JawaPos Radar

Tenaga Bongkar Muat Pelabuhan Tanjung Perak Mogok Kerja

25/10/2016, 12:35 WIB | Editor: admin
Tenaga Bongkar Muat Pelabuhan Tanjung Perak Mogok Kerja
(Thoriq Sholikul Karim/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Aktivitas bongkar muat di Terminal Jamrud, Pelabuhan Tanjung Perak, kemarin (24/10) terganggu. Sebab, tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di terminal tersebut mengadakan aksi mogok kerja.

Mereka memprotes sistem honorarium berdasar presensi yang diterapkan PT Pelindo III. Lebih dari 100 orang tenaga kerja berkumpul di terminal tersebut. Mereka tidak melaksanakan aktivitas seperti biasanya.

Ada yang hanya duduk-duduk, ada pula yang berdiri santai. Mereka meminta kebijakan yang diterapkan PT Pelindo III diubah. Menurut rencana, hari ini tenaga kerja masih melangsungkan mogok tersebut.

Abdul Salam, koordinator aksi, mengatakan bahwa sistem honorarium berdasar presensi merupakan kebijakan sepihak. Pihak tenaga kerja tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan.

Idealnya, PT Pelindo melibatkan asosiasi perusahaan bongkar muat Indonesia, otoritas pelabuhan, serta perwakilan pekerja. ”Sayangnya, perwakilan pekerja tidak dilibatkan,” ucapnya.

Mereka juga menolak PT Pelindo III cabang Tanjung Perak sebagai perusahaan bongkar muat. Alasannya, perusahaan itu bukan anggota asosiasi perusahaan bongkar muat Indonesia.

Padahal, salah satu persyaratan perusahaan bongkar muat harus menjadi anggota asosiasi tersebut. Aksi berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 16.00. Mediasi sempat dilakukan, tapi gagal.

Perwakilan PT Pelindo III tidak hadir. Polisi mengerahkan 350 personel untuk mengamankan tujuh lokasi bongkar muat di pelabuhan tersebut. Penjagaan itu bertujuan untuk memastikan aktivitas bongkar muat tidak terganggu.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Takdir Mattanete menegaskan, pelabuhan menjadi penyokong roda perekonomian Jawa Timur. Meski begitu, dia memastikan aksi mogok itu tidak sampai menghentikan aktivitas bongkar muat di terminal.

”Penjagaan dilakukan hingga situasi kondusif,” katanya. Berdasar informasi di lapangan, aktivitas bongkar muat membutuhkan tenaga 12 orang. Jumlah itu terdiri atas dua gang. Yakni, gang kapal dan gang darat.

Pada gang kapal, jumlah personel yang diterjunkan enam orang. Perinciannya, 1 orang ketua regu, 1 orang pemberi aba-aba, dan sisanya anggota. Gang darat hanya 5 orang. Perinciannya, 1 ketua regu dan sisanya anggota.

Namun, kenyataan di lapangan tidak demikian. Di antara enam orang yang ditugaskan, terkadang hanya empat yang hadir. Akibatnya, PT Pelindo III tidak mau membayar penuh honor tersebut.

Selanjutnya, perusahaan milik negara itu membayar dengan sistem presensi. Tenaga kerja yang absen tidak mendapat honorarium. Sistem itulah yang dikeluhkan tenaga kerja.

Humas PT Pelindo III Edi Priyanto mengatakan, setiap pengeluaran keuangan harus dipertanggungjawabkan. Honorarium diberikan kepada tenaga kerja yang hadir.

’’Kalau tidak hadir, ya tidak diberikan. Itu dilakukan agar bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. Dia juga menjelaskan, PT Pelindo III sudah menyiapkan tenaga cadangan untuk bongkar muat di terminal.

Aksi mogok memang menghambat aktivitas di lapangan. Tapi, bukan berarti kegiatan berhenti. ”Kami tetap layani agar roda perekonomian di Pelabuhan Tanjung Perak tidak lumpuh,” ucap dia. (riq/c6/oni/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up