JawaPos Radar

Desa Ini Mengentaskan Diri dari Kekeringan

Kemarau Panjang, Kucuran Air Tetap Kencang

25/09/2017, 18:00 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Pengelola Hippam Tirto Bening dengan gambaran alur distribusi air minum Desa Kesamben Wetan, Driyorejo, Gresik.
DISTRIBUSI: Kepala Pengelola Hippam Tirto Bening M. Imron menjelaskan alur distribusi air untuk seluruh warga Desa Kesamben Wetan. (Umar Wirahadi/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this

Puluhan desa masih gagal move on. Dari tahun ke tahun, kekeringan selalu melanda begitu kemarau tiba. Padahal, beberapa desa telah berhasil mengatasi kekurangan air. Itulah berkah himpunan penduduk pemakai air minum (hippam).

SUARA mesin diesel beradu dengan gemericik air yang tumpah di bak penampungan berukuran 4 x 3 meter. Air berasal dari sumur bor sedalam 110 meteran. Tidak hanya melimpah, air tersebut bahkan difilter sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga. Lancar lewat pipa.

Sejak 2011, penduduk Desa Kesamben Wetan merasa ayem. Berbulan-bulan musim kemarau pun, desa di wilayah Kecamatan Driyorejo itu tenang. Tidak ada lagi kesulitan air. Air bersih justru berlebih.

Bagaimana air bisa melimpah seperti itu? Desa yang puluhan tahun sebelumnya selalu kekeringan tersebut kini punya Hippam Tirto Bening. Itulah badan usaha milik desa (BUMDes). ’’Sekarang, kapan pun air tetap ngalir,’’ kata Juwariyah, warga Kesamben Wetan.

Tandon Desa Sumari saat musim kemarau
MELOMPONG: Arief (tengah) melihat kondisi tandon di Desa Sumari. Air kering saat musim kemarau. (Adi Wijaya/Jawa Pos/JawaPos.com)

Perempuan 52 tahun tersebut menjadi pelanggan Hippam Tirto Bening mulai 2012. Sebulan, suplai air tercatat 25 meter kubik (m³). Harganya mencapai Rp 1.100 per m³. Jadi, Juwariyah cukup membayar Rp 27.500 per bulan. Cukup terjangkau. ’’Yang paling penting, airnya bagus. Bisa diminum juga,’’ tutur ibu dua anak tersebut.

Kepala Pengelola Hippam Tirto Bening M. Imron menyatakan, hampir seluruh penduduk desa menjadi anggota hippam. Yaitu, 100 persen dari 1.400 kepala keluarga (KK). ’’Sebagian kecil tidak langganan karena memang punya sumur sendiri,’’ ungkapnya.

Seluruh kebutuhan air sehari-hari terpenuhi. Mulai mandi, mencuci, sampai minum. Hippam Tirto Bening mampu memproduksi 20 ribu m³ air bersih per bulan. Bagaimana waktu kemarau? Hanya terjadi sedikit penurunan. Dari 20 ribu menjadi 17 ribu m³ per bulan.

Penurunan itu tidak banyak berpengaruh. Suplai air ke rumah-rumah warga tetap lancar. ’’Air tetap aman. Silakan tanya warga. Mereka senang,’’ ujar Imron.

Kepala Desa Kesamben Wetan Munasim Syafi’i menjelaskan, hippam di desanya merupakan bantuan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Gresik. Bantuan utama berupa sumur dan bak penampungan. Selebihnya, jaringan pipa bawah tanah yang tersambung ke rumah warga diupayakan pemerintah desa. ’’Kami manfaatkan anggaran dana desa,’’ jelas Munasim.

Panjang jaringan pipa yang dipasang lebih dari 3.000 meter. Agar mudah tersambung, jaringan pipa menjangkau seluruh perkampungan dan gang-gang kecil. ’’Jadi, meski kemarau, air aman untuk seluruh desa,’’ tandas Munasim. Tinggal buka keran, air langsung mengucur. Segar.

60 Persen Penduduk Dapat Jatah
KEKERINGAN pernah menjadi momok bagi Desa Sumari, Kecamatan Duduksampeyan. Lebih dari 3 ribu penduduk desa sulit mendapatkan air bersih. Kondisi itu berlangsung puluhan tahun.

Pada 1982, Pemprov Jawa Timur membangun tandon besar di tengah sawah warga. Kepala Desa Sumari M. Arief Wijaya menyatakan, warga tidak pernah kekurangan air lagi sejak itu.

Tandon bantuan pemprov berukuran 6 x 6 meter dengan kedalaman 8 meter. Dari tandon, air didistribusikan melalui pipa besar sebagai penyalur utama. Setiap rumah memiliki saluran air yang terhubung dengan pipa utama. ”Mirip PDAM, tapi tidak bayar,” jelasnya.

Volume air di tandon selalu berlebih. Airnya kerap meluber. Padahal, kebutuhan setiap rumah sudah terpenuhi. Karena dianggap melebihi kebutuhan, pemprov membaginya ke desa-desa yang lain, tetangga Desa Sumari. Misalnya, Desa Tebaloan dan Samirplapan.

Pada 1990, dibangun saluran air besar untuk mendistribusikan air. Namun, setelah dibagi ke beberapa desa, sumber air tiba-tiba mampet. Tidak ada yang tahu penyebabnya. ”Yang jelas, sejak saat itu hingga sekarang, air sumber hanya keluar sedikit,” tutur Arief.

Menurut dia, di antara 530 kepala keluarga, hanya 10 persen yang mendapat pasokan air dari tandon. Itu pun tidak setiap hari. Ketika kemarau, warga bergantian mengambil jatah. Sejak itu, Desa Sumari hampir selalu kekeringan. Mereka harus membelinya dari pedagang air gerobak sampai tangki.

Pada akhir 2015, Arief baru terpilih menjadi Kades. Setahun berikutnya, dia memutar otak. ”Akhirnya mendapat bantuan dari Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) berupa perbaikan tandon dan sumber air,” ungkap lelaki kelahiran 1983 tersebut.

Sudah dua tahun terakhir ini, air bersih telah menjangkau 60 persen penduduk desa. ”Minimal bisa mengurangi beban warga,” lanjut Arief. Sisanya akan terus diupayakan. Seluruh warga harus kebagian air. ”Bertahap, yang penting terus diupayakan,” ungkap alumnus Universitas Merdeka Malang itu.

(mar/adi/c14/c24/roz)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up