“Menikmati” Surabaya dengan si Mercy Tua, “Om Telolet Om” pun Tak Sanggup

23 Desember 2016, 11:19:00 WIB

Kota metropolis boleh maju pesat. Namun, hingga hari ini masih banyak bus uzur yang berkeliaran di jalan-jalan. Selain jauh dari kata nyaman, bus-bus tersebut menyumbangkan polusi ke udara. 

 

JawaPos.com –  Warga Surabaya pasti mengenali tipikal bus kota milik Perusahaan Umum (Perum) DAMRI yang satu ini. Wujudnya. Kontur bodinya kaku. Dengan bingkai kembar di kaca depan. Lampunya kotak dengan sein kecil di kanan-kiri. Ciri yang paling khas adalah kursi plastik biru. Keras tanpa busa. Sama seperti kursi di ruang tunggu halte bus.

Emblem berupa bintang tiga dalam lingkaran masih tersisa di muka bus. Simbol pabrikan otomotif terkenal dari Jerman, Mercedes-Benz. Bus itu adalah seri O 325 yang dikembangkan oleh Mercedes pada 1968. Jika masih beroperasi hingga hari ini, berarti bus tersebut sudah berusia 48 tahun. Sekitar separo dari angka harapan hidup manusia. 

Di dalam bus itu, drama kehidupan terjadi. Simbol kepasrahan masyarakat menerima standar terendah dari pelayanan bus. 

Saat melaju, hampir semua bagian bus terus bergetar sepanjang perjalanan. Mulai kaca jendela, pintu yang tidak rapat, atap tripleks, sampai kursi penumpang. Kalau kebetulan sedang melintasi persimpangan rel, speed trap, lubang, apalagi dalam kondisi penumpang kosong, getaran semakin terasa. 

Suaranya berpadu dengan suspensi roda yang berkeriutan seperti kekurangan minyak. Misalnya, yang turut dirasakan Jawa Pos saat menaikinya Selasa (20/12).

Interior bus juga khas. Dinding-dinding besinya kadang tanpa penutup karet. Dilapisi dengan cat besi. Biasanya berwarna biru. Kalau kita mengeruk sedikit saja dengan kuku, serpihan-serpihan karat akan berjatuhan ke lantai bus.

Aspal di bawah bus bisa diintip lewat lubang-lubang kecil di lantai bus. Mengalir seperti air sungai. Atapnya ditutup tripleks yang biasa dibuat papan whiteboard. Ventilasi udaranya adalah lubang palka yang sulit ditutup ketika hujan. Ada juga beberapa lampu yang casing-nya sudah hilang. Meninggalkan kabel dan bohlam kecil.

Dari luar, bus tersebut juga tak punya kegagahan dan wajah elok bus-bus era sekarang yang punya lampu berpendar-pendar. Klakson bus Damri itu juga bersahaja. Hanya suara tot yang berat. Bisa jadi, sekadar diminta Om Telolet Om  mereka pun tak sanggup… 

Namun, masyarakat yang menggunakan jasa bus zaman susah itu seakan sudah terbiasa. Mereka bisa tidur tenang dengan menyandarkan kepala ke kursi yang atos

Tetap terlelap meski kepala mereka dipermainkan ke kiri dan ke kanan. Sebagai pelengkap paduan suara yang dibuat oleh bodi dan deru mesin, ada bunyi kecrekan dan suara sumbang pengamen. Ada juga tangis anak kecil yang kegerahan. Untuk hidung, ada bonus asap kendaraan dari luar dan asap rokok di dalam. Ampunnn…

Di Surabaya, bus-bus itu kebanyakan ditugaskan untuk melayani rute Tanjung Perak-Bungurasih via tol. Kodenya P4. Dulu pada era 2000-an, Mercedes O 325 hampir menguasai seluruh rute bus kota di Surabaya. 

Sekarang DAMRI memilih untuk mengoperasikan bus yang lebih baru di dalam kota. Tapi, O 325 tetap dioperasikan khusus untuk rute "pinggiran" itu. Sebagian besar yang menggunakan bus tersebut tentu masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan tujuan rata-rata ke Pulau Garam, Madura. 

Namun, beberapa bus tampaknya sudah melalui modifikasi. Misalnya, yang dinaiki Jawa Pos. Mercedes O 325 itu berkursi busa. Meski kulit pembungkusnya sudah robek di sana-sini dan beberapa pernya mengintip keluar. Lantainya juga baru. 

Sang kernet yang kemudian diketahui bernama Mukti Wibowo mengatakan bahwa bus itu tidak pakai kursi yang atos lagi. "Kalau pakai kursi itu, kaki bisa sakit. Jarak antar kursinya sempit," katanya. Betul juga. Dengan kursi plastik, kaki selalu tertekuk. Dengkul selalu mencium punggung kursi bagian depan. Kalau kena getaran, alamak…

Hari itu, Umsiyah sedang dalam perjalanan pulang dari liburan di Jombang menuju rumahnya di Socah, Bangkalan. Duduk di deretan kanan tengah. Ibu tersebut membawa empat anaknya. Tiga di antaranya masih kecil. Yang nomor tiga sejak tadi gelisah. Dia sedang tidak enak badan. 

Umsiyah berkali-kali mengoleskan minyak kayu putih ke perut bocah 4 tahun tersebut. Si anak beberapa kali mau muntah, namun gagal. Sambil terhuyung-huyung di koridor tengah bus, dia hanya meludah ke lantai. Ludahnya jatuh di antara serpihan kulit telur puyuh yang berserakan. 

Beruntung, seorang penumpang di kursi belakang menyodorkan kresek hitam. Di bus-bus ekonomi lawas, biasanya disediakan kantong-kantong plastik yang digantung di pegangan atap. Di bus itu kebetulan tidak ada. "Biasanya, dia tidak mabuk. Malah yang ini yang sering mabuk," kata Umsiyah sambil menunjuk anaknya yang kedua.

Menurut Umsiyah, bus seperti itu memang kurang nyaman. Terutama bagi anak kecil. Hanya, Umsiyah sudah terbiasa. Yang dia keluhkan cuma temperatur. Terutama saat bus keluar dari pintu tol Dupak dan masuk ke tengah-tengah kemacetan di Jalan Raya Demak. "Nggak ada AC-nya," keluhnya. 

Seorang kakek bernama Ishaq juga rupanya tengah kepanasan. Dua kancing baju bagian atasnya dilepas sambil berkipas-kipas dengan tangan. Bus masih melaju lambat sekali di tengah siang yang terik. "Dibilang enak ya enak, dibilang nggak enak ya gini (kondisinya, Red)," kata Ishaq saat dimintai komentar tentang perjalanan dengan bus tersebut. 

O 325 sudah uzur. Hal tersebut diakui para sopir dan kru DAMRI. Ungkapan itu terlontar saat Jawa Pos ikut nimbrung bersama mereka di pos kecil tempat timer dan pengumuman pemberangkatan bus Terminal Ujung, Tanjung Perak. "Itu bus tahun 80-an. Yang lebih tua dari itu juga masih ada," kata Joko, salah seorang sopir. 

Kawan Joko yang sedang berada di depan mik, Sidik Rokhim, menuturkan bahwa bus tersebut keluaran Jerman. Sangat klasik sampai-sampai para turis Jerman yang datang ke Surabaya menyempatkan untuk menaikinya atau berfoto di sampingnya. "Turis-turis itu malah cari bus yang paling lawas," katanya. 

Akan tetapi, menurut Sidik, DAMRI di Surabaya terhitung paling telaten merawat bus tua. Terbukti, bus-bus tersebut masih bisa beroperasi dengan normal. Di kota-kota lain, bus-bus lawas seangkatan si O 325 sudah berakhir di tangan para rombeng. "Bus kota rata-rata sudah dilelang," tuturnya. 

Sepengetahuan Sidik, di garasi DAMRI Jagir, O 325 masih mendapatkan perawatan rutin. Onderdilnya juga masih tersedia. 

Apakah semua O 325 sudah memakai kursi busa? Menurut mereka belum. Masih ada beberapa bus yang masih memakai kursi plastik atos tersebut. Terutama yang melayani jalur Tanjung Perak-Bungurasih via tol. "Jik akeh (masih banyak, Red)," seloroh Saiful Abidin, salah seorang sopir. Jawa Pos kemudian mengikutinya bergegas menuju Mercedes O 325 nomor 27 jurusan Bungurasih yang sudah saatnya berangkat. 

Si tua berdahi lebar itu perlahan melaju meninggalkan Terminal Ujung dengan asap pekat dan lolongan knalpot mengikutinya dari belakang. (Taufiqurrahman/c6/dos) 

 

Editor : Thomas Kukuh

Saksikan video menarik berikut ini: