alexametrics
Mencicipi Jejak Manis Pabrik Gula di Kota Delta (3)

Sudah Dicat Pink Tetap Bikin Merinding

Mesin Usang Ingin Terus Bernapas
25 Januari 2017, 19:59:56 WIB

Sejak berdiri pada 1850, ejaan namanya memang tidak berubah. Tetap menggunakan ejaan lama ’’oe’’ yang dibaca ’’u’’.

ARISKI PRASETYO – CHANDRA SATWIKA

SETELAH puas berkeliling Pabrik Gula (PG) Candi Baru dengan menumpang lori atau kereta pengangkut tebu yang ditarik traktor, perjalanan kami berlanjut ke PG Toelangan. Pabrik peninggalan era kolonial Belanda itu berlokasi di Jalan Raya Tulangan. Di sebelahnya, membentang sungai besar. Warga menyebutnya Sungai Nuntung.

Sudah Dicat Pink Tetap Bikin Merinding
SAKSI BISU: Foto dokumentasi di Stasiun Listrik Pabrik Gula Toelangan. (Repro Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)

Bangunan pabrik berdiri megah. Di seberangnya, terdapat kantor dan rumah dinas para pimpinan perusahaan. Sampai di PG Toelangan, kami langsung menuju kantor. Kedatangan kami disambut hangat oleh Humas PG Toelangan Sigit Purwansyah. Setelah berbincang sebentar, Sigit mengajak kami menuju sebuah komputer untuk melihat arsip foto lawas pabrik gula itu.

Ada sekitar 10 foto PG Toelangan ’’tempo doeloe’’. Semuanya hitam putih. Salah satunya, foto pimpinan pabrik bersama keluarga besarnya. Mereka tampak mengenakan setelan jas dan berfoto di bawah pohon beringin yang tumbuh di sekitar kantor. Hasil jepretan lain menunjukkan bagian depan PG Toelangan. Ketika itu, rel lori masih memenuhi halaman depan pabrik.

Berbekal foto tersebut, kami menelusuri spot-spot foto yang sempat diabadikan. Kami ingin membandingkan, kondisi saat itu dan sekarang. Apakah ada perubahan yang besar. Dengan modal foto yang di-print, kami bergerak menuju titik tersebut.

Spot pertama adalah halaman sekitar kantor. Dalam foto lawas di tangan kami, ada lebih dari sepuluh orang yang berkumpul di bawah pohon beringin. Tidak ada keterangan pasti siapa saja mereka. Kami menemukan titik itu. Tepatnya di sebelah kiri kantor. Tampak sebatang pohon beringin besar. Lekukan ranting pohon tersebut sama persis dengan yang ada di foto.

Spot kedua adalah bagian depan pabrik. Dalam foto digambarkan bahwa dulu halaman depan pabrik merupakan rerumputan. Di atasnya terpasang puluhan rel lori. Saling crossing. Rel itu menuju ke stasiun gilingan. Ada juga empat gedung putih yang berdiri kukuh. Atapnya lancip dengan ornamen bulatan di tembok atas. Selain itu, terdapat tandon air.

Saat ini kondisinya berbeda. Rel lori jauh berkurang. Hanya tinggal lima rel. Sisanya sudah berubah tertutup aspal. Di dekat bangunan besar, terdapat taman kecil serta pepohonan beringin. Kesan sejuk terlihat. Sigit mengatakan bahwa bangunan baru tersebut membuat pabrik tampak segar. ’’Selain itu, tebu yang diangkut lori terlindung dari panas matahari,’’ paparnya.

Chandra, fotografer Jawa Pos, berusaha mencari angle yang pas. Yang sama dengan foto lawas di tangannya. Dia berjalan mondar-mandir untuk mencari titik yang sesuai gambar. Tangan kiri membawa guntingan foto, sedangkan tangan kanan memegang kamera. Klik. Klik. Klik. Pemotretan itu berlangsung cukup lama. ’’Sekarang ada pohon, jadi susah menentukan angle-nya,’’ ucapnya.

Penelusuran pun berlanjut. Kami masuk ke stasiun listrik. Ruangan itu tampak temaram. Petugas harus menyalakan lampu terlebih dahulu untuk menerangkan ruangan. Tampak puluhan panel listrik berbentuk kotak besar berbaris di ruangan itu. ’’Ruangan ini merupakan sentral listrik di PG Toelangan,’’ ucap salah seorang karyawan pabrik Imam Wahyudi.

Di ruangan tersebut, kami ingin memotret sebuah alat. Entah apa namanya. Di gambar, alat itu tampak besar. Orang Belanda berkemeja berdiri di sampingnya. Kami cari-cari, ternyata alat itu sudah tidak ada. Imam mengatakan, alat tersebut sudah digantikan dengan alat lain.

Beranjak ke stasiun besali. Namanya tampak asing. Awalnya saya mengira itu istilah Belanda. Maklum, PG Toelangan merupakan warisan Negeri Kincir Angin. Sayangnya, tebakan awur-awuran tersebut memang salah. Eee, ternyata besali itu akronim dari bengkel segala lini. ’’Disingkat biar mudah dihafal,’’ tutur Imam, lantas tertawa.

Sesuai dengan namanya, besali, bengkel tersebut berfungsi memperbaiki semua mesin. Baik mesin giling, ketel, maupun apa saja. Jika ada kerusakan, mesin langsung dibawa ke besali utnuk diperbaiki. Istilah kekiniannya adalah workshop.

Di besali, satu mesin utama menggerakkan seluruh mesin. Mesin utamanya terdiri atas roda-roda besar. Roda tersebut terhubung dengan sebuah besi panjang. Nah, besi itu yang bertugas menggerakkan mesin di dalam bengkel. Salah satunya, mesin bubut. Gambar yang kami dapatkan menujukkan aktivitas di dalam pabrik. Enam pegawai mengenakan kopiah serta belangkon berpose di tempat itu. Dilihat dari pakaian serta gayanya, mereka adalah pekerja pabrik.

Penelusuran berlanjut ke stasiun penggilingan akhir tebu. Mesin itu tersusun dari pelat besi. Posisinya miring. Ampas tebu yang sudah digiling masuk ke mesin tersebut. Lantas menuju ke bawah. Kondisi mesin itu tampak masih terawat. Persis seperti di foto zaman dulu.

Jumlah mesin giling di Toelangan sebanyak lima buah. Berbeda dengan pabrik gula lain yang rata-rata hanya empat. Menurut Imam, dengan lima mesin, pabrik akan mendapatkan perasan tebu yang maksimal.

Tempat berikutnya yang kami datangi paling mendebarkan. Banyak kisah tentang angkernya areal tersebut. Yaitu, terowongan bawah tanah. Lebarnya 5 meter dengan panjang kurang lebih 10 meter. Kondisinya gelap. Meski pihak pabrik sudah mengecatnya dengan warna pink, saat melintas di depan terowongan itu, bulu kuduk berdiri.

Bentuknya mirip dengan saluran asap di PG Candi Baru. Di atas terowongan itu, terdapat mesin ketel. Istilahnya, pawonan. Mesin bekerja dengan tenaga ampas tebu. Ada 10 pawonan. Semuanya masih digunakan. Di pintu ketel tersebut tertulis pabrik pembuatnya. Yaitu, Machine Fabriek Breda.

Tempat lain yang wajib dilihat tentu saja stasiun gilingan. Imam menyebutnya ’’roda gila’’. Disebut begitu lantaran bentuknya seperti roda besar. Ketika musim giling, roda yang tingginya hampir 2 meter itu akan berputar kencang.

Ada lima roda gila. Semuanya masih berfungsi baik. Di mesin tersebut, terdapat pelat besi yang menunjukkan tempat pembuatannya. Werkspoor Amsterdam 1927. Bahkan, ada yang lebih tua. Gebr Stork and Co. Hengelo 1920. Meski tua, PG Toelangan merawat mesin dengan baik. Mereka mengecatnya warna-warni. Bahkan, dibersihkan. Kesan kumal dan kotor pun tidak terlihat.

Lalu, kami bertolak menuju stasiun putaran. Untuk menuju ke sana, kami harus melewati stasiun masakan yang berisi pipa-pipa serta boiler stasiun penguapan. Tidak kalah dengan gilingan, stasiun masakan juga dicat dengan warna mencolok. Hijau muda.

Ada sekitar 20 mesin putaran. Fungsinya sebagai pemrosesan akhir gula. Kristal gula yang sudah terbentuk dipisahkan dari cairan yang menempel. Hasil akhirnya adalah kristal gula yang murni. Setelah itu, masuk pengepakan.

PG Toelangan memang masih mempertahankan mesin lama. Misalnya, penggilingan, pawonan, dan putaran. Tak heran, hasil yang didapatkan tidak maksimal. Setiap kali giling, pabrik itu hanya bisa menggiling tebu kurang lebih 1.200 ton per hari.

Pemerintah melihat performa PG Toelangan belum membaik. Mereka menganggap pabrik tidak efisien. Bahkan, ada kabar yang menyebutkan bahwa pabrik segera ditutup lantaran tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Kewenangan untuk menutup memang ada di tangan pemerintah. Namun, setidaknya pemerintah harus berpikir panjang terlebih dahulu. PG Toelangan sudah lama menghidupi masyarakat Sidoarjo. Ada sekitar 500 orang yang menggantungkan hidupnya pada proses pembuatan gula. Selain itu, menutup PG Toelangan dikhawatirkan akan menghapus satu lagi heritage di Kota Delta. Pabrik yang sudah berdiri lebih dari seabad tersebut merupakan peninggalan yang harus dilestarikan.

PG Toelangan memang sangat legendaris. Bahkan, tokoh sastra besar sekaliber Pramoedya Ananta Toer sempat menjadikan pabrik gula itu sebagai salah satu setting novelnya. Bumi Manusia, judul novel itu, terbit pada 1980.

’’Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.’’ Kutipan yang mempunyai makna sangat mendalam itu disampaikan Nyai Ontosoroh, salah seorang tokoh utama dalam roman Bumi Manusia. Banyak yang menyebutkan, perempuan yang jadi istri simpanan Belanda itu berasal dari Tulangan, Sidoarjo. Ayahnya adalah juru tulis pabrik gula di Tulangan.

Dalam tulisannya, Pram menggambarkan Tulangan merupakan salah satu wilayah Sidoarjo yang kaya tanaman tebu. Di kanan-kiri banyak tanaman tebu menghampar. Bisa jadi, itu memang benar. Keberadaan pabrik gula menjadi bukti bahwa Tulangan dulu pernah menjadi salah satu sentra andalan penghasil gula di Kota Delta. (*/c7/pri/sep/JPG)

Editor : Suryo Eko Prasetyo


Close Ads
Sudah Dicat Pink Tetap Bikin Merinding