, eks PKL GKB-Jalan Sumatera boleh bergabung.

Kepala Diskoperindag M. Najikh menyatakan akan tetap membantu memikirkan solusi untuk mereka. Namun, lahan di Randuagung tersebut terbatas. Karena itu, PKL akan didata dan diseleksi. ”Sebenarnya tanggung jawab kami hanya PKL di pujasera GKB karena memang resmi,” kata Najikh.

Jika masih ada tempat, tambah Najikh, diskoperindag memberikan kesempatan kepada eks PKL bundaran GKB untuk masuk ke sentra tersebut. ”Mungkin masih ada sisa stan. Nah, itulah yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

Menurut rencana, sentra PKL baru Randuagung berisi 90 stan. Stan-stan itu diprioritaskan bagi eks penghuni pujasera GKB. Jumlahnya diperkirakan 30 orang. Nah, sisa sekitar 60 stan akan dibagi untuk PKL yang kini berjualan di subterminal plus eks PKL di bundaran GKB.

”Satu lagi, akan ada prioritas bagi PKL yang asli Gresik atau yang sudah lama menetap,” tegas Najikh.

PT Bumi Lingga Pertiwi (BLP), developer GKB, juga tidak mau tertinggal mencari win-win solution. Yaitu, lahan pasar tradisional di Perum Pondok Permata Suci (PPS). Di sana, ada pedagang lain yang lebih dulu mencari nafkah. ”Prinsipnya, kami berusaha mencari solusi. Pasar itu alternatif terbaik yang bisa kami berikan saat ini,” jelas Dirut PT BLP Rahmat Ridlo kemarin. Solusi untuk pedagang dari bundaran GKB akan melihat kondisi lahan dan pedagang di PPS. Ada kemungkinan lahan tidak cukup.

Para pedagang di PPS pun mendengar rencana relokasi sebagian bekas PKL bundaran GKB. ’’Dulu, sebenarnya sudah diarahkan ke sini (pasar PPS, Red). Tapi, banyak yang nggak mau,” ujar Wahyudin, salah seorang pedagang. Dia mengaku heran para PKL eks GKB ramai-ramai pindah ke PPS. Sebab, kondisi di PPS sudah enak.

Menurut pedagang asal Manyar itu, jumlah pedagang bakal bertambah banyak. Persaingan pun semakin ketat. Yang paling mencolok, persaingan para pedagang kuliner. Jumlah pedagang makanan sudah cukup banyak. ”Jadi, tetap ada kekhawatiran,’’ tuturnya.

Meski demikian, secara prinsip, pedagang menerima keputusan relokasi itu. Mereka bahkan mendukung. Syaratnya, pengelola harus lebih memperhatikan penataan. Para pedagang di PPS telah berkomitmen untuk selalu tertib. Jualan tidak boleh dilakukan di area parkir. Apalagi seenaknya sendiri. Penataan penting karena lokasi berada di area perumahan.

Para pedagang setempat juga telah berkomitmen menjaga kebersihan. ’’Mungkin, pedagang baru bisa disisipkan pada waktu malamnya. Kalau siang, kami pikir sudah penuh,’’ tutur Wahyudin. Saat ini, kata dia, pasar perumahan PPS memiliki 200 lapak. Pedagang cukup membayar Rp 3 ribu per hari. Sebagian besar pedagang sayur. Pasar buka pagi dan malam.

Warga Perum PPS juga minta komitmen tertib dan bersih itu. Sebab, saat ini ada saja pedagang yang tidak tertib. Mereka berjualan seenaknya, di pinggir jalan atau trotoar. ’’Saya heran. Padahal, jelas-jelas ada papan larangan berjualan,’’ tutur Herman, warga perumahan. Jadi, pengelola harus lebih ketat menata dan mengawasi. (ris/hen/roz)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up